Kolom Maria F. Anmuni: DI MASA PEMBANGUN INI …….

0
157

Masih kuingat saat masih duduk di bangku Kelas 5 SD. Sudah mejadi kebiasaan di kecamatan kami jika menjelang HUT Proklamasi RI akan diadakan berbagai perlombaan. Saat itu, ada Lomba Puisi antar SD. Saya dipilih oleh guru Bahasa Indonesia mewakili sekolah kami. Ia menyuruh saya memilih puisi sendiri.

Sempat saya mau bilang: “Ibu, saya tidak tahu Puisi apa yang harus saya cari.”

Tapi, saya takut dibilang anak yang tidak menurut. Waktu itu memang berbeda dengan sekarang. Internet belum saya kenal. Maklumlah, kami di desa.

Akhirnya, saya pun ke perpustakaan untuk mencari buku-buku yang di dalamnya ada puisi. Sempat kebingungan untuk mencari puisi. Mata saya pun tertuju pada sebuah lembaran buku. Tidak salah, buku pelajaran Kelas 5. Di situ ada sebuah puisi dengan judulnya yang bagus

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara bangun menjadi api
Di depan sekali Tuan menanti
Tak gentar

Yah, itulah bait dalam untaian puisi itu yang masih saya ingat. Saya lupa siapa pengaranngya. Sudah terlalu lama, tapi yang jelas puisi ini dikarang oleh orang yang cerdas berjiwa nasionalis dan meghargai jasa pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih mengusir bangsa penjajah dari Bumi Pertiwi (Catatan redaksi: Puisi ini ditulis oleh Chairil Anwar).

DIPONEGORO, seorang pangeran yang tak takut pada penjajah Belanda. Secara tegas meyelesaikan sengketa tanah dengan pihak Belanda saat itu. Guruku juga langsung menyetujui jika puisi itu yang akan saya bawakan dalam perlombaan.

Waktu terus berlalu hingga kini, tahun 2018, puisi itu kembali menyapaku. Betapa tidak, bangsa kita diberikan seorang pemimpin oleh Tuhan Sang pencipta dengan sepak terjangnya yang luar biasa. Program NAWACITA terus dikerjakan hingga kini sejak awal beliau dilantik menjadi Presiden RI yang ke 7 pada Tahun 2014.

Di masa pembangunan ini, Beliau maju membangun infrastruktur yang sejatinya adalah nadi dalam pertumbuhan sebuah bangsa mulai dari Sabang sampai Merauke hingga terwujudlah Sila ke Lima dalam Pancasila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maju, serbu, serang, terjang …. Itulah sosok Pengeran Diponegoro. Kata – kata ini selalu kuingat dan tepat ada dalam Presiden kita sekarang ini. Betapa tidak, beliau maju mengejar kertinggalan pembangunan infrastruktur. Maju meratakan pembangunan ke semua pelosok wilayah terpencil di Indonesia.

Maju menyerbu dan mengambil kembali kekayaan Pertiwi ke pangkuannya. Menyerbu dan menyikat habis para tikus berdasi, mafia Petral, mafia Migas, mafia Bulog, dan para mafia-mafia lainnya.

Keberaniannya menegakkan kebenaran adalah hal yang luar biasa. Menyerang mereka yang serakah yang sudah punya segala ingin lagi mengambil hak rakyat. Maju menerjang hoax dan fitnah yang terus dilakukan orang-orang tidak bertanggungjawab, yang sejatinya adalah para barisan sakit hati karena tak dapat lagi korupsi dan semaunya. Terus bekerja walau nyinyiran terus menghampiri. Yang dipikirkan beliau adalah bekerja bagi rakyat, bagi Nusa dan Bangsa tercinta Ini.

Maju bersama rakyatnya tak ingin jauh dari rakyatnya. Ia adalah sosok yang merasakan detak nadi dan keringat rakyatnya. Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno sang proklamator bangsa. Di masa pembangunan ini, ia datang dengan semangat membangun yang tulus tanpa memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh beliau, kita membangun negara bukan berbisnis.

Sangat mendalam artinya. Membangun negara bukan untuk meperhitungkan untung rugi dan akhirnya keuntungan itu diraup unruk kepentinagn pribadi. Menambah pundi- pundi kekayaan yang tak dapat habis dipakai sampai 7 turunan.

Terbukti dengan gebrakannya yang luar biasa saat Beliau memimpin. Sangat banyak untuk dituliskan namun semuanya adalah nyata dirasakan rakyat kecil dari Sabang sampai Merauke.

MAJU, SERBU ,SERANG, TERJANG, MERAKA YANG SERAKAH, demi kepentingan rakyat kecil adalah hal yang luar biasa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.