Kolom Eko Kuntadhi: STRATEGI KAMPANYE TRUMBOWO

1
596

“Umurmu berapa Kum?” aku iseng bertanya pada Abu Kumkum.

“Gak tahu, mas.”

“Lho, kok gak tahu?”

“Ya, namannya umur mana ada yang tahu, mas. Itu rahasia Allah,” jawabnya santai.

 

Memang capek ngobrol sama bakul minyak telon oplosan ini. Tapi benar juga, sih. Umur, jodoh, rezeki itu ada di tangan Tuhan. Manusia bisa menjaga kesehatan dan keselamatan, kalau sudah sampai umurnya, gak ada yang bisa halangi. Prabowo bisa saja ngotot mau jadi Presiden, kalau garis tangannya gak ke sana, ya akan gagal terus.

Meskipun –saking ngototnya– dia meniru Donald Trump dalam cara komunikasinya.

Di hadapan peserta Munas LDII beberapa waktu lalu, Prabowo mendengungkan slogan ‘Make Indonesia Great Again’, meniru Trump yang mengucapkan ‘Make America Great Again’, dalam kampanyenya melawan Hilary Clinton. Trump membangun slogan itu dengan terlebih dahulu menyebarkan ketakutan di kalangan warga AS.




Pertama, mereka ditakutkan dengan Islam. Dalam kampanye Trump Islam dipandang sebagai energi perusak yang membahayakan. Orang-orang Islam dianggap sebagai biang teroris yang barbar dan biadab. Oleh sebab itu, Trump menutup pintu terhadap semua imigran muslim karena dianggap akan menyebarkan terorisme di AS.

Padahal Trump bersahabat baik dengan Raja Saudi atau emir-emir yang menguasai Timur Tengah.

Bukan hanya kepada Islam. Trump juga membangun ketakutan pada imigran kulit berwarna. Imigran asal Meksiko dan Amerika Latin menjadi sasarannya.

Pada soal ekonomi, Trump membangun ketakutan pada China. Memang secara ekonomi China mulai menguasai dunia. Produknya masuk ke AS dengan murah. Trump melancarkan serangan dengan mengatakan Amerika telah dikuasai China dan jika dibiarkan negerinya akan tergadai.

Sayangnya bagi tim kampanye Hilary, ketakutan yang disebar Trump itu dianggap menggelikan dan recehan. Bagaimana mungkin seorang Capres menggebyah uyah pemahaman soal Islam. Teroris merupakan sempalan dari tafsir keagamaan ala Wahabi, bukan mewakili Islam secara keseluruhan. Lagipula AS masih mesra bersahabat dengan negara berpenduduk muslim.

Tapi, penduduk AS yang memang paranoid termakan omongan Trump. Kebencian mereka pada Islam, ketidaksukaan pada imigran dan ketakutan pada dominasi China dijadikan senjata ampuh untuk menggaet suara. Dari penyebaran ketakutan itulah Trump memenangkan Pilpres di AS.

Sepertinya pola yang sama juga ingin dicontek Prabowo di Indonesia. Sebelum dia secara terang-terangan menjiplak slogan Trump, Prabowo dan timnya sudah lebih dahulu menyebarkan ketakutan ke rakyat kita. Sama persis dengan apa yang dilakukan tim kampanye Trump di AS.




Lihatlah. Bagaimana mereka menyebar ketakutan terhadap PKI. Setiap tahun isu PKI digoreng sampai hangus, padahal barangnya sudah mati sejak lama. Mereka juga menyebar ketakutan pada LGBT lalu menyalahkan pemerintah. Padahal tidak ada satu kebijakan pun dari pemerintah yang permisif pada perilaku seks menyimpang ini.

Sama seperti Trump, mereka juga membangun ketakutan pada penguasaan asing dan China, dengan istilah aseng dan asing. Padahal di jaman Jokowi Freeport berhasil dikuasai Indonesia. Blok minyak Rokan dan Mahakam kembali ke Pertamina. Masih banyak lagi cerita pemerintah mengambil alih eksplorasi sumber daya alam dari tangan asing.

Jika Trump berhasil membangun ketakutan pada rakyat AS, tim Prabowo justru malah membangun ketakutan dengan cara melucu. Mereka menakut-nakuti rakyat terhadap dampak pembangunan jalan tol.

“Buat apa dibangun jalan tol. Yang bisa menikmati hanya mereka yang punya mobil. Motor gak bisa lewat,” ujar mereka.

“Iya, buat apa juga dibangun Bandara. Perahu gak bisa lewat sana,” jawab rakyat serentak.

Trump mempelopori slogan itu dilatarbelakangi semangat rasialisme. Dia mendorong supremasi kulit putih seperti yang terjadi di jaman Ku Klux Klan (KKK). Waktu itu, warga kulit putih AS menguasai budak kulit hitam dan kulit berwarna. Bahkan sebelum masa itu, kehadiran pendatang kulit putih di Benua Amerika menyebabkan penderitaan pada Suku-suku Indian, sebagai suku asli Benua Amerika.

Setelah berhasil merampas tanah-tanah orang kulit merah, penduduk kulit putih menguasai pertanian dan menjadi tuan tanah di sana. Mereka mengimpor budak dari Afrika. Budak-budak kulit hitam hidup bagaikan setengah manusia, setengah hewan.

Kalau Anda disuguhkan film koboi, yang menceritakan suku Indian adalah penjahat, itu adalah cara bangsa kulit putih memutarbalikkan sejarah. Padahal merekalah yang merampas tanah-tanah warga Indian. Merekalah yang mengusir penduduk asli dari ladang perburuannya. Kisah-kisah dalam cerita Old Surehand karangan Karl May menggambarkan dengan jelas konflik peradaban itu.




Lalu Amerika berubah. Perbudakan dihapuskan. Mereka menerapkan kehidupan sosial yang terbuka. Orang kulit hitam dan kulit berwarna masuk berimigrasi mengejar sebuah impian di negeri terbuka itu.

Kehidupan ekonomi mulai terbagi. Warga kulit putih bukan lagi satu-satunya pemilik sumberdaya ekonomi. Masuknya imigran yang bersedia bekerja apa saja dengan bayaran murah menggeser para pekerja kulit putih.

Uniknya, terhadap Islam, justru malah kebalik. Kelompok ini malah mendeskriditkan sikap Islam yang ramah dan toleran. NU diserang. Islam Nusantara sebagai ciri keagamaan masyarakat lokal dikafir-kafirkan.

Malah mereka yang sering menampilkan wajah Islam yang beringas. Yang mentang-mentang dan mau menang sendiri. Kelompok-kelompok pendukung Prabowo justru banyak diisi oleh tokoh-tokoh yang berwatak puritan dalam beragama.

Strategi membangun ketakutan ini tampaknya mau digoreng dengan kasus Ratna Sarumpaet. Bermodal hoax, mereka ingin menuding Pemerintahan Jokowi suka menganiaya nenek-nenek. Eh, gak tahunya, yang hendak mereka jadikan simbol cuma nenek-nenek genit yang sibuk mengurus wajahnya. Kasus ini seperti menempeleng bagian belakang kepala Prabowo.

Dalam bahasa yang lebih akrab, Prabowo ‘dikelepak’ Ratna Sarumpaet. Atau ditoyor.

Tapi, seperti kata Abu Kumkum. Umur, jodoh dan nasib gak ada yang tahu. Kini usia Prabowo memasuki 67 tahun. Dia telah berkali-kali gagal maju sebagai Capres. Makanya Pilpres kali ini dia begitu ngotot mengalahkan Jokowi, sampai rela menjiplak strategi kampanye Trump mentah-mentah.

Ketika ekonomi kita dipuji dunia bahkan dijadikan salah satu contoh keberhasilan dalam suasana perang dagang yang tidak menentu, Prabowo malah teriak ekonomi kita hancur. Padahal dia sendiri dan Sandiaga Uno bertambah kekayaannya. Kalau ekonomi hancur, bagaimana bisa mereka semakin kaya?

Sandiaga juga sama. Dia ikut-ikutan menyebar ketakutan denga informasi hoax. Yang tempe setipis kartu ATM-lah. Atau harga makan di Indonesia lebih mahal dari Singapura. Jelas saja omongan Sandi ditujukan buat orang yang gak pernah dolanan ke Sinagapura. Jadinya gampang ditipu.

Jikapun ekonomi kita stabil, inflasi di bawah 3%, harga-harga stabil. Gak mungkin mereka mau mengakui hasil tersebut. Sebab strategi mereka memang cuma menyebarkan ketakutan.




Yang mereka lupa, warga Indonesia ini gak mudah ditakut-takuti. Wong, film horor selalu menempati jumlah penonton paling banyak. Atau, ketika terjadi teroris malah jadi bahan tontotan. Jadi, ketakutan yang disebar Prabowo selain gak masuk akal juga hanya layak jadi bahan tontotan.

“Kum, kenapa ya, mereka gak mau mengakui keberhasilan Pak Jokowi?” tanyaku.

“Gak mungkin, mas. Itu sama saja mereka punya mantan yang mau nikah sama orang lain. Eh, dia yang disuruh menyebarkan surat undanganya. Sakiiitttt…”

1 COMMENT

  1. “Teroris merupakan sempalan dari tafsir keagamaan ala Wahabi, bukan mewakili Islam secara keseluruhan.”
    Betul sekali pernyataan ini. Wahabi, salah satu cabang dari ‘radikalisme’ yang sekarang dipakai sebagai pengganti ‘komunisme’ yang sudah tidak laku itu. Komunisme sudah tidak bisa memecah belah dunia, tak bisa lagi dipakai sebagai alat divide and conquer seperti pada abad lalu. Tetapi orang-orang neolib/NWO belum menyerah bikin politik divide and conquer itu. Mereka ciptakan ‘radikalisme’ dalam berbagai bentuk disesuaikan dengan keadaan atau kesedaran rakyat tiap negeri. Di Indonesia jadi HTI/Wahabi, di Afrika jadi Boku haram, di Irak. Timur Tengah jadi ISIS, di Eropah jadi ‘new nazi, atau nordic resistence di Skandinavia, di AS jadi neo nazi atau antifa dsb dsb, seluruh dunia diberlakukan radikalisme seperti komunisme pada zamannya.

    Kontradiksi Utama dunia abad lalu, ialah antara komunisme kontra demokrasi atau blok Timur kontra blok Barat. Sekarang tidak ada lagi kontradiksi itu karena komunisme sudah ‘lenyap’. Dipakailah radikalisme dengan berbagai penjelmaannya di tiap negeri. Dan jelas bahwa kontradiksi utamanya sekarang ialah perjuangan nasional bangsa-bangsa dunia disatu pihak, dan dipihak lain ialah perjuangan dari pihak neolib/NWO untuk menguasai dan bisa menjarahi SDA negeri/bangsa lain. Radikalisme pengganti komunisme akan mereka teruskan selain cara-cara lain seperti narkoba, sex trafficking, pedofil, child prostitution dsb.
    Sekarang dengan pengetahuan dan informasi lengkap dari internet juga semakin gampang untuk bisa menilai seseorang politikus berdiri dimana secara politis dengan mengkaitkan hubungan dan pemikirannya dalam KONTRADIKSI UTAMA dunia itu.

    “We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.
    We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example — we will shine — for everyone to follow.” – pidato peresmian Trump tahun lalu. Disini jelas sikap nasionalis Trump.
    Lebih mengesankan lagi dia bilang;
    “We must speak our minds openly, debate our disagreements honestly, but always pursue solidarity. At the bedrock of our politics will be a total allegiance to the United States of America, and through our loyalty to our country, we will rediscover our loyalty to each other.”

    Ini sangat cocok dengan keadaan negeri kita sekarang ini, saat-saat pilpres ini. HANYA DENGAN DASAR KESETIAAN KEPADA NATION NKRI INI, KITA AKAN MENEMUKAN KESETIAAN SESAMA KITA. Karena itu waspadalah selalu gosokan dari luar yang pakai radikalisme untuk memecah belah. Pakailah selalu kepentingan nasional atau kepentingan global neolib/NWO dalam menilai soal-soal komplex. Dengan dasar KONTRADIKSI UTAMA ini, dengan cepat kita bisa menilai seorang politikus berdiri dipihak mana dalam kontradiksi itu. Gampang menilainya dimana berdiri Obama, Clinton atau Bush, dan dimana berdiri Trump atau Nigel Farage. Begitu juga semua ahli-ahli dunia bisa dengan cepat menilai dengan melihat sikapnya atas KONTRADIKSI UTAMA itu. Misalnya dimana berdiri prof Chossudovsky, Henry Makow dan Michael Glennon, atau Milton Friedman.

    Sudah pasti bahwa penilaian seperti ini juga berlaku di Indonesia, terutama dalam tahun ‘perang politik’ menyongsong pilpres 2019. Dari sikap-sikap dan pendirian politiknya selama ini bisa dipastikan bahwa Jokowi berada dipihak kepentingan nasional dalam kontradiksi utama itu. Misalnya terlihat jelas bahwa beliau lebih mengutamakan kepentingan rakyat atau bangsa ini daripada kepentingan luar atau kepentingan dia sendiri atau keluarganya. Bisa dilihat jelas bedanya dengan presiden Soeharto atau ex PM Malaysia Najib Razak. Kedua orang ini tentu tidak bisa dibilang berada dipihak nasionalis dalam KONTRADIKSI UTAMA itu, tidak mungkin. Kalaupun belum bisa juga dikatakan kalau kedua orang ini adalah orang-orang neolib/NWO. Yang pasti ialah mereka digunakan dan dimanfaatkan oleh kekuatan neolib/NWO itu. Sama halnya dengan Prabowo/Sandi, belum bisa dikatakan orang-orang neolib/NWO, tetapi dalam politik divide and conquer melawan nasionalis Jokowi, orang-orang pengganti komunis itu (massa kaum radikalis) jelas dipakai sebagai dukugngan bagi Prabowo/Sandi. Jadi TIDAK DIRAGUKAN siapa yang berusaha mendukung mereka.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.