Kolom M.U. Ginting: MENYEMAI RASA TAKUT

1
399

Betul memang, RADIKALISME model HTI, FPI, 411, 212, ISIS, dan Bokuharam adalah pengganti (lanjutan) dari alat divide and conquer KOMUNISME yang sudah tidak laku itu. Di Eropah dan AS, radikalisme pakai nama lain seperti Neo-Nazi, Nordic-Resistence (Skandinavia), dsb.

Pencipta radikalisme adalah sama seperti pencipta Marxisme/ Komunisme, yaitu bank kartel internasional NWO (New World Order).

Dunia sudah tahu bahwa komunisme adalah alat pecah belah untuk mendirikan tirani NWO, bukan untuk menyelamatkan kaum proletar. Orang Indonesia sudah punya pengalaman konkret dalam hal komunisme sebagai alat pecah belah ini. Hanya saja, dulu orang kita masih belum mengerti, karena belum ada yang menelanjangi soal komunisme di era ketertutupan abad lalu (abad 20).




Rahasianya masih sangat ketat tertutupi. Sekarang, sudah tersebar luas hakekat komunisme itu. Tinggal baca, semua sudah tersedia di internet. Setelah itu, waktunya menyadari bahwa radikalisme sudah menggantikan komunisme.

Radikalisme masih perlu terus dipelajari dan diwaspadai. Dipelajari cara dan taktiknya yang sangat banyak ragamnya dan disesuaikan dengan kesadaran/ kultur tiap negeri atau lokasi. Contohnya, sebuah keluarga di Surabaya dibrainwash sesuai dengan kesedaran keluarga itu. Walaupun butuh biaya dan waktu, tetapi berhasil melaksanakan tujuannya: Memecah belah dan menakut-nakuti rakyat banyak.

Orang yang takut dan bingung gampang dikendalikan: KUASAI. Itulah divide and conquer.




1 COMMENT

  1. “Menyemai Rasa Takut”
    Berbagai cara telah dilakukan dalam menyemai rasa takut dan pecah belah nation-nation dunia, dan akan dilanjutkan terus sampai tujuan utama tercapai yaitu NWO dari pihak deep state bank kartel dunia.

    Hari ini 24/10 dalam rangka politik ‘menyemai ketakutan’ dikalangan rakyat, dikirimlah paket bom atau surat bom ke mantan presiden Obama, ke Hillary Clinton, ke George Zoros dan satu lagi ke mantan kepala CIA. Katanya semua bom ini sudah berhasil di ‘jinakkan’ dan tidak sampai bikin mala petaka bagi ke empat orang itu. Diberitakan dengan tendensius bahwa semua sasaran ini adalah yang banyak dikritik atau ‘diserang’ oleh Trump selama ini dalam pencetusan sikap politiknya.

    Bahwa Trump adalah musuh utama deep state dan tiap saat akan cari kesempatan menjatuhkan Trump, sudah diketahui oleh publik AS. Belakangan dalam kampanyenya untuk pemilihan Parlemen dan Senat bulan depan, Trump lebih jelas lagi menyatakan ‘Saya seorang nasionalis’ dan ‘saya bangga karena itu’ katanya. Dan yang lebih menarik lagi dia bilang kalau dia bukan seorang nasionalis putih, tetapi nasionalis demi kepentingan negeri Amerika katanya. Jadi bukan naionalis yang rasist.

    Kesuksesan Trump menangani AS dalam soal ekonomi bikin gelisah lawan politiknya (D). Demokrat menciptakan ‘mobs’, sedangkan Republikan menciptakan ‘jobs’, karena itu tidak ada alasan bagi publik AS untuk memilih D dalam pemilihan kali ini, kata Trump. Terlihat memang sangat payah bagi D berkampanye, tetapi sangat ringan bagi R dan Trump, karena jobs bertambah dan pengangguran drastis berkurang walaupun hanya baru setahun kekuasaan Trump. Dimana-mana R (Trump) disambut sangat meriah dan antusias, termasuk orang hitam dan latino.

    Memusuhi deep state atau the secret government, bagi seorang presiden AS sangat berbahaya, sudah terbukti dalam sejarah AS. Tewasnya Lincoln atau Kennedy merupakan peringatan bagi Trump, dan Trump sampai hari ini berhasil menghindarkan diri dari nasib yang menimpa kedua presiden ini. Dimana kelebihan Trump? Apakah Lincoln atau Kennedy bisa terhindar dari maut sekiranya punya sikap dan watak seperti Trump?

    Trump bukan hanya pandai meningkatkan ekonomi rakyat, tetapi juga pandai ‘membingungkan’ lawan yang punya peluru tajam. Pengalaman bisnisnya selama puluhan tahun, dia manfaatkan sangat efektif. Di Gedung Putih banyak orang-orang neolib-globalis, walaupun dia terang-terang dan tiap hari menyatakan anti globalis, anti deep state, anti the establihment dst. Sebentar dia memusuhi Putin, besok teman lagi. Bangun tembok perbatasan Mexico, hapuskan NAFTA. Memusuhi Kim Korea, besok teman lagi. Dengan China juga begitu. Walaupun dia berhati-hati dengan Duterte atau Jokowi, tak jelas juga kenapa. Lalu pindahkan kedutaannya ke Jerusalem, langkah briliant yang tidak dimengerti oleh lawan maupun kawan.
    Survival Strategi . . . bagi dirinya dan bagi perkembangan AS sebagai satu nation. Inilah kelebihan Trump, belum pernah terjadi dalam sejarah AS.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.