Kolom Bastanta P. Sembiring: BERPRESTASI DALAM KETERBATASAN DAN KURANG PERHATIAN

1
346

Disabilitas, difabel, atau keterbatasan diri (disability) atau penyandang cacat dapat bersifat fisik, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi (wikipedia.co.id).

 

Kita harus jujur, bahwa masyarakat secara luas masih memandang kaum disabilitas sebelah mata. Memperlakukan mereka layaknya anggota masyarakat kelas dua. Ini terbukti dalam perancangan fasilitas bersipat umun masih mengabaikan pengguna dari kaum disabilitas. Demikian juga soal pemberdayaan serta pengakuan akan kemampuan yang mereka miliki.

Hanya sedikit fasilitas yang diperuntukkan bagi mereka di ruang-ruang umum di kota-kota di Indonesia.

Bahkan salah satu yang harusnya dan sangat vital yakni sektor transportasi yang sangat tidak ramah kepada kaum disabilitas. Padahal ini sangat mereka butuhkan untuk mendukung aktivitas mereka.




Dalam survey lokasi di applikasi Google Maps yang sering saya ikuti (kebetulan saya penguna aktif google maps dan google earth), banyak sekali pertanyaan tetang ketersediaan fasilitas ramah kaum disabilitas. Misalkan, apakah tersedia pintu masuk, parkir khusus, tempat duduk khusus, dsb.

Dari survey ini juga dapat kita asumsikan bahwa, di suatu negara, mungkin di negara asal pembuat aplikasi ini, fasilitas-fasilitas tersebut tersedia di tempat umum. Namun, dari banyak pertanyaan untuk banyak lokasi yang saya kunjungi selalu saya jawab ‘tidak’, karena memang tidak ada tersedia (di Indonesia).

Dalam banyak diskusi, jarang sekali mengangkat topik hak-hak kaum disabilitas. Bahkan, setelah perhelatan Asian Paragames dimana Indonesia sebagai tuan rumah berhasil mengumpulkan 135 mendali (37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu) dan bertengger di posisi ke 5 dalam peraihan mendali dari 43 negara peserta, isue hak-hak penyandang disabilitas belum begitu menjadi perhatian masyarakat; utamanya dalam diskusi-diskusi politik.

Saya jadi ingat perkataan seorang antropolog yang mengatakan “mustahil di Indonesia akan berdiri partai hijau”. Hal ini beliau ungkapkan untuk mengambarkan betapa issue lingkungan yang kurang diminati politisi, demikian juga dengan isue-isue HAM, utamanya bagi kaum disabilitas.




Menjelang Pemilu 2019 (Pileg dan Pilpres), belum juga kita lihat ada Parpol atau Caleg yang mengangkat issue berkaitan dengan hak-hak kaum disabilitas dan lingkungan sebagai tema utamanya, setidaknya nomor dua atau tiganya. Masih saja berkutat pada kata-kata jujur, bersih, muda, milenial, dsb yang sudah dapat kita tafsirkan ke mana arahnya dan terkesan ikut-ikutan saja meramaikan.

Jadi, jangan salahkan kalau kita berbicara disablitas orang akan ingat Jokowi. Karena memang itu satu-satunya yang orang Indonesia ingat, yakni “Jokowi memperlakukan kaum disabilitas seperti halnya siapa saja” dan itu jelas kita lihat dan dapat kita bandingkan antara Asian Games dan Asian Paragames, pemerintah saat ini memberi perlakuan yang sama kepada mereka.

Melihat kondisi perpolitikan di negeri ini, dengan aliran-aliran partai politiknya, saya merasa geli jika membandingkan dengan berita yang saya baca beberapa bulan lalu yang juga sempat ramai di media. Al-Shabaab, sebuah kelompok teroris di Somalia, yang melarang penggunaan plastik untuk selamatkan bumi.

Bandingkan coba dengan di Indonesia yang katanya partai nasionalis dan partai agamis, tetapi yang dibagikan kepada calon pemilihnya cuma berita hoax, fitnah, ujaran kebencian, politik identias, dsb.




Demikian juga dengan pergerakan masa dan mahasiswa yang turun ke jalan. Saat ini kebanyakan itu hanya terkait masalah ketersinggungan saja. Bayangkan! Karena ketersinggungan kita begitu antusias turun ke jalan. Apakah kaum disabilitas tidak sangat tersingung pada kita?

Sangat! Tetapi mereka membalasnya dengan pembuktian diri melalui prestasi, bukan dengan tersulut emosi lalu anarki. Itulah kaum disabilitas yang serba terbatas itu, memberi aksi dengan cara yang elegan dan mengagumkan, terkadang di luar nalar dan kemampuan kita.

Mejuah-juah Indonesiaku!





1 COMMENT

  1. “Kita harus jujur, bahwa masyarakat secara luas masih memandang kaum disabilitas sebelah mata.”
    Betul, masih jauh sekali tingkat kesedaran dalam soal ini jika dibandingkan dengan di barat. Sepertinya perkembangan ekonominya sangat banyak menentukan. Tepikir juga kadang-kadang, belas kasihan apa terganting ekonomi ya? Atau karena masih kurang pengetahuan dalam soal disabilitas ini? Saya melihat di barat banyak sekali ahli soal ini dan terus dikembangkan juga, sehingga pengetahuannya semakin mendalam. Dan negara sudah mampu membiayai. Ini dari segii ekonomi tadi.
    Tetapi biar bagaimanapun diskusi dan dialog soal ini banyak juga membantu, seperti menuliskannya dalam artikel ini. Apapun kalau dibicarakan, didialogkan, iranaken, berarti ada yang prihatin, ini juga sangat membantu bagi keluarga atau orang tua yang punya anak atau anggota keluarga tertimpa disabilitas itu, apapun namanya. Kalau tak dibicaraakan lama-lama jadi ‘tabu’ dan malah terasa sungkan ngomongkannya.
    Omongkan dan jadikan PENGETAHUAN. Dan sikap ini akan meringankan. Tulislah terus dan lebih banyak, terutama bagi generasi muda bangsa ini. Pencerahan, pencerahan, meringankan.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.