Kolom Nisa Alwis: MAKSA

1
226

Membaca statemen tokoh PKS bahwa Sandi Uno adalah ulama, sontak saya teringat lagu lama, “Rindu Terlarang”. Entah nyambung atau tidak, tapi situasinya memang terkesan maksa.

Kenapa sih harus terus-terusan pake jargon agama?

Kepala negara kan bukan kordinator majlis taklim. Bila saja Sandi ditampilkan sesuai karakternya, mungkin akan terlihat lebih bernilai. Tidak sekedar polesan-polesan yang membuatnya malah terasing, seperti bukan dirinya.

Secara bahasa arti ‘ulama’ itu memang orang berilmu. Tapi yang berlaku umum adalah pengertian ‘istilah’. Di sini, Ulama ialah punggawa ilmu agama. Kalau Bapak Hidayat mau maknanya diperlebar ya ada konsekuensinya.

Nanti orang bisa bilang penjahit baju di pasar juga ulama, tukang service jam ulama, mandor bangunan ulama, penjagal sapi juga ulama… Loh, kan semua sektor ada ilmunya kan, Pak.

Apakah memang begitu?

1 COMMENT

  1. “Secara bahasa arti ‘ulama’ itu memang orang berilmu. Tapi yang berlaku umum adalah pengertian ‘istilah’. Di sini, Ulama ialah punggawa ilmu agama.”

    Disamping punya ilmu, ulama ini tentu juga tidak bisa dilupakan yaitu sifat dan pembawaannya, kalau ulama itu umumnya jujur atau dianggap jujur dan mengkedepankan kejujuran dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa jadi contoh dalam pergaulan masyarakat.

    Saya jadi teringat kritikan Sandiaga kepada gubernur kepala daerah yang harus fokus kepada pembangunan daerahnya dan tidak boleh ikut aktif berkampanye politik. Lalu Kang Emil gubernur Jabar ingatkan bagaimana Sandiaga melanggar peraturannya sendiri ketika aktif berkampanye untuk pilgub Jateng pilih Sudirman Said. Lalu Sandiaga minta maaf kepada Kang Emil. He he ada jujurnya jugalah Pak Sandiaga dalam hal ini, tetapi tidak jujur dalam pengeritikannya, walapun ketika itu Sandiaga sebagai wagub Jakarta, pastilah juga sudah jadi Ullama menurut definis terakhir itu. Dalam hal ini beliau menunjukkan sikap ulama yang kurang jujur.

    Dari segi sikap ulama buddha sejati Dalai Lama, sikap kasih sayang compassion, patut juga diarahkan kepada Sandiaga, artinya kasihan juga bisa dipermainkan sejauh itu oleh orang-orang yang berkepentingan, artinya yang punya kepentingan politiknya jauh lebih berharga dari Sandiaga sendiri. Itulah arah COMMPASSION sejati dari tiap manusia Indonesia mestinya, terhadap Sandiaga sebagai seorang manusia, ulama atau tidak.

    Dan compassion bikin sleep well kata Dalai Lama he he he . . . dibandingkan dengan sifat benci dan dengki yang bikin tidak bisa tidur.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.