Kolom Asaaro Lahagu: PERANG ISU CERDAS JOKOWI AKHIR OKTOBER

1
507

Perang isu menjelang Pilpres 2019 semakin seru. Tentu saja perang isu sangat menentukan. Ia bisa menjatuhkan lawan dengan mudah. Berkaca pada Pilpres Amerika pada tahun 2016 lalu, serangan isu yang dilancarkan terus menerus oleh Donald Trump mampu menekuk Hillary Clinton.

Tak perlu jauh-jauh melihat bukti ampuhnya serangan isu.

Serangan isu yang dilancarkan kelompok Rizieq dan kawan-kawan pada tahun 2017 lalu mampu menyingkirkan Ahok. Lewat serangan isu pula, Anies-Sandiaga yang tak diperhitungkan bisa diorbitkan.




Hanya dengan modal isu, lawan bisa dirudal dengan mudah. Tak heran baik pasangan Jokowi-Maaruf maupun Prabowo-Sandi saling melancarkan serangan isu untuk menguasai medan perisuan. Isu yang brilian akan diributkan lawan, dan sibuk memakannya.

Saya sendiri gemas melihat elit di Kubu Jokowi. Dari bulan September-Oktober ini, kebanyakan mereka diam. Mereka terlihat begitu yakin bahwa Jokowi-Ma’ruf pasti menang.

Padahal soal kemenangan pada Pilpres itu hanya sebatas isu. Hanya sebuah isu, lawan bisa dihancur-leburkan. Dalam pembakaran bendera HTI misalnya, nyaris isu itu meledak. Isu pembakaran bendera HTI hampir sukses diputar-balikkan sebagai pembakaran bendera Tauhid. Untung saja isu itu gagal total dibesarkan oleh kubu lawan.

Saya terus mengamati langkah Airlangga Hartanto. Menteri Jokowi sekaligus ketua Golkar itu, suaranya belum terdengar. Bagi saya secara pribadi, Airlangga Hartanto seharusnya rajin melempar isu apalagi di tahun politik ini. Sampai hari ini tak satupun isu berhasil dilempar oleh Airlangga. Airlangga cenderung mengambil jalan aman sesuai dengan posisi partainya Golkar. Saya yakin, posisi Golkar saat ini cukup aman. Ke kiri aman, ke kanan juga aman.




Kalau seandainya Jokowi menang, Golkar tetap jaya. Sebaliknya jika Prabowo menang, Golkar tetap jaya juga. Golkar akan dengan mudah merapat ke kubu Prabowo jika Jokowi kalah. Ini yang perlu diwaspadai oleh PDIP, pendukung utama Jokowi. Golkar itu pragmatis. Ke mana angin melambai, ke situ badannya meliuk.

Golkar hanyalah salah satu contoh bagaimana diamnya para elit partai pendukung Jokowi. Beberapa partai lain bergelagat sama. Hal itu terlihat di tubuh elit PKB dan PPP. Partai ini seperti santai dan rileks. Belum lagi Perindo yang mendua. Saya yakin Perindo akan mudah berubah arahnya. Jika Prabowo memang, Perindo dengan enteng meninggalkan Jokowi.

Diam dalam dunia politik sama saja dengan mati. Diam itu bukanlah emas. Jika anda diam, tak bersuara, maka anda mati. Kalau anda terus bergerak, terus mengoceh, berarti anda hidup. Prinsip ini juga yang dipahami benar oleh Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Kedua orang ini kerjanya mengoceh. Dan memang itu yang benar.

Untungnya Jokowi tetap lihai melempar isu. Ketika partai pendukungnya memilih diam, Jokowi tampil. Ia melempar isu secara terukur. Memang melempar isu, sangat beresiko. Perhatikanlah serangan isu yang dilempar oleh Kubu Prabowo soal Ratna. Tanpa perhitungan matang, Prabowo menganggap isu Ratna itu sangat seksi. Secara grasa-grusu, iapun langsung melakukan konferensi pers.

Ketika isu terpental, isu yang dilempar langsung berbalik menghantam Kubu Prabowo sendiri. Dampaknya elektabilitas turun dan pemilih bimbang lari terbirit-birit. Tidak mudah mengembalikan posisi semula ketika isu strategis yang dilontarkan gagal.

Hal yang sama bagi Jokowi. Ia tentu tidak boleh diam terus juga. Situasi politik yang semakin panas, memaksa dia untuk terus melempar isu. Tentu isu yang dilempar harus dipikirkan matang-matang. Kalau tidak bisa berbalik menyerang dirinya sendiri.

Hingga menjelang akhir bulan Oktober ini, serangan isu yang dilancarkan Jokowi saya lihat cukup cantik. Ia dengan cerdas dan dengan momen yang tepat melempar isu agar setiap orang meninggalkan politik kebohongan. Dalam sebuah pidatonya, Jokowi terus menggarisbawahi untuk meninggalkan politik kebohongan.

Sontak saja, isu politik kebohongan ini dimakan dan dikerubutin oleh Kubu Prabowo. Ada yang tersinggung, tersenggol dan tersudut. Intinya, apapun janji yang dilontarkan oleh Kubu Prabowo hanya satu kata bisa dinetralisir oleh Jokowi dengan sentilan bohong.




Jika Prabowo mengatakan 99% rakyat hidup pas-pasan, Jokowi sebenarnya tinggal menyentilnya bohong. Jika Sandiaga gelisah tentang situasi ekonomi, Jokowi tinggal mengatakannya bohong. Kata bohong bisa menjadi senjata isu Jokowi untuk membungkam lawannya. Sayangnya para elit di Kubu Jokowi terlihat diam. Padahal ada senjata maut di depan mereka dan bisa dengan mudah menjegal lawan-lawannya.

Maka tak heran Jokowi sendiri yang membuat isu. Beberapa hari yang lalu, ketika para elit di kubunya cari aman, Jokowi tampil ke depan melancarkan serangan isu. Ia mengeluarkan isu baru soal para politikus sontoloyo. Jokowi menggaris-bawahi politikus sontoloyo. Ya, politikus sontoloyo.

Sontak saja kata sontoloyo ini dikerubutin dan disambut mirip umpan disambut ikan oleh Kubu Prabowo. Lagi-lagi ada yang tersinggung, ada yang tersenggol dan ada yang mencoba memakai senjata itu menyerang balik Jokowi. Tetapi, karena Jokowi sudah memikirkan isu itu secara matang, maka ia sulit diserang balik lewat isu itu.

Belum selesai isu sontoloyo, Jokowi kembali melempar isu baru soal gratisnya jembatan Suramadu. Kubu Prabowo sebetulnya terbelalak. Apalagi di sana ada SBY yang meresmikan tol itu sebelumnya. Isu penggratisan jembatan Suramadu menggema ke seluruh negeri. Nama Jokowi dipuji. Sebuah kebijakan tepat. Sementara SBY-Prabowo tersenggol kecut.




Tak ada respon lain dari kubu Prabowo selain bersungut-sungut. Mereka serba salah. Jika menentang kebijakan itu, berarti mereka tidak pro-rakyat. Sebaliknya jika mereka mendukung kebijakan itu, berarti mereka sontoloyo, alias membohongi diri sendiri. Apapun respon Kubu Prabowo soal jembatan Suramadu, Jokowi tentang untung. Inilah salah satu pukulan cerdas Jokowi di akhir Oktober ini.

Bersamaan dengan penggratisan jembatan Suramadu, saya lihat Jokowi kemarin melepas kirab satu juta Santri. Apa pesan Jokowi bersama satu juta santri itu? Pesannya jelas Hanya Jokowi yang bisa menghadirkan wajah Islam yang damai, bersahaja, dan melindungi NKRI. Mantap. #JokowiLagi.




1 COMMENT

  1. Artikel bagus soal isu. Isu yang tepat sasaran bisa berpengaruh sangat besar. Banyak perang dimulai dengan isu, seperti perang dunia 1. Penyingkiran Soekarno dan pecah belah 1965 dimulai dengan isu ‘kudeta untung’.
    Dulu dan sekarang juga, isu-isu jitu ini dipakai oleh globalis NWO untuk pecah belah termasuk perang, sekarang dipakai juga oleh orang-orang nasionalis anti globalis seperti Trump dan Jokowi juga. Isu berfungsi mengalihkan perhatian tetapi juga memusatkan perhatian.
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.