Kolom Asaaro Lahagu: KODE LANGIT SANDIAGA TUTUPI 7 TANDA REDUP PRABOWO

1
578

Selasa 29 Mei 2018, Amin Rais dengan sangat optimis meyakini Jokowi lengser 2019 mendatang. Bukan main-main, Amin Rais membawa nama Allah untuk memperkuat alibinya soal Jokowi lengser. Dalam sambutannya di acara Rakornas Persaudaraan Alumni 212, Amin menguak tanda-tanda Jokowi akan lengser dan kalah di Pilpres 2019 mendatang.

“Kita melihat secara jelas, kita perhatikan pemimpin yang akan dilengserkan Allah itu biasanya langkahnya dari salah ke keliru. Dari keliru ke blunder, salah lagi dan seterusnya,” kata Amin Rais sambil menunjuk foto Jokowi di Taman Wiladatika, Cibubur (Jakarta Timur) kala itu.




Bagi Amin, Jokowi telah gagal dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Amin mencontohkan beberapa kasus terkini seperti rekomendasi penceramah Kementerian Agama dan ceceran e-KTP di Bogor. Kebijakan Jokowi yang mengambil dana haji untuk infrastruktur, beras mahal disuruh jangan makan banyak, merupakan blunder dan tanda-tanda yang dinampakkan Allah.

Ucapan Amin pada bulan Mei lalu itu, semakin dipercaya aura mistisnya ketika ada sebuah tanda pada saat deklarasi kampanye damai di Monas 23 September 2018 lalu. Pada kampanye damai itu, burung merpati yang dipegang Cawapres KH Ma’ruf Amin gagal terbang. Kubu Prabowo memaknai burung Ma’ruf yang tidak terbang ini sebagai tanda akan gagalnya Jokowi-Ma’ruf menang pada Pilpres 2019 mendatang.

Tanda-tanda klenik itu semakin dikuatkan oleh Sandiaga hari ini (24 September 2018) saat bertemu dengan kader dan Caleg PAN di Gedung UTC, Semarang. Menurut Sandiaga, dukungan dari PAN kepada Prabowo-Sandi adalah kode keras akan datangnya kemenangan dari langit.

“Presidennya nomor berapa? Dua. PAN nomor berapa? 12, jadi 212. Ini kode keras dari langit, suara PAN bersama Prabowo-Sandi bakal mendulang suara,” ucap Sandiaga.

“Nomor 2 adalah damai, peace, lalu lambang victory, kemenangan. Insaallah kita menjemput takdir kita dan memenangkan kontestasi kita,” yakin Sandiaga.

Jika ada tanda-tanda bahwa Jokowi lengser, pun ada kode langit bahwa Prabowo-Sandi menang, maka hal yang sama juga terjadi kepada Prabowo. Sepertinya tanda-tanda yang dikuakkan bahwa Jokowi lengser tidak lebih sebuah aksi untuk menutupi pertanda yang lebih buruk yang menimpa Prabowo. Jika dianalisa lebih lanjut, tanda-tanda kegagalan Prabowo bahkan lebih buruk.




Pertama, penurunan elektabilitas Prabowo tercermin dari 3 hasil survei yang digelar lembaga kredibel bulan Agustus 2018 seperti LSI Denny JA (Jokowi 52,2% – Prabowo 29,5%). Lalu survei Alvara (Jokowi53,5% – Prabowo 35,2%. Terakhir survei Y-Publica (Jokowi 52,7% – Prabowo 28,6%).

Ke dua, pendukung dari partai koalisi Prabowo terpecah. Dukungan dari beberapa DPD/ kepala daerah dari Partai Demkokrat, dukungan dari kader PAN yang membelot, dukungan deras dari para kepala daerah kepada Jokowi, mengisyaratkan bahwa Jokowi semakin di atas angin. Sementara Prabowo stagnan. Bahkan dukungan yang diharapkan dari Ketua Kadin untuk mendukung Sandiaga, justru menyatakan dukungan kepada Jokowi.

Ke tiga, pada saat pengambilan nomor undian di KPU, terlihat jelas bagaimana raut muka Prabowo. Ia sepertinya kurang bergairah, pesimis dan lebih banyak didikte oleh Jokowi. Sebaliknya pada pengambilan nomor urut itu, Jokowi terlihat optimis, penuh senyum, dan terlihat gembira mendapat lawan seperti Prabowo. Artinya apa? Jokowi sangat nyaman bertarung dengan Prabowo.

Ke empat, saat Pilpres 2014 lalu, Jokowi tidak didukung oleh banyak partai. Pun kekuatan Jokowi sebagai calon baru tidak sekuat sekarang. Saat ini kekuatan Jokowi jauh lebih besar. Apalagi hasil-hasil pembangunan yang telah dilakukan oleh Jokowi telah membuktikan kapasitas dan kredibilitas dirinya. Sementara Prabowo nihil terobosan. Stigma penculik pun tak pernah lepas dari namanya.

Ke lima, strategi Prabowo-Gerindra menyapu bersih semua. Mulai dari Cawapres, ketua tim pemenangan sampai calon Cagub di DKI, nampaknya diambil secara rakus oleh Prabowo. Peribahasa “Lebih baik satu burung di tangan daripada sepuluh burung di hutan” dipahami benar oleh Prabowo. Artinya, apa yang sudah ada di depan mata diambil langsung. Sementara impian menang menjadi presiden belum tentu bisa diraih.




Ke enam, blunder Prabowo mengabaikan rekomendasi para ulama. Ia dipandang tidak menghargai ulama dan lebih percaya uang kardus Sandiaga. Ini jelas telah menyakiti hati para ulama dan lebih-lebih PKS, PAN yang tidak didengar oleh Prabowo. Apalagi dukungan angin-anginan Demokrat yang dibuktikan WO-nya SBY di tempat kampanye, tidak lebih dari perbuatan anak TK yang suka menarik perhatian dengan cara play victim.

Ke tujuh, nomor urut 1 untuk Jokowi dan nomor urut 2 untuk Prabowo. Nomor urut ini harus direbranding oleh kedua belah pihak. Pada Pilpres 2014 lalu, nomor urut satu adalah Prabowo-Hatta sedangkan nomor urut 2 adalah Jokowi-JK.

Soal nomor urut ini, nomor yang paling banyak mendapat fitnah, dijelek-jelekkan dan bahkan dicari pembenaran jeleknya dalam Kitab Suci adalah nomor dua. Masalahnya jejal digital itu tidak bohong. Video, gambar, meme yang menjelekkan nomor dua bisa digunakan oleh Kubu Jokowi untuk menyerang balik nomor urut dua. Ini bisa berbalik menjadi blunder Kubu Prabowo. Apa yang ditanam pada Pilpres 2014, akan dipanen pada Pilpres 2019.

Tanda-tanda dari Amin Rais, kode burung Ma’aruf Amin dan kode langit Sandiaga sah-sah saja diyakini. Namun, bagi yang mempunyai nalar, kode langit dan apapun nama mistiknya, sebetulnya hanya untuk menutup-nutupi sinyal redup Prabowo. Ketujuh tanda redupnya Prabowo di atas lebih logis dan tidak semistis yang diyakini oleh Amin dan Sandiaga Uno. Kalau begitu #Jokowilagi.




1 COMMENT

  1. Ketika Asian Games di Jakarta, Anthony Sinisuka Ginting jadi ‘The Giant Killer’. Tidak sampai ke final karena tertimpa cedera kaki kirinya. Lalu presiden Jokowi menjenguknya di tempat perawatan Asian Games dan memberi semangat bagi ASG. Ke balikan dari sikap Fadli Zon yang malah mengeritik presiden Jokowi menjenguk ASG, katanya cukup dijenguk oleh menteri olah raga saja, jangan buang waktu menjenguk ASG lebih baik fokus ke gempa Lombok katanya, asal ngomong saja.
    Beberapa minggu kemudian betul-betul semangat ASG meningkat mengalahkan semua raksasa di China Open. Jadi dia bukan lagi the giant killer tetapi sudah jadi Giant sendiri sesuai dengan doa restu peningkatan semangat oleh presiden Jokowi minggu-minggu sebelumnya. Nama gemilang Indonesia di mata dunia dalam olah raga bulu tangkis dicetuskan oleh Anthony Ginting.
    Suku Karo yang minoritas dari Sumut bisa juga melahirkan ‘giant dunia’ champion dunia. Ini menyemangati semua suku minoritas negeri Bhinneka Tunggal IKa, kesempatan meraih kemajuan bagi semua suku bangsa tidak tergantung minoritas atau mayoritas sudah sama pada era Jokowi, karena ‘jawanisasi’ dan ‘islamisasi’ era Soeharto sudah dihilangkan. Pemerataan dan keadilan bagi semua suku bangsa yang beragam budaya dan kultur itu terlihat dalam usaha serius presiden Jokowi. Bahkan harga BBM di pedalaman Papua pun sudah merata sama dengan daerah lain.
    Ketika pilpres 2014, Jokowi bisa juga dikatakan hanya sebagai calon ‘the giant killer’ menghadapi Prabowo yang sudah jauh lebih ‘terkenal’ dibandingkan diri Jokowi orang ndeso itu. Sekarang Jokowi betul-betul The Giant bagi lawan-lawannya, dalam pertandingan sengit 2019. Ini tentu tidak membikin semangat bertanding yang cukup menggairahkan bagi lawan. Bukti nyata salah satu ialah berbagai hasil survei, Jokowi diatas 50%, Prabowo diatas 20%, walaupun angka 2 diibaratkan dengan angka 212 yang sudah jelas juga redup dan ‘buron’. The Giant cukup melangkahkan saja kakinya kedepan, lawan gemetar kaget mengkret.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.