Kolom Ganggas Yusmoro: WASPADAI STRATEGI MEMBAKAR RUMAH

0
318

Tahun politik sudah mulai hangat. Gelagatnya mulai memanas. Di beberapa tempat, tiba-tiba saja mahasiswa mulai beringas. Mereka menyuarakan aspirasi yang sepertinya sangat dipaksakan. Bagaimana tidak? Dengan tuntutan tentang pelemahan rupiah, tentang harga BBM, tentang ekonomi, tentu bisa dibilang tuntutan tersebut tarasa aneh dan dipaksakan.

Persoalannya, mahasiswa adalah generasi penerus intelektual bangsa.

Tentu, untuk bersikap seharusnya disertai data. Semua hal harus berdasarkan literasi yang obyektif dalam menyuarakan situasi dan kondisi bangsa. Padahal, pelemahan rupiah dipicu oleh perang dagang 2 negara adidaya antara China dan Amerika. Tentu semua negara akan merasakan dampaknya.

Jika saja para mahasiswa mau jujur dan menelisik berita yang obyektif, Indonesia di tangan Jokowi dengan Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani termasuk negara yang tangguh. Negara yang mempunyai pondasi ekonomi yang kokoh, yang tidak akan ambruk sekalipun ada Badai Krisis Ekonomi.

Juga jika para mahasiswa mau mikir, sudah disepakati bahwa BBM untuk yang tidak disubsidi adalah Pertalite dan Pertamax. Sedangkan Premium masih tetap disuapi oleh pemerintah. Mau apa lagi?

Mengenai perekonomian, apakah mereka tidak mikir bahwa belakangan ini, apalagi ketika Hari Raya Idul Fitri, tidak terjadi lonjakan harga yang berarti. Ini tentunya merupakan prestasi kinerja Team Ekonomi Jokowi. Jika mahasiswa mempermasalahkan ekonomi, fasarnya dari mana?

Yang menjadi tanda tanya besar, seperti halnya demo yang dilakukan oleh Universitas Islam Riau, yang satu minggu sebelum melakukan demo, Ketua BEM mereka bertemu dengan Cawapres oposisi. Lalu, secara masif mewabah ke kota-kota lain mulai Aceh, Jambi, Lampung dan bahkan beredar di Medsos ajakan untuk demo oleh sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta dengan label agama.

Jika ditelisik secara seksama, ketika Tifatul tidak lagi makan telur ceplok, serta Sandiaga mendramatisir uang Rp. !00 ribu yang hanya mendapatkan cabe dan bawang, ditambah Prabowo mengatakan harga ikan asin yang mahal, timbul pertanyaan, ada apa di pikiran mereka? Atau sedang mulai mengipas-ngipas para emak-emak agar timbul geram terhadap pemerintahan sekarang?

Yang menjadi tanda tanya besar kedua adalah, lagi-lagi universitas dari agama tertentu yang dijadikan “Kuda Tunggangan”. Ini harus diwaspadai secara serius. Kenapa? Jika politik identitas dikedepankan lagi seperti halnya Pilkada DKI, apa jadinya Republik ini?

Tidak dipungkiri, ketika harus mengalahkan seorang Ahok saja mereka memakai cara-cara keji. Energi bangsa terkuras habis. Bangsa ini masih merasakan betapa politik primordial, politik SARA, membuat bingkai KeBhinekaan masih terasa pecah berantakan. Rajutan tenun kebangsaan tercabik-cabik. Dan itu masih terasa hingga sekarang.

Apalagi ingin mengalahkan Jokowi, tentu harus dengan strategi ekstra. Bisa jadi melebihi strategi saat mengalahkan Ahok!

Sudah 2 kali Prabowo ikut dalam kontestasi Pilpres. Ditengarai dalam Pilpres 2019, itu adalah keikutsertaan beliau yang terakhir kalinya. Jika menyikapi situasi yang berkembang, tentu bisa diasumsikan beliau akan bertarung all out. Akan berusaha dan bertanding mati-matian. Akan melakukan die hard. Jika dikorelasikan dengan pidato beliau tentang strategi membakar rumah, apakah akan dilakukan dalam Pilpres 2019?

Bahkan dalam sebuah berita, Kementrian Polhukam juga mewaspadai akan adanya politik identitas di Pilpres 2019. Harapannya adalah, pihak pemerintah mewaspadai tentang hal ini. Pihak aparat keamanan bisa mengantisipasi segala hal yang akan berakibat fatal tentang keamanan negeri ini. Ketika api kecil dibiarkan, tentu akan merembet dan menghanguskan apa saja.

Hukum harus ditegakkan, apalagi yang menyangkut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapapun yang menghina simbol-simbol negara, termasuk presiden, tentu harus segera ditindak.

Jika seorang presiden sebagai simbol negara dihina dan dicacimaki, lalu dibiarkan, apa jadinya negara ini?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.