Kolom Eko Kuntadhi: DI ATAS BAJAJ (Menanti Senja di Jakarta)

0
173

Seputar Monas dan Tanah Abang dilanda kemacetan parah karena ulah para tumbila berselimut agama. Mereka membela selembar kain, yang kadang disengser-engser juga oleh mereka sendiri. Sebagian kain itu dijadikan tatakan duduk, agar pakaiannya gak kotor.

Anak-anak kecil dikerahkan.

Remaja yang sedang asyik-asyiknya memamerkan dirinya bangga mengibar-ngibarkan bendera hitam seperti hendak perang. Kapan lagi bisa meledek polisi naik motor tanpa helm kalau bukan di saat berkumpul bersama gerombolan itu?

Perempuan bercadar hitam, dijemur di tengah terik matahari. Anak mereka yang masih balita menangis di gendongan. Sebagian berteduh di bawah pepohonan. Sebagian duduk di troaltoar jalan. Entah apa yang mereka perjuangkan sampai tega menyeret bayinya dalam suasana yang tidak nyaman.

Dari speaker di mobil komando, saya mendengar orator membakar massa. Membawa-bawa nama Tuhan dan Nabi dengan suara keras, seolah Tuhan suka jika disebut namaNya sambil menghardik.

Nama Nabi disebut dengan teriakkan lantang, sepertinya cuma ingin menggambarkan bahwa agama ini selalu dihiasi dengan sesuatu yang keras, kasar, penuh teriakan, menghardik dan protes. Dengan cara itulah mereka menyebut Nama kanjeng Rasul. Saya rasa hampir sama dengan cara berceramah sebagian khotib Jumat yang juga hobi teriak-teriak.

Apalah kalau tidak berteriak maka dia tidak beriman?

Polisi memasang kawat berduri untuk barikade. Beberapa kendaraan berat diparkir. Jalan tertutup, yang menyebabkan macet ke seluruh ruas tersambung. Dan saya serba salah berada diantara kemacetan dan rombongan orang yang beranggapan cukup dengan mengibarkan bendera hitam sudah dijamin masuk surga.

Beberapa pilihan tersedia. Tapi, dari 5 kali ojeg online yang saya pesan, semuanya minta dibatalkan. Taksi tidak ada yang lewat. Akhirnya sama memilih Bajaj.

Nah, ini serunya. Bajak itu bisa meliuk-liuk diantara kemacetan. Supirnya gak terlalu peduli dengan bendera hitam bertulisan Arab. Dia sibuk mencari jalan alternatif karena di semua ruas kemacetan parah terjadi.

“Gak ikut demo, mas?” saya membuka pembicaraan kepada supir Bajaj.

“Gak, pak. Kalau ikut demo, setorannya siapa yang bayar?” jawabnya polos.

“Emang lagi demo apaan sih, mas?” tanyaku dengan niat memancing saja.

“Gak tahu, tuh. Katanya demo bendera. Bendera tauhid. Emang tauhid ada benderanya, pak?”

“Mbuh, mas.”

“Kalau mereka demo gini, yang kasian kan orang-orang kayak saya, ya, pak. Biasanya sudah dapat setoran. Ini dari pagi baru bawa 3 penumpang. Mereka takut karena ada demo ini.”

Saya cuma tersenyum kecut. Kami bicara tidak berhadapan. Dia memunggungi karena harus menyetir kendaraanya. Saya hanya memperkirakan ekspresinua saja. Tapi saya rasa dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada demo yang bikin lalu lintas ruwet. Ini terdengar dari suaranya.

Saya tidak tahu berapakah kerugian akibat separuh jalan ruas utama yang ditutup karena selembar bendera HTI? Berapa biaya karena kemacetan, bisnis yang terganggu, waktu yang terbuang dan keamanan yang capek? BBM?

Teman saya bilang, jika kebiasaan demo-demo seperti ini sering terjadi, maka investor malas masuk ke Indonesia. Lebih baik memilih Vietnam atau Kamboja. Atau sekalian China.

Vietnam ekonominya maju pesat karena stabilitas politik terjaga. China juga berlari karena pemerintahan yang kuat bahkan tangan besi. Keriwuhan kayak gini gak mungkin terjadi di China sekarang. Kalau pun terjadi, harus siap-siap digebuk.

Kini ekonomi kita bergerak lumayan, bisa tumbuh 5%. Inflasi kecil. Infrastruktur disiapkan. Secara umum kita baik-baik saja.

Tapi, demo berjilid-jilid sedang dibangun. Keamanan yang rapuh sedang dimainkan. Keamanan yang terganggu pasti membuat ekonomi jadi mahal. Mereka mau ekonomi tumbuh, tapi yang dilakukan malah sebaliknya. Merusak.

Contoh supir Bajaj tadi. Sejak pagi baru ngantongi. Duit Rp 90 ribu. Jauh dari setoran.

“Bener berhenti di sini, pak?” ujar supir Bajaj tadi. Dia saya suruh berhenti di sebuah mall.

“Wah, mau belanja, nih pak?”

“Gak, mas. Saya cuma mau numpang ngadem.”

Saya turun, memasuki mall. Mencari kafe, pesan teh tarik. Numpang duduk sejam. Menanti senja yang gak pernah indah. Di Jakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.