Kolom Edi Sembiring: NASIONALISME SUKU

Gerakan Ethnonationalism Karo Lewat Media Cetak Setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

1
291

Tadi baru baca majalah tahun 1930 dimana terjadi perdebatan antara Majalah Pandji Karo dengan Majalah Merga Si Lima (keduanya majalah Suku Karo, Sumatera Utara). Panji Karo itu didirikan G. Keliat (seorang Karo), sedangkan Majalah Merga Si Lima didirikan oleh missionaris asal Belanda, J.H. Neumann. Merga Si Lima adalah nama lain dari Suku Karo yang membatasi suku ini hanya melibatkan 5 merga (Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan).


Polemiknya soal adat dan agama. Saya pikir, memang masa itu, ini jadi persoalan besar; bagaimana menjaga posisi kalimboeboe (pihak pemberi dara yang disebut Tuhan Yang Terlihat) atau bagaimana menempatkan pengertian Tuhan dalam agama dari luar Karo di dalam adat Karo.

Pastinya lebih menguras pikiran dari pada kemauan untuk menolak disebut Batak. Padahal kita memang jelas-jelas bukan Batak.

Lalu, ada juga di tahun itu Majalah Bintang Karo. Ini majalah paling cerewet. Ketika koran yang lain mulai diam atas kejamnya petinggi perkebunan yang berkebangsaan Eropah, ini koran masih mengkritik. Pemiliknya Merga Perangin-angin Singarimbun. Pemilik modal dari Tiga Nderket dan 2 tokeh Cina. Merga Singarimbun ini masih keluarga dekat Alm Prof. Dr. Masri Singarimbun, sang pendiri Lembaga Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Bangunan pertemuan para pemuda Karo di Lapngan Merdeka, Medan, pada tahun 1930an. Bangunan ini menunjukkan ciri khas arsitektur tradiional Karo.

Mereka kecam bangsawan Melayu yang menari dansa dari Negeri Barat. Mereka punya mimpi spanduk Bintang Karo ada dibawa oleh semangat Jong Sumatranen Bond. Mereka punya rubrik humor “Ola Tawa” (Jangan Tertawa).

Saya akhirnya berpikir, kehebatan mereka jauh di atas rata-rata kita. Bagaimana mereka berpikir keras di jamannya dengan kesadaran nasionalisme tapi tetap mempertahankan tradisi suku. Itu di tahun 1930an.

Sementara kita sekarang ini, Tahun 2018, kebanyakan puas mengikuti arus banyolan Stand Up Comedy Politikus Sontoloyo.

1 COMMENT

  1. Kontradiksi utama berubah.

    “Bagaimana mereka berpikir keras di jamannya dengan kesadaran nasionalisme tapi tetap mempertahankan tradisi suku”. Tepat sekali pernyataan ini.

    Jiwa atau semangat nasionalis tumbuh semakin besar ke seluruh Indonesia terutama setelah Sumpah Pemuda 1928. Semangat ini memang dimulai dan tumbuh di daerah-daerah, yang mulai melihat dan mengeritik kekejaman penjajah Belanda. Semangat menentang penjajahan ini bagi orang Karo memang sangat nyata terutama yang tinggal di daerah Deli dan Langkat, dimana tanah-tanah subur penduduk (Karo) diambil oleh Belanda dijadikan perkebunan tembakau dan karet, tetapi dikontrakkan oleh Sultan Deli. Orang Karo tidak ditanya, tidak ikut berembuk, padahal tanah-tanah luas dan subur itu adalah tanah ulayat orang Karo. Daerah-daerah ini sudah lama didiami orang Karo jauh sebelum Sultan-Sultan atau Penjajah Belanda datang ke daerah ini. Perlawanan ini juga tertulis dalam sejarah Kemerdekaan (Perang Sunggal) disebut ‘Batak Oorlog’ oleh Belanda yang seharusnya adalah ‘Perang Karo’ menurut Dr Uli Kozok di akun FBnya.

    – Dr. Uli Kozok
    26 december 2014 •
    Tadi ada yg bertanya: “Perang Sunggal (Batak Oorlog 1872-1895). Kenapa disebut Batak Oorlog […]. Mohon pencerahannya Prof.”
    Memang membingungkan “Batak Oorlog” atau “Perang Batak” ialah istilah yang diciptakan oleh orang Belanda. Kini biasanya kita namakan “Perang Sunggal”. Yang dimaksud dengan “Batak” ialah “Karo”. Jadi terjemahan yang lebih tepat daripada “Batak Oorlog” adalah “Perang Karo”.

    Kontradiksi Utama ketika itu adalah antara Nation Indonesia kontra Penjajah dari Blanda. Nation Indonesia diwakili dalam perlawanan konkret oleh daerah-daerah yang bikin perlawanan langsung sebagai akibat kekejaman langsung dari pihak penjajah itu sendiri seperti di Deli dan Langkat terhadap Suku Karo yang tanah ulayatnya dirampok dijadikan perkebunan oleh sipenjajah.

    Orang Karo adalah sebuah suku bangsa Indonesia yang punya tradisi dan kultur sudah sangat tua di Sumatra, lebih dari 7400 tahun menurut hasil penggalian arkeologi USU di dataran tinggi Gayo. Karo dan juga semua suku-suku bangsa lain dalam Nation Indonesia punya daerah dan kultur yang menjadi modal utama dalam perjuangannya melawan penjajahan. Kultur dan daerahnya itulah yang telah menjadi modal utama secara nasional, dan begitulah semua suku-suku bangsa Bhinneka Tunggal Ika nation Indonesia.

    Suku Karo memang punya kharakter spesifik dalam perjuangannya menentang penjajahan seperti ‘Perang Karo’ itu, salah satu perang perlawanan paling lama hampir seperempat abad.

    Ketika era ‘progresiv’ akhir abad lalu mendominasi dunia terutama di negeri-negeri berkembang seperti Indonesia tahun 1960an, simpati dan solidaritas daerah dan suku bangsa menjadi sasarannya. Ketika itu disebut juga ‘daerahisme’, sukuisme, atau primordialisme dsb. Ini terutama digiatkan oleh orang-orang progresiv/komunis.

    Secara strategis jangka panjang, politik mengisolasi daerah dan kulturnya adalah politik besar NWO neolib global yang secara prinsip dan dasarnya adalah sangat menentang dan memusuhi nasionalisme, dan di Indonesia sudah sangat jelas bahwa nasionalisme itu tidak bisa dipisahkan dari kultur dan daerahnya, dan yang menjadi dasar perjuangan nasionalnya seperti daerah dan kultur Karo dalam melawan penjajahan itu. NWO bukanlah hanya teori, tetapi ada dalam kenyataan, dalam kehidupan sehari-hari seperti pecah belah yang tidak henti-hentinya dikobarkan terus di Indonesia seperti pecah belah 1965 dan juga sekarang ini terutama dalam menjelang pesta demokrasi pilpres 2019 ini. Soal kenyataan NWO ini bisa dilihat di youtube pidato Mahathir Mohamad dan Dr Chossudovsky dalam pertemuan/konferensi soal NWO 2015 di Kuala Lumpur. Bisa digoogle disini:

    “THE NEW WORLD ORDER: A RECIPE FOR WAR or PEACE!”

    Jelaslah sekarang bahwa NWO neolib internasinal ini menjadi musuh utama kepentingan nasional bangsa-bangsa dunia. NWO dengan segala macam organisasinya terus mengacau dan memecah belah bangsa-bangsa dan rakyat dunia demi mencapai tyrani internasioan NWO. Karena itu juga KONTRADIKSI UTAMA dunia telah berubah menjadi kontradiksi antara kedua kepentingan itu: KEPENTINGAN NASIONAL KONTRA KEPENTINGAN GLOBAL NWO. Ini berlaku dan terjadi dimana saja di semua negara dunia, bahkan termasuk di AS sendiri, dimana berlaku permusuhan utama antara deep state NWO kontra nasionalis Trump.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.