Kolom Ganggas Yusmoro: INDONESIA TIDAK BOLEH ADA KONFLIK

0
317

“Mas, bagaimana tanggapan anda soal bendera HTI yang diklaim sebagai bendera tauhid bekibar di halaman Kantor DPRD Poso bahkan masif dibawa oleh para pendemo?” Ini pertanyaan banyak orang ketika kumpul-kumpul semalam.

“Indonesia tidak boleh ada konflik,” jawabku datar.

“Tapi mustinya negara harus tegas.”

“Hemmm ..” Saya menghela napas sejenak.

“Begini, sejak Jokowi membubarkan HTI, secara organisatoris memang HTI sudah dianggap bubar, namun secara ideologi, eksitensi HTI yang ingin menegakkan negara khilafah tentu semakin menggelora. Mereka tentu akan menggunakan segala cara untuk mewujudkan cita-cita mereka. Jika diamati, tragedi pembakaran bendera HTI di Garut adalah salah satu grand design yang sudah direncanakan secara terukur. Buktinya, di samping ditemukan pengiriman bendera satu mobil, esok harinya mereka melakukan demo di Solo dengan mengerahkan ribuan bendera.”




“Mereka sudah keterlaluan. Pemerintah terkesan lamban dan tidak bernyali.”

Mereka saya pandangi satu per satu.”

“Ada hal yang harus dipertimbangkan. Jika negara melakukan tindakan represif, tegas sesuai dengan selera kalian, tentu akan terjadi ekses dan resikonya terjadi konflik horisontal. Kenapa ? Yang dihadapi dan dilawan adalah soal “keyakinan”, soal dimana manusia rela bertaruh nyawa demi keyakinan tersebut. Mereka sudah tidak memikirkan rasionalitas. Mereka orientasinya surga. Ini tentu bisa berakibat dan berdampak pada pertumpahan darah dan perang saudara yang berkepanjangan. Bayangkan saja jika hal ini terjadi, kita semua tidak bisa duduk manis ngopi-ngopi di malam-malam begini “

Semua diam dengan pikirannya masing-masing.

“Yang harus diwaspadai adalah, sepertinya mereka ingin agar Negara terpancing. Ingin agar terjadi konflik, ingin agar negara ini terbakar. Seperti halnya Suriah. Ketika negara tersebut konflik, ujug-ujug muncul Amerika yang nimbrung. Lalu Rusia juga. Kenapa banyak negara ikut nimbrung? Di samping menjual senjata, mereka ada kepentingan dengan SDA Suriah. Sangat sederhana, bukan?”

“Jadi, harus dibiarkan?”

“Ya tidaklah. Semua harus disikapi secara akurat dan terukur. Analoginya gini, ketika situasi panas, tentu untuk memadamkan juga harus penuh resiko, biarkan dingin dulu. Apalagi menjelang Pilpres. Tentu semua hal yang mengarah ke konflik harus diselesaikan secara matang dan hati-hati. Semua kebijakan harus berorientasi pada rasa aman dan damai. Kalau grusa grusu, Indonesia akan pecah. Indonesia akan berdarah-darah. Ini yang diinginkan oleh mereka.”




“Yakinlah, Pak Tito yang didampingi oleh TNI, serta orang-orang sekitar Jokowi, mulai Pak Wiranto, Pak Agum Gumelar serta para tokoh lain tidak akan grusa grusu seperti halnya mantan Danjen Kopasus yang bisa ditipu oleh nenek-nenek itu.”

Semua mengangguk-angguk.
.

#SelamatHariSumpahPemuda.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.