Kolom Boen Syafi’i: MIRIP JENDRAL SOEDIRMAN APA PAIJAN?

1
270

“Kita butuh Prabowo seperti kita butuh Jendral Soedirman pada masa lalu,” kata si Dahnil Ahzar di sebuah kampanyenya. Apakah memang benar kita butuh Prabowo seperti kita membutuhkan Jendral Soedirman?

Sesungguhnya, membandingkan Prabowo dengan Panglima Besar Jendral Soedirman adalah kenaifan yang warbiasyah.

Naif, karena Jendral Soedirman tidak pernah dipecat dan malah dijadikan sebagai Pahlawan Nasional yang harum namanya hingga kini. Jendral Soedirman tidak pernah pesimis sepanjang hidupnya. Andai pesimis pasti gerilya dari Jogja menuju Blitar dengan melewati lereng gunung yang terjal tidak akan pernah dilakukannya. Jendral Soedirman pun tidak pernah menculik dan tidak pernah pula menyebarkan kabar hoax untuk menyerang Bung Karno sebagai Presidennya sendiri.

Bandingkan dengan Prabowo yang selalu pesimis dengan berbicara bahwa Indonesia bubar, perang tidak sampai 3 hari, ikan asin mahal dan lain-lain.

Weladalah, mana pernah Jendral Soedirman mengeluh tentang masalah ikan asin?Meskipun dalam keadaan sakit dan kurus kering, Jendral Soedirman tetap berjuang membela bangsanya hingga titik darah penghabisan. Prabowo? Boro-boro keliling Indonesia, keliling Monas wae mungkin si doski sudah ngos-ngosan.

Jendral Soedirman, terlahir dari keluarga kurang mampu, terbiasa laku prihatin dan terbiasa pula untuk bersentuhan langsung dengan rakyat jelata.Sedangkan Prabowo? Terlahir dari kalangan ningrat, biasa tercukupi kebutuhanya dan apa yang diminta selalu tersedia.

Lha gini kok ngakunya membela rakyat jelata. Membela rakyat jelata apa membela yang lagi kabur di Saudi Arabia? Jendral Soedirman adalah Jendral besar, besar kharismanya dan besar pula karakter ketokohannya. Prabowo? Jendral pecatan dan hanya besar di badannya saja.

“Pakne, gara gara si Novel Bamukim, anak kita jadi gak ingin masuk sorga.”

“Loh emang kenapa, Bune?”

“Iya, Pakne, soalnya anak kita bilang kalau sudah lulus sekolah gak ingin masuk sorga, tetapi ingin masuk UGM saja.”

“Weladalah, Ediaaaaaan.”

Salam Jemblem..

1 COMMENT

  1. “Hari ini kita butuh Pak Prabowo seperti kita butuh Jenderal Soedirman pada masa yang lalu.”
    Juga di sebutkan Dahnil Anzar (Tribunsolo):
    “Hari ini kita butuh Bung Hatta seperti Indonesia membutuhkan Bung Hatta pada masa lalu, sekarang ada Sandi sebagai simbolisasi Bung Hatta tersebut.”
    Wow . . . sudah lengkap memang . . . lamunannya, “kontraversi” nya supaya jadi “sorotan” seperti dikatakan oleh Asaaro Lahagu dalam kolomnya di SS. Ecek-eceknya kayak Soekarno-Hatta lah.

    Ini termasuk juga sebagai pengalihan isu dari ketidakhadiran prestasi.

    Tetapi apa Pak Prabowo sendiri tidak malu diperlakukan seperti itu ya?

    “Kalau anda tidak punya prestasi, jalan satu-satunya agar tetap eksis adalah memproduksi kontroversi sebanyak-banyaknya. Panen cemoohan sesadis-sadisnya dan sengeri-ngerinya. Kritik lawan selebay dan sedungu mungkin. Buat isu terus-menerus lalu ganti dengan yang lain secara cepat. Terus biarkan dirimu menjadi sorotan pembicaraan karena ketololan,” itulah strategi konsultan kampret yang saya amati, kata Asaro Lahagu di SS.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.