Kolom Bastanta P. Sembiring: PENDUKUNG ASLI JOKOWI DAN PRABOWO PUNYA MUSUH BERSAMA (Penumpang Gelap?)

1
327

“Kam pendukung Jokowi, tetapi dalam tulisan tidak pernah kritik atau menjelekkan Prabowo, tidak seperti lainnya. Mengapa?”

Karena menurut saya, pertarungan antara Jokowi dan Prabowo sebenarnya sudah selesai. Jadi apa mau dibahas lagi?




Sekarang ini, Pilpres antara Jokowi melawan kartel-kartel dan penunggak yang mungkin bakal kena penalti di 2019. Untuk itu, Jokowi harus disingkirkan dengan pinjam popularitas Prabowo. Logikanya, walaupun kita semua ikutan demo biar Jokowi turun dari kursi Presiden, tetap Prabowo tidak otomatis bisa jadi Presiden (buat yang kemarin suka mensama-samakan dengan masa 1998, bolehlah kam buka-buka kembali buku sejarah).

Cara paling aman dan elegan bagi Prabowo untuk bisa jadi presiden adalah, ‘menunggu’ dan ikuti ‘pertarungan’ di Pilpres 2019.

Mungkin Bpk. Amin Rais yang mantan Ketua MPR, mantan Capres juga, dan dulu dikenal sebagai salah satu tokoh sentral reformasi itu, paling paham dan tau rasannya

Sama doang, kan?! Harus melalui Pilpres dan belum tentu juga bisa menang.

Terus, kalau gitu buat apa recok sana sini sampai deklarasi tagar sampai gerakkan mahasiswa segala? Tebar hoax lagi?




Nah… di situlah pertannyaan dan kunci jawaban dari grand mission (-impossible) si X ini. Dan, itulah coba kam pikirkan apa kira-kira itu. Kan sudah nampak dan tercium sikit bauk-bauknya?

Mejuah-juah Indonesia 🇮🇩

1 COMMENT

  1. “pertarungan antara Jokowi dan Prabowo sebenarnya sudah selesai”. Wow, ini logika yang sangat logis! Sangat masuk akal, karena kekuatan kedua belah pihak yang bertarung dalam pilpres kali ini sudah terukur, dan sepertinya agak pasti. Berlainan sama sekali dengan pilpres lalu (2014) dimana antara kedua pasangan petanding ini tidak jauh bedanya (jumlah pemilihnya). Pak Jokowi ketika itu baru pertama kali, sedangkan Pak Prabowo sudah yang ke 2 kalinya sebagai capres/cawaperes. Sekarang ini yang ke 3 kalinya bagi Pak Prabowo. Dalam sejarah, urutan ke 3 kalinya juga selalu akan gagal. Tetapi bagi Pak Prabowo pribadi tentu tidak perlu patuhi ‘sejarah’. Maju terus adalah sifat yang lebih ksatria, dalam situasi istimewa ini karena setidaknya meramaikan pertandingan dalam pesta demokrasi bangsa ini, membawa keindahan tersendiri. Tidak ada salahnya, bahkan nation ini pantasnya juga berterima kasih kepada Pak Prabowo suka rela ikut bertanding dalam memeriahkan pesta itu.

    Disini kedua belah pihak berusaha membikin pertandingan sejujur mungkin dan juga seadil mungkin, sehingga selain kalah menang bagi kedua petanding, permainan demokratis dan pencerahn demokrasi tambah luas dan mendalam. Dan itulah yang lebih penting dan lebih berharga bagi bangsa ini. Itulah keuntungan bagi nation Indonesia. Dan keuntungan ini tentu tidak berlawanan dengan cita-cita murni kedua belah pihak. Tetapi ini tidak terlihat dalam kenyataan sekarang, karena yang terlihat ialah permusuhannya yang selalu dibesar-besarkan, Oleh siapa?

    Jadi siapa sebenarnya yang merusak cita-cita murni ini, dan siapa yang berkepentingan membikin pertandingan demokratis ini menjadi pertandingan yang menghancurkan keselarasan dan kerukunan berbangsa nation Indonesia ini dalam keselarasan Bhinneka Tunggal Ika?

    Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita kembali ke 1965, lebih dari setengah abad lalu (53 tahun lalu), ‘when the world was very new’ he he he . . . disini dalam artian bahwa ketika itu belum ada internet sebagai sumber semua INFORMASI dan PENGETAHUAN DUNIA. Manusia belum bisa menilai, apa yang terjadi dan siapa dibelakang semua kejadian yang mematikan bagi banyak manusia dan banyak nation dunia, dalam jarak waktu selama 170 tahun?

    “Sekarang ini, Pilpres antara Jokowi melawan kartel-kartel dan penunggak yang mungkin bakal kena penalti di 2019. Untuk itu, Jokowi harus disingkirkan dengan pinjam popularitas Prabowo.” ditambahkan oleh BPS. Tepat perumusannya.

    Jadi sekarang kartel-kartel ini ‘pinjam popularitas Prabowo’.
    Coba kita bandingkan dengan pinjam popularitas Soehato pada tahun 1965. Siapa yang pinjam, atau kartel-kartel mana yang pinjam?
    Tidak susah menjawabnya jika ditinjau dari kejadian pada tahun 1965 itu. Pedomannya ialah lihat ALIRAN DUIT. Pedoman ‘aliran duit’ adalah pedoman jitu dan terpercaya dalam menilai situasi politik sekarang, tentu saja dari dulu juga begitu, tetapi belum dipahami oleh manusia dunia karena ‘aliran duit’ itu masih mantap dan berhasil ditutupi atau dirahasiakan oleh pemiliknya pakai MSM, media besar satu-satunya yang bikin sihir jahat bagi kemanusiaan, bikin mind control dan brainwashing bagi siapa saja yang baca MSM dan juga yang tidak bisa baca tetapi terkena hoaknya dari tetangga yang bisa baca, atau hoaks dari MSM itu sendiri.

    Yang terkena hoaks ini misalnya jutaan kaum buruh dan anggota partai-partai komunis negeri-negeri dunia, termasuk jutaan anggota/prmilih partai komunis Indonesia sendiri (PKI). Sihir jahat atau hoaks komunis ini sudah dihidupkan sejak dibangunnya Manifesto Komunis Marx 1848, genap170 tahun pada tahun 2018 ini.

    Apa-apaan sih ALIRAN DUIT itu?
    Cobalah lihat aliran duit gerakan 411, 212, aliran duit akun biaya tinggi ratusan ribu akun Saracen, Cyber Army muslim, teror Thamrin untuk menggertak dan menyetop usaha pemberhentian kontrak Freeport, biaya
    semua teror panci, biaya NOBAR film G30 S, biaya bikin penyebaran segala macam hoaks seperti isu ‘5000 pucuk senjata polri’, biaya penyebaran berita ‘Jokowi komunis’ dll dsb. Ini semua di era internet sudah bisa diteliti sumber dan alirannya. Tetapi tidak bisa ketika era sebelum internet, era 1965 itu dan bebeapa dekade sesudahnya. Aliran duit dari perampokan SDA terutama emas Papua, dan dari penipuan ekonomi-finans Indonesia. Kemana dan siapa yang jadi pemilik utama duitnya atau aliran duitnya itu?

    Sekarang kita sudah tahu, ialah perusahaan dan bankir rentenir internasional neolib/NWO, dan duit hasil rampokan itu dipinjamkan lagi ke Indonesia Soeharto dengan bunga tinggi. Soal ini bisa dibaca di tulisan John Perkins EHM (Economic Hit Men) dan juga ada bukunya yang lebih baru bernama The New EHM. Di era EHM John Perkins bisa dikatakan tidak ada yang mengetahui soal ini kecuali mereka sendiri tentunya, artinya soal ALIRAN DUIT itu masih sangat gelap keberadaannya. John Perkins sendiri yang pertama membongkar soal ini pada mulanya ‘sembunyi’ ketika bukunya diterbitkan pertama kali, dan malah diperingatkan kepada keluarganya kemungkinan ‘kecelakaan’ yang bisa ditimpakan kepadanya sebagai pengkhianat EHM.

    Sekarang era internet dan keterbukaan, bukunya bisa dibaca bebas, juga ceramah John Perkins bisa dilihat di Youtube secara terbuka. John Perkins sudah tidak ketakutan lagi. Aliran duit sudah jelas, dari mana dan untuk kepentingan apa. Hampir semua sudah tahu, neolib/NWO!

    Apakah Pak Prabowo sebagai saingan Pak Jokowi dalam pilpres 2019 mengerti seluk beluk ‘aliran duit’ ini?

    Sedikit ada ‘psikologinya’ disini. Mengerti atau tidak, sepertinya sudah terlanjur bagi Pak Prabowo. Dominasi ‘aliran duit’ ini dengan segala macam taktik dan duitnya sudah mengikat terlalu ketat, Pak Prabowo sudah tidak bisa keluar kalaupun misalnya mau jalan dengan ‘kekuatan sendiri’, dengan menghidupkan kekuatan nasionalis yang lebih murni, dimana selama ini juga sebenarnya dimiliki dan juga dibanggakan oleh pak Prabowo. Dominasi kekuatan neolib/NWO ini sekarang adalah TOTAL dalam kumpulan Prabowo. Massa dan organisasi massa sudah mendominasi kekuatannya seperti FPI, HTI, PKS, PAN, Gerindra (partai sendiri). PKS dan PAN sepenuhnya sudah terjual, terang-terangan dengan kekuatan duit, keduanya tinggal melaksanakan perintah dari pemilik ALIRAN DUIT ini atau kedua partai ini paling banter diam saja. Itulah situasi psikologi sekitar dominasi aliran duit dan kekuasaan duit sekeliling pak Prabowo sebagai capres penantang petahana Jokowi.

    Ada satu pilihan yang bisa sangat menarik memang, tetapi luar biasa, yaitu Prabowo dan Sandiaga keluar dari dominasi aliran duit ini, dan menyatakan ikut pilpres sebagai calon perorangan atau hanya dengan kekuatan Gerindra. Ini MELAWAN SEMUA ATURAN yang ada, TETAPI SANGAT TERHORMAT dan BEBAS dari dominasi aliran duit neolib/NWO. Segala konsekwensi diterima saja, TETAPI TERHORMAT. Dan akan diingat untuk selama-lamanya sebagai peristiwa sejarah Indonesia yang pertama, dimana dua orang nasionalis sejati mengorbankan kepentingannya demi meluluh lantakkan dominasi ‘aliran duit’ neolib/NWO di Indonesia. Dalam buku sejarah akan tertulis: “Keruntuhan neolib/NWO telah dimulai di Indonesia dengan kepahlawanan dua orang nasionalis Prabowo dan Sandiaga terjadi dalam pilpres 2019.” Ini akan ditulis dengan tinta emas, dalam sejarah Indonesia dan sejarah dunia.

    SELAMAT MENCOBA KEKESATRIAAN NATION INDONESIA.

    Salam

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.