Kolom Asaaro Lahagu: YUSRIL LAWYER JOKOWI, BALAS DENDAM KE PRABOWO?

1
517

Yusril dukung Jokowi atau Yusril jadi lawyer Jokowi, tetap saya ketawa. Alasannya bukan karena Yusril berbalik dari pendukung Prabowo menjadi pendukung Jokowi. Bukan. Bukan juga karena Yusril mengikuti Ngabalin, dari kampret menjadi kecebong. Bukan. Lalu apa alasan saya ketawa?

Prabowo. Satu per satu pendukung Prabowo berguguran, laksana daun di musim gugur.

Kemampuan Prabowo untuk menyolidkan para pendukungnya berada di titik nadir. Prabowo tidak bisa merayu dan membujuk para pendukungnya agar tetap bersatu di belakangnya.

Prabowo kaku. Ia tidak pandai merayu dengan gombal si Yusril. Padahal Yusril itu jinak-jinak merpati. Kalau saja Prabowo cerdas merayu, menggombal dan menyentuh hati, maka Yusril tidak akan berbalik hati. Jangankan merayu, Prabowo kabarnya telah membuat sakit hati Yusril.

Yusril pernah menulis surat terbuka berisi Prabowo dengan Gerindranya sengaja membunuh partainya, PBB. Gerindra dan koalisi Prabowo tidak menganggap Yusril dengan PBB-nya saat sedang membentuk koalisi. Coba bayangkan dan renungkan pelan-pelan. Yusril yang mendukung Prabowo di MK pada tahun 2014 lalu, tiba-tiba dibungang. Bukan hanya dibuang, tetapi malah difitnah. Itu jelas sangat menyakikan.

Sakit hatinya Yusril tak tertahankan. Apalagi dia difitnah oleh Prabowo bahwa ia sulit ditemui. Rasa sakit itu ibarat pisau tajam ditusuk-tusuk plus digarami. Sakit benar. Yusril benar-benar sakit hati kepada Prabowo. Apalagi pasca surat terbuka Yusril itu, Prabowo tetap juga tak bergeming hatinya. Apa gerangan?

Prabowo sudah menutup belahan hatinya kepada Yusril. Prabowo sudah menganggap Yusril sudah kedaluwarsa. Sudah jadul. Sudah ketinggalan zaman. Saat melamar ke sana ke mari tahun 2016 untuk menjadi Cagub DKI, Yusril tak dilirik sama sekali oleh Prabowo. Ah, benar-benar sakit dan memalukan.

Bagi Prabowo, Yusril itu sudah selesai. Ia tak punya aura lagi. Tak punya daya magis. Ibarat mesin, Yusril sudah aus. Kalau singa, ia ibarat singa ompong, tak bergigi. Ia sudah ditelan zaman. Jadi, Yusril sudah tamat. Terserah mau ke mana Yusril.

“Emangnya gue pikirin,” guman Prabowo.

Melihat Prabowo tak meliriknya, hati Yusril gundah gulana. Ia sedih. Sakitnya tuh di sini. Kegundahan hati Yusril ini dibaca dengan penerawangan tingkat tinggi oleh Ketua Tim Sukses Jokowi, Erick Thohir. Erich Thohir, ahli penyentuh hati.

Getaran-getaran sentuhan Erick Thohir sampai ke hati Yusril. Ketika ia ditawarkan menjadi lawyernya Jokowi-Ma’aruf untuk Pilpres 2019, Yusril segera menyambut.

“Tapi gratis,” kata Erick Thohir.

“Tidak mengapa. Yang penting, aku bisa membalaskan dendam kepada Prabowo, si penyebar hoax itu,” jawab Yusril.

Maka resmi sudah, Yusril Ihzra Mahendra, menjadi pengacara Jokowi-Ma’aruf Amin dalam kapasitas keduanya sebagai Capres dan Cawapres.

Lalu, apa strategi Jokowi merangkul Yusril?

Pertama, mengurai kekuatan lawan. Jokowi mengurangi kekuatan lawannya Prabowo. Jika Jokowi menang, ia bisa mengandalkan Yusril mempertahankan kemenangan melawan gugatan Prabowo. Sekurang-kurangnya, di pihak Prabowo berkurang ahli hukum tata negara yang berpotensi melawan Jokowi ke depannya.

Ke dua, mendapat tambahan kekuatan. Pendukung Yusril di Indonesia ada 1,2 juta jiwa. Itu bukan jumlah kecil. Ketika Yusril menjadi lawyer Jokowi, maka para pendukung Yusril membaca hal itu sebagai bentuk dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’aruf. Dukungan ini jelas menambah pundi-pundi dukungan kepada Jokowi, sekaligus mengurangi jumlah lawannya. Mantap.

Ke tiga, Faktor Ngabalin. Jokowi butuh orang seperti Ngabalin untuk mengcounter masalah-masalah nyinyir pendukung Prabowo semacam Fadli Zond dan Fahri Hamzah. Hal yang sama dengan Yusril. Jokowi butuh bek kanan untuk menangkis serangan nyinyir di bidang hukum dari pihak Prabowo. Dan Yusril adalah pilihan tepat untuk menjadi bek kanan Jokowi di bidang hukum tata negara.

Lalu, mengapa Yusril mau menjadi lawernya Jokowi? Padahal sebelumnya ia selalu nyinyir juga kepada Jokowi?

Pertama, Yusril ingin membalas dendam kepada Prabowo. Itu yang pertama. Yusril ingin menunjukkan kepada Prabowo bahwa dirinya bisa berbalik mendukung lawannya tanpa ampun. Yusril ingin membalas Prabowo yang telah mencampakkan dirinya begitu saja.

Ke dua, Yusril sudah punya insting. Lebih baik menjadi kecebong dari pada menjadi kampret. Mengapa? Lebih banyak untungnya. Yusril sudah punya insting yang waras bahwa percuma mendukung Prabowo yang sudah jelas kalah. Prabowo yang sudah di ambang kekalahan, kini hanya mengharapkan muzizat untuk mengalahkan Jokowi. Menunggu muzizat sama saja dengan lebai.

Ke tiga, Yusril sudah sadar. Jokowi adalah orang baik. Ia tidak mempan difitnah, diejek, diserang dan dijatuhkan. Jokowi selalu berada pada jalan yang benar. Yusril sudah capek menyerang Jokowi. Namun serangannya selalu mental. Akhirnya Yusril menyerah dan memilih berada di pihak Jokowi.

Ke empat, menjadi lawyer Jokowi sangat mentereng. Yusril merasa diangkat tinggi-tinggi setinggi langit. Dengan ikut menebeng dan menjadi lawyernya Jokowi-Ma’aruf, Yusril mengharapkan partainya PBB kembali bangkit dari kubur. Bukankah sebuah muzizat jika PBB yang selama ini telah tenggelam ke dasar lautan tiba-tiba muncul ke permukaan?

Ke lima, Yusril telah mempertimbangkan dalam-dalam. Jika Jokowi berhenti hanya pada satu periode, maka kesinambungan proyek infrastruktur yang sedang berjalan akan berhenti alias mandek. Janji-janji hoax Prabowo untuk membuat Indonesia great again hanyalah sebuah guyonan atau mimpi di siang bolong. Apalagi Prabowo berjanji, jika ia menjadi Presiden, maka tidak akan mengimpor apapun. Ini adalah janji kegilaan penuh dusta.

Jadi, jika Yusril menjadi lawyer Jokowi, sebetulnya terlalu banyak udang dan kepiting di balik kerupuk. Itulah yang membuat saya ketawa. Begitulah kura-kura.

1 COMMENT

  1. Artikel menarik (kolom AL), salah satu contoh konkret soal perjuangan politik di Indonesia menjelang pilpres 2019. Kubu petahana Jokowi menarik lawan untuk melawan lawan. Kalau yang lebih klasik ialah mengadu domba lawan (divide and conquer). Tetapi kubu Jokowi lebih percaya kepada taktik yang lebih modern ini he he . . . Dan memang terlihat hasilnya langsung. Mengapa taktik ini bisa berhasil bagus tentu Jokowilah yang lebih tahu dan sudah mendalaminya. Luar biasa memang analisanya soal kontradiksi. Analisa kontradiksi dengan mengikut sertakan kedalam pertimbangannya semua tradisi, kultur serta way of thinking penduduknya.

    Itulah perjuangan politik dengan semua zigzagnya atau liku-likunya untuk bisa menjapai tujuannya. Dalam hal ini tujuan Jokowi jelas bagi semua: KESEJAHTERAAN RAKYAT SECARA NASIONAL. Itulah politik NASIONALISME sejati. Siapakah yang menentang arus ini dan mengapa?

    Semua atau hampir semua orang sekarang sudah bisa melihat atau merasakan ‘arus populis’ atau tepatnya arus nasionalisme sedang melanda seluruh dunia. Di Eropah, di AS Trump, dan tak diragukan tentunya semua negeri berkembang yang belum atau tidak tunduk kepada neolib global NWO.

    Kalau pada abad 19 dunia dihantui oleh komunisme, abad 21 dunia dihantui oleh populisme atau nasionalisme. Jadi The Spectre of Communism sudah digantikan oleh The Spectre of Nationalism. Hantu Marx diseluruh dunia sudah ganti jadi hantu nasionalisme. Di Indonesia hantu komunisme Marx telah digantikan oleh hantu nasionalisme Soekarno yang sekarang di bawakan oleh presiden Jokowi. Memang ada usaha dari pihak neolib/NWO menggantikan ideologi komunisme dengan ideologi radikalisme, tetapi inipun sudah tertelanjangi dan karena itu tidak mungkin menandingi arus besar nasionalisme yang telah melanda seluruh benua dunia itu.

    Radikalisme sebagai pengganti komunisme itu selain arus utamanya memecah belah (divide and conquer) diperkuat juga dengan gerakan lainnya terutama ialah korupsi dan narkoba, tetapi juga dengan gerakan-gerakan lainnya untuk melemahkan gerakan utama nasionalisme itu seperti gerakan LGBT, gerakan kawin-mawin homo, gerakan anti agama dan anti kultural seperti ‘famili baru’ dimana kedua orang tua dari satu jenis kelamin, dan anak tak berkelamin, gerakan child-sex trafficking, perlontean homo/boy, pedofil, macam-macam gerakan perubahan sosial dan kultur masyarakat.

    Di Indonesia dimanfaatkan gerakan divide and conquer ini dalam acara utama pilpres 2019. Presiden petahana nasionalis Jokowi akan digeser dengan sekuat tenaga oleh penentang politik nasionalis ini yaitu kaum globalis neolib NWO. Neolib NWO memanfaatkan pesaing Jokowi yaitu capres nr 2 Prabowo se efektif mungkin, terutama dengan bantuan kelompok radikalisme pengganti komunisme itu. Walaupun Prabowo juga sering memakai nama nasionalis atau ngomog bercita-cita nasionalis, tetapi kepercayaan rakyat tidak penuh kepadanya karenas sikap dan tindakannya dimasa lalu yang telah merusak hati sanubari rakyat, karena menghilangkan orang-orang aktivis.

    Dari segi dukungan langsung neolib/NWO kepada pihak Prabowo memang tidak terlihat atau di tidak dipercayai sepenuhnya oleh pihak NWO, kalau kita bandingkan misalnya dengan dukungan neolib/NWO dalam pilpres Brazilia, atau Perancis atau Italia dimana keberpihakan neolib/NWO sangat jelas, pro neolib atau pro nasionalis. Prabowo masih diragukan keberpihakannya kepada NWO, dan ini terlihat juga dari rekayasa peristiwa Ratna S yang terang-terangan menjatuhkan Prabowo. Tetapi dalam soal pilpres ini, NWO betul-betul dimanfaatkan iallah politik divide and conquer saja: oposisi + radikalisme KONTRA petahana nasionalis Jokowi sebagai musuh utama dan pasti.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.