Kolom Seriulina Karo Sekali: 73 TAHUN MENANTI JALAN LAJA (Karo Hilir)

0
272

Semoga apa yang saya lihat ini (dari foto) akan terus berlanjut sampai ke tempat yang seharusnya. Penantian yang 73 tahun lamanya sudah, terhitung sejak Indonesia Merdeka (1945), akan benar-benar dapat kami rasakan dengan penuh kegirangan.

Foto-foto ini merupakan kegiatan pembangunan infrastuktur ke kampung kami, Desa Laja (Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara).

Sebuah desa di pedalaman Bukit Barisan yang hanya beberapa puluh kilometer dari ibukota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Itu sebabnya kami katakan ini sebuah kota di tengah rimba belantara pedalaman Sumatera.

Mengapa kami suka katakan kota di tengah rimba belantara? Ya, tidak lain karena segala faslitas yang dibutuhkan untuk sebuah desa yang maju, kami memilikinnya. Mulai dari air bersih dan listrik yang sudah tersambung ke rumah-rumah warga. Demikian juga dengan cara berpikir orang-orangnya juga rata-rata sudah maju. Bahkan mungkin lebih maju dari sebagian orang yang hidup di kota yang bisanya cuma nyinyir dan menyalahkan pemerintahan saat ini.

Semua fasilitas yang sudah puluhan tahun kami dapatkan itu, bukan karena negara ini perduli, melainkan karena swadaya warganya yang kesemuanya Suku Karo, dibantu oleh yayasan di bawah naungan GBKP. Di sini, negara belum hadir selama ini, untuk rakyatnya.

Akibat ketidakhadiran negara yang salah satunya adalah untuk memberi akses yang baik layaknya jalan umum di negeri ini, Desa Laja pun terisolasi dari keramaian kota yang tak jauh sebenarnya darinya; seperti Medan, Pancurbatu, Delitua, Bandarbaru, Berastagi dan Kabanjahe. Jaraknya tidak begitu jauh, yang harusnya dapat dengan cepat dan mudah diakses. Ke Medan, misalnya, hanya sekitar 45 Km.

Saya masih dapat jelas mengingat bagaimana warga bekerja keras, banting tulang, bermandi keringat bergotongroyong untuk kampung kami bisa diterangi listrik dan memiliki akses jalan ke luar. Infrastruktur yang sebenarnya sangat vital bagi kemajuan sebuah desa dan berperan sangat penting untuk perbaikan hidup warganya, baik secara ekonomi maupun pendidikan, akan tetapi saat ini, setelah 73 tahun bangsa ini merdeka dari belengu penjajahan, desa kami baru mendapatkanya saat ini.

Seandainya dari dulu infrastruktur ini sudah dibangun, mungkin aku tidak akan pernah mau merantau jadi karyawan yang mengharapkan gaji dari para pengusaha. Akan lebih baik memilih menjadi petani atau peternak di desa, dan menjadi penyuplai hasil pertanian dari desaku ke kota.

Namun hebatnya, orang kampung kami dan kampung-kampung sekitarnya, walau tidak mendapat perhatian pemerintah selama ini, kami tidak cengeng. Tidak nyinyir, ataupun sedikit-sedikit demo. Kami lebih memilih memperjuangkan nasib generasi kami dan kampung kami tercinta, sembari terus mendoakan pemerintahan di negeri ini dan tetap berusaha membangun desa dengan kemampuan yang ada. Berharap di satu masa, Pemerintah Republik Indonesia yang kami cintai ini dapat hadir di tengah-tengah kami.

Coba anda bayangkan. Kami saja masih di Kabupaten Deli Serdang yang tidak jauh dari Kota Medan yang nota bene kota terbesar ke tiga di Indonesia ini, baru dibangun infrastruktur setelah 73 tahun Indonesia merdeka. Bagaimana yang hidup lebih pelosok dari desa kami ini, seperti banyak desa-desa di Aceh dan kawasan Indonesia Timur sana. Masihkah bilang infrastruktur tidak penting? Dan, masihkah wajar kalian selalu ribut hanya karena ketersingungan, atau soal naik turun harga?

Seharusnya orang kota lebih bisa melihat Indonesia dalam konteks yang lebih meluas daripada kami orang Laja yang bergelimang tanah dan menatap merindukan menanti kasih sayang dari alam semesta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.