Kolom Asaaro Lahagu: JOKOWI DIGOYANG BUKU MERAH TITO

0
378

Tulisan ini saya mulai dari buku merah. Buku merah adalah buku catatan bank bersampul merah. Buku ini dibuat oleh Kumala Dewi Sumartono bagian keuangan CV Sumber Laut Perkasa, perusahaan milik Hariman Basuki atas nama Serang untuk Noor IR. Siapa Hariman Basuki?

Dialah orang yang menyuap mantan Hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar.

Pada tanggal 25 Januari 2017 lalu, KPK menangkap tangan Hariman Basuki dan Patrialis Akbar terkait transaksi suap impor daging. Dalam proses pengadilan, baik Basuki maupun Patrialis dinyatakan terbukti bersalah. Basuki sendiri telah divonis 7 tahun penjara oleh pengadilan. Demikian juga Patrialis Akbar. Ia divonis lebih berat 8 tahun penjara.

Kembali ke buku merah. Mengapa buku merah itu begitu penting? Sebagaimana telah dibocorkan oleh Indonesialeaks, dalam buku merah itu tercantum pencatatan pengeluaran uang Basuki yang ditengarai salah satunya buat petinggi polisi, yaitu Tito Karnavian yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Apa itu Indonesialeaks? Indonesialeaks adalah sebuah platform digital mandiri bagi informan publik untuk menghadirkan pemberitaan yang berkualitas dan menyuarakan kepentingan publik. Saat melaporkan temuannya terkait buku merah, Indonesialeaks membutuhkan investigasi selama 6 bulan sebelum mempublikasikannya.

Kebenaran adanya buku merah itu sendiri benar adanya. Buku merah menjadi salah satu bukti di sidang pengadilannya Basuki. Namun, Indonesialeaks melaporkan ada kejanggalan dalam skandal suap pengusaha daging Basuki Hariman kepada mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar pada Januari 2017.

Kejanggalan yang dimaksud adalah penemuan perusakan barang bukti yang diduga dilakukan oleh 2 penyidik KPK saat itu, Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy dan Komisaris Harun. Indonesialeaks meyakini ada rekaman CCTV yang memperlihatkan pengrusakan barang bukti yang dimaksud.

Dalam CCTV, menurut dugaan Indonesialeaks, terlihat sebagian isi buku merah itu dirobek sebanyak 15 halaman dan menghapus beberapa nama penerima dana di buku itu dengan tip-ex. Artinya apa? Menurut Indonesialeaks, nama-nama yang terlibat dalam kasus suap itu bukan hanya Patrialis Akbar tetapi juga ada para pejabat lainnya termasuk Tito yang menerima lebih besar duit suap.

Menurut Indonesialeaks sebagaimana dimuat oleh Tempo.co, pengrusakan barang bukti yang dilakukan oleh Roland dan Harun merupakan kategori tindak pidana karena merintangi penyelidikan. Kedua penyidik yang berasal dari institusi Polri ini diyakini oleh Indonesialeaks pernah diproses secara internal oleh KPK.

Namun, ketika proses penyelidikan belum selesai, kedua penyidik ini ditarik kembali oleh Mabes Polri. Alih-alih keduanya mendapatkan sanksi, institusi kepolisian justru mengganjar keduanya dengan kenaikan pangkat. Inilah yang membuat Indonesialeaks semakin curiga soal buku merah itu.

Siapa di belakang Indonesialeaks itu? Di belakang Indonesialeaks ada sejumlah media seperti CNN, Jakartapost, Liputan6, Tempo.co. Ada juga ICW dan Lembaga Bantuan Pers. Salah satu inisiatornya adalah Tempo Institut. Tempo.co sendiri diketahui paling gencar memberitakan temuan Indonesialeaks itu. Sementara ICW termasuk lembaga yang bersuara keras soal temuan itu.

ICW, misalnya, membuat sebuah petisi online melalui situs change.org. Petisi itu menuntut pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menetapkan 2 mantan penyidiknya, Kombes Roland Ronaldy dan Komisaris Harun, sebagai tersangka karena diduga merusak barang bukti sebagaimana temuan Indonesialeaks.

Lalu, benarkah temuan Indonesialeaks itu? Jika ditelusuri cara Indonesialekas menginvestigasi perusakan barang bukti itu, maka ditemukan beberapa kelemahan.

Pertama, Indonesialeaks misalnya tidak berani mengatakan dia memiliki bukti CCTV. Jika ia memilikinya, bagaimana bisa sampai di tangan Indonesialeaks rekaman itu? Berarti ada orang di dalam KPK yang membocorkannya. Nyatanya Indonesialeaks tidak memiliki bukti soal rekaman CCTV itu.

Ke dua, Indonesialekas tidak mendapatkan bukti pengakuan dari Hariman Basuki maupun dari Kumala Dewi Sumartono. Kedua orang ini merupakan kunci pengakuan soal keterlibatan Tito. Nyatanya Indonesialekas hanya melakukan cover both side tanpa mendapat bukti apapun. Demikian juga kepada Roland dan Harun, Indonesialeaks hanya mengkonfirmasi asumsinya tanpa pengakuan soal buku merah itu.

KPK sendiri melalui ketuanya (Agus Rahardjo) membantah keras kejadian itu. Agus menyebut kasus itu sudah selesai dan sudah lama terjadi. Menurut Agus, tidak ada perusakan alat bukti. Pihak KPK, dalam hal ini pengawas internal, sudah memastikan tidak ada perusakan alat bukti seperti diberitakan Indonesialeaks itu.

“Pengawas sudah memeriksa kamera CCTC, kamera merekam dan penyobekan tidak terlihat dalam kamera itu, kata Agus saat di Kompleks Senayan [Rabu 10/10] saat dimintai keterangannya oleh media.

Karena tidak bukti valid, Mahfud MD menuding Indonesialekas memiliki keanehan terkait tidak adanya bukti. Mahfud pun tidak yakin kalau laporan Indonesialeaks itu benar. Bahkan Mahfud cenderung menilai pemberitaan Indonesialeaks itu hoax.

Presiden Jokowi sendiri mengatakan tak ingin mencampuri masalah dugaan transaksi suap yang dilaporkan Indonesialeaks yang menyeret nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

“Saya enggak mau ikut campur, intervensi hal-hal yang berkaitan dengan hukum,” kata Jokowi di Pondok Gede, Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Menurut Presiden, masalah itu wilayah kerja KPK. “Itu wilayahnya hukum.”

Jokowi enggan menjawab ketika ditanya apakah sudah mengkonfirmasi dugaan suap itu kepada Tito. “Kan baru dugaan.” Sekali lagi Presiden mengatakan tidak ingin mengintervensi dan tidak ingin ikut campur soal masalah hukum itu.

Beberapa hari setelah terkuaknya temuan Indonesialeaks itu, dukunganpun mengalir kepada Kapolri Tito. Publik tidak percaya adanya aliran uang kepada Tito. Tito sampai saat ini masih dipercaya sebagai sosok pejabat di kepolisian yang bersih dan berintegritas.

Hasto, Sekjen PDIP, mengatakan temuan Indonesialeaks soal dugaan aliran dana korupsi ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian bukanlah sebuah kebetulan. Hasto mengaitkan temuan itu dengan Ratna Sarumpaet, tersangka pelaku kebohongan.

“Sebagai bagian dari drama Ratna Sarumpaet itu, apapun yang namanya leaks-leaks itu, harus diuji di mata hukum,” kata Hasto di kediaman Ma’ruf Amin, Jakarta [Rabu 10/10].

Lalu, siapa yang bermain atas isu Indonesialeaks itu?

Pertama, media. Media sperti Tempo.co misalnya diuntungkan oleh temuan Indonesialekas itu. Tempo bisa menggoreng terus temuan itu untuk menaikan traffik di websitenya.

Ke dua, Kubu Prabowo. Orang yang bersuara keras di balik temuan itu, adalah Bambang Widjojanto, mantan Wakil Ketua KPK era Abraham Samad, anggota tim suksesnya Anies Baswedan. Bambang Widjojanto yang kini menjabat Ketua Komite Pencegahan Korupsi (Komite PK) DKI dan masuk dalam barisan Kubu Prabowo itu. Bambang yang pernah dicokok oleh Kaberekrim Polri di era Buwas, tentu masih punya dendam kepada institusi Polri.

Ke tiga, masih terkait dengan kasus hoax Ratna. Temuan itu dipublikasikan oleh Indonesialeaks bertepatan pada saat panas-panasnya kasus hoax Ratna. Mengingat bahwa kasus ini sudah lama dan sudah selesai di KPK, maka sangat mungkin kasus itu digunakan sebagai pengalihan isu oleh pihak-pihak tertentu.

Ke empat, musuh Jokowi-Tito. Bukan tidak mungkin, Tito yang telah membuktikan dirinya sangat loyal kepada Presiden Jokowi ini memiliki musuh yang banyak. Nah musuh-musuh ini mencoba dengan berbagai cara untuk menggoyang Jokowi lewat kaki tangannya.

Dulu Jokowi sempat digoyang lewat Panglima TNI Gatot, namun gagal. Kini di era Panglima TNI Hadi Tjahjanto, penggoyangan Jokowi dipastikan sulit dilakukan. Karena Hadi sangat loyal kepada Jokowi serta mampu membuat TNI dan Polri kembali mesra.

Maka, penggoyangan Jokowi dicoba melalui Kapolri Tito dengan cara melempar isu hoax lewat Indonesialeaks. Tito yang terkenal kinerjanya dalam menangani demo berjilid-jilid sebelumnya menjadi batu sandungan bagi lawan-lawan Jokowi. Bisa saja isu itu sengaja dihembuskan lawan untuk mengganggu fokus Tito terkait Pemilu 2019 mendatang.

Skenarionya adalah, KPK dan Polri yang sudah sangat solid di era Tito dicoba diprovokasi agar konflik KPK Vs Polri jilid ke tiga kembali terjadi. Dengan demikian, Jokowi akan terseret dan diharapkan akan melakukan blunder kebijakan. Jika itu terjadi, Jokowi bisa sukses digoyang lewat buku merah Tito.

Begitulah kura-kura.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.