Kolom Nisa Alwis: ADAT dan AURAT

0
500

Sesaat setelah posting foto para ibu semangat berkebaya, muncul sebuah status dengan background merah menyala milik seorang kawan lama. Begini bunyinya: “Dulu masih santri berhijab leher tidak kelihatan. Eee sekarang sudah jadi emak-emak berhijab pamer leher. Waras antunna?” Cukup banyak juga yang melike dan mengkomennya, antara lain ada yang menulis: “santri gadungan”. Merdu bukan?!

Begitulah kebuntuan sudut pandang membuat orang mudah meradang. Padahal konsep aurat ada, sejatinya pesan norma.




Untuk kepantasan, untuk ‘memuliakan perempuan’. Bukan untuk mengurung perempuan, justru memerdekakan dari alam kebodohan/ jahiliyah. Lalu, ketika sang perempuan menjaga warisan budayanya, kebanggaan bangsanya, kecemerlangan karya, justru malah dihina. Antum kenapa?

Apakah antum juga menyalahkan para ibu dan guru dahulu yang mungkin bagi antum semua perilakunya tidak senonoh gara-gara tak berhijab syar’i ala muslim hijrah Jaman Now? Sekalian silahkan antum gugat para ulama tradisional yang hingga sekarang masih banyak keluarganya mengajar ngaji dengan pakai kebaya sederhana dan lehernya terbiar tanpa khimar.

Ini Indonesia. Nusantara. Hanya di sini masuk materi dakwah dalam nilai-nilai kisah negara Hastinapura diiringi langgam dan gamelan Jawa. Lalu, mengapa berkebaya sekarang dianggap santri gadungan? Apakah tingkat spiritualitas antum sudah paripurna di atas para Wali Sembilan? Padahal, antum hafal hadits mutawattir bahwa Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian. Tidak pula melihat gambar dan bentuk diri kalian. Yang Allah lihat adalah: Hati-hati kalian.

Lalu, hadir di ingatan saya sosok wanita terpelajar, yang memperoleh anugrah ‘medali ilmu pengetahuan’ atas disertasinya dari Presiden Mesir Gamal Abdel Naser: Ibu Zakiyah Daradjat. Saya beruntung dapat berguru padanya langsung saat kuliah Psikologi Agama. Beliaulah perempuan pertama yang pernah dipercaya menjadi salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia.

Dan sang Guru Besar di UIN Jakarta ini setiap datang mengajar senantiasa berkain dengan baju kurung atau kebaya. Selembar selendang tersampir halus di kepala. Sebagian rambut dan lehernya nampak dan itu biasa saja. Beliau nyaman dengan dirinya, yang di hadapan bersikap hormat padanya. Ibu Zakiyah (almarhum) selalu seperti itu. Membawa serta aura perempuan independen yang berbudi, berseni, dan berilmu.




Sampai di sini cemoohan antum tadi seperti tong kosong saja. Itu baru satu cermin dari Ibu Profesor yang menggali ilmu tinggi di negeri para mufti. Mustahil soal aurat beliau tidak mengerti. Sama mustahilnya bila para Kyai ratusan tahun membiarkan istri, anak dan santrinya berdosa dengan tidak memaksa mereka melilitkan kerudung ke seluruh tubuh.

Lalu apa yang mereka lakukan? Para ulama teladan itu bersikap arif dan bijak. Tak sekedar menelaah teks, tapi juga memahami konteks. Sehingga tidak saklek menghakimi tubuh wanita. Mereka melihat diantara adat dan aurat ada dialog budaya dalam tatakrama. Diantara syariat dan hakikat ada realitas peradaban manusia. Yang disyariatkan di masa perbudakan, tidak untuk dipaksakan di jaman berbeda yang tak mengenal kultur budak belian.

Faktanya barulah di era belakangan ini hijab dan jilbab menjadi ornamen kesolehan baru. Begitu gegap gempitanya inovasi fashion busana muslim. Beriringan dengan kemunculan para ustad/ ustadzah seleb yang melengkapi arena pop culture. Banyak yang merasa ini pertanda ghiroh beragama naik. Meski soal disiplin buang sampah masih rendah, dan fenomena korupsi tetap tinggi.

Jarang yang menyadari, bahwa setiap celah dalam agama telah dibidik industri. Hukum pasar di sana bisa berselancar. Tak heran bisnis syar’i berkelindan. Aneka rupa gamis, tunik, khimar, manset, ciput, bros, hingga kaos kaki, salon perawatan, make up, masker, shampoo, dll dibranding syar’i untuk gaya hidup Islami. Komodifikasi agama, adalah fakta yang tak terbantahkan berada di garis depan.




Maka, kalem-kalem lah, Breder. Orientasi berpakaianmu seperti apa itu hanya permukaan saja. Cek kedalaman hati dan jiwa, itu lebih mendasar ketimbang menakar spiritualitas orang lain dengan kacamata kuda. Lelaki auratnya hanya dari pusar dan lutut saja. Tetapi bila telanjang dada ke kantor kelurahan, tentu sudah tak sopan. Itulah konteks. Sama halnya aurat perempuan, jangan kode etikmu secara kaku dipaksakan.

Terakhir, madzhab pemikiran Islam sejak awal sejarahnya tidaklah seragam. Perbedaan telah diyakini sebagai rahmat. Tentang satu hal saja, semua madzhab memiliki hujjah. Sehingga mereka terlepas dari klaim paling benar atau paling salah. Maka berpakaianlah dengan sentosa bersahaja aman dan nyaman. Enak disandang manis dipandang..

#wassalam




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.