Kolom Muhammad Nurdin: YUK BERFIKIR SEDERHANA

Bagaimana dengan event IMF-World Bank Meeting? Ya, sama aja. Justru di sini lah nama bangsa ditentukan.

0
277

Masalah IMF-World Bank Meeting ini sebenarnya sangat sederhana, dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya. Misal. Anda punya hajatan besar yang diadakan di rumah. Berapapun biayanya akan diupayakan untuk menghormati tamu yang hadir. Minimal, mereka merasa puas dengan pelayanan tuan rumah.

Ini biasa terjadi dalam setiap kehidupan manusia. Bahkan rakyat jelata dengan kemampuan UMR pun punya spirit semacam ini. Apalagi elit-elit politik dalam negeri. Ngeri lah kalau mereka buat hajatan atau pesta.

Nah…  Bagaimana jika ini menyangkut nama baik bangsa?




Sebenarnya, tak jauh beda dengan event Asian Games belum lama ini. Banyak pihak (oposisi) menyayangkan kegiatan internasional ini memakan dana yang sangat banyak. Dengan bumbu: Di tengah bencana dalam negeri.

Tapi apa yang kita dapat? Predikat internasional bahwa Indonesia mampu mengadakan event kelas dunia. Belum lagi uang yang masuk selama penyelenggaraan Asian Games, investasi-invetasi yang masuk.

Semua ini karena kita menjaga nama baik sebagai tuan rumah sebuah hajatan besar skala internasional. Lupakan soal jaring hitam penutup kali sentiong. Atau mahakarya rajutan bambu di Bunderan HI. Itulah pencapaian ibukota kini, yang mulai dibully sama tetangganya Jabar.

Bagaimana dengan event IMF-World Bank Meeting? Ya, sama aja. Justru di sini lah nama bangsa ditentukan. Apakah layak sebagai destinasi untuk investasi atau tidak?

Tim Prabowo-Sandi yang sangat concern dengan ekonomi seharusnya mendukung langkah pemerintah mensukseskan penyelenggaraan event ini. Tapi, yah. Namanya juga oposisi. Apapun yang dilakukan pemerintah akan dianggap salah oleh mereka. Bahkan jika kesalahan itu dilakukan oleh pihak mereka.

Coba tengok kasus Ratna Sarumpaet. Yang salah dia. Yang disuruh mundur Presiden. Orang sedungu apa yang bisa menyajikan logika berfikir seperti ini? Oposisi tengah melancarkan strategi “yang penting jelekin pemerintah dulu”, masalah data nanti aja.

Coba lihat, sudah berapa banyak Sandi Uno asbun. Dari soal 100 ribu dapat cabe-bawang doang. Tempe setipis kartu ATM. Tempe sachet. Sekarang wine dalam IMF-World Bank Meeting.

Goalnya: semakin sering dan masif ngejelekin pemerintah, semakin membuat orang gak butuh kebenaran. Yang penting pemerintah sampah!

Jangan diam! Amerika bisa dipimpin oleh Trump dengan strategi ini.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.