Kolom Asaaro Lahagu: PETA POLITIK TERKINI (Jokowi Babat Alas, Prabowo Genderuwo, SBY Hilang)

1
454

Tak ada yang berubah. Hingga bulan November 2018 posisi Jokowi tetap unggul atas Prabowo. Hasil semua survei bulan Oktober, menempatkan Jokowi unggul 20% atas Prabowo. Jika Jokowi tetap mampu mengontrol ucapannya dalam trek yang benar, tidak demikian Prabowo.

Dalam sebulan terakhir, sudah 2 kali melakukan blunder dan 2 kali meminta maaf.

Jokowi yang menerapkan strategi babat alas, membuat Prabowo semakin terjepit. Dengan kinerja tinggi, dukungan dari banyak tokoh, kepala daerah, tokoh agama, dan tokoh media mengalir terus kepada Jokowi. Dukungan itu datang karena memang kinerja Pak Jokowi diapresiasi oleh banyak pihak.




Kolaborasi dukungan berbagai pihak dengan strategi babat alas Jokowi klop sudah. Jokowi terlihat terus menggunakan strategi babat alas untuk melawan Prabowo. Apa itu strategi babat alas? Sebuah strategi yang menyerap semua kekuatan politik demi memuluskan kemenangan pada Pilpres 2019 mendatang.

Menurut Hendri Prasetio dari Universitas Paramadina, bergabungnya tokoh-tokoh penting ke Kubu Jokowi ini ibaratnya persaingan 2 tim sepakbola. Tim sepakbola yang satu ini merekrut semua pemain terbaik supaya semata-mata tim lain tidak memiliki pemain yang bagus, sehingga mudah dikalahkan.

Sebagai contoh, Jokowi merangkul semua media dari awal. Saat ini, Jokowi sudah memiliki kekuatan media. Pemilik media Surya Paloh, Erick Thohir dan Harri Tanoe adalah contoh raksasa media yang berada di Kubu Jokowi saat ini. Media-media lain juga netral tetapi lebih condong mendukung program Jokowi.

Tokoh-tokoh penting lain yang bergabung seperti Yenny Wahid, Mahfud MD, dan terakhir Yusril Ihzra Mahendra menambah kekuatan Jokowi. Ini membuktikan Jokowi ingin terus merangkul semua pihak untuk meyakinkan kemenangannya pada Pilpres 2019 mendatang. Itulah yang dimaksud strategi Babat Alas.




Lalu bagaimana dengan Prabowo?

Elektabilitas Prabowo hingga bulan November tak beranjak. Ia hanya bisa mempertahankan pemilih setianya tak beralih. Sementara swing voters cenderung berubah dan beralih mendukung Jokowi. Beberapa kunjungan Prabowo ke daerah-daerah tidak disambut meriah oleh masyarakat. Hal itu membuktikan daya tarik Prabowo begitu-gitu saja, tak menarik.

Sepak terjang Sandiaga-Uno sebelas-dua belas dengan Prabowo. Kunjungan Sandiaga Uno di Sulawesi Utara baru-baru ini terlihat sepi. Masyarakat tak menyambut antusias Sandiaga. Daya magis Sandiaga biasa-biasa saja.

Blusukan Sandiaga di pasar-pasar berbulan-bulan bisa dihancur-leburkan Jokowi dalam satu hari. Sebagai contoh, Sandiaga mati-matian membentuk opini bahwa tempe semakin mahal, cabe bawang tak terbeli dan nasi chicken sangat mahal. Namun, hanya dengan satu blusukan, Jokowi dapat menghancurkan semua opini Sandiaga itu.

Jokowi cukup memegang tempe tebal, cabe bawang dan makan rice chicken murah, sudah cukup mementahkan framing Sandiaga Uno tentang ekonomi yang buruk. Apalagi dengan nilai Rupiah yang menguat akhir-akhir ini, membuat Sandiaga bungkam dan kehabisan amunisi untuk menyerang Jokowi.

Melihat situasi tersebut, tim sukses Prabowo kebingungan. Mereka kehabisan akal untuk memframming new Prabowo yang tak laku-laku. Internal kubu Prabowo yang saling sikut, terutama PKS-Gerinda soal Wagub Anies di DKI Jakarta, menambah situasi kelam Kubu Prabowo.

Di tengah kepanikan itu, Prabowo cenderung berlagak seperti genderuwo. Suatu saat ia menakut-nakuti rakyat Indonesia dengan framing Indonesia bubar, Indonesia bangkrut, Indonesia dikuasai asing, Indonesia 99% hidup pas-pasan dan Indonesia bakal hancur. Itu disebut sebagai politik genderuwo, yakni politik menakut-nakuti kayak hantu genderuwo.




Sementara pada kampanye lainnya Prabowo berlagak bak malaikat. Ia mengatakan, kalau ia menjadi Presiden, maka tidak pernah ada lagi impor. Ia juga menjanjikan mengangkat semua gaji buruh, gaji wartawan dan merubah tampang Boyolali menjadi tampang Donald Trump, tampang kaya raya.

Jadi, ada 2 strategi Prabowo, yakni menjadi genderuwo dengan menakut-nakuti rakyat dan di saat lain ia menjadi malaikat penyelamat rakyat dengan rayuan, janji dan tekad hoaxnya. Dua sisi ini menjadi fokus kampanye Prabowo yang terlihat hingga kini.

Bisa jadi, pada kampanye ke depan, Prabowo akan menakut-nakuti Indonesia dengan mengatakan Indonesia akan punah karena dipimpin oleh Jokowi. Indonesia akan ditelan naga besar kalau Jokowi tetap Presiden. Lalu, di saat lain ia menjanjikan Indonesia akan seperti Amerika, Jepang, Eropa, jika ia yang menjadi Presiden. Kacau.

Di saat ia disebut dekat dengan HTI, dekat dengan khilafah, dekat dengan kaum ekstrim, Prabowo meyakinkan bahwa ia pembela Pancasila NKRI tulen. Ia juga berlagak sangat paham Pancasila. Namun, saat menyebut sila pertama sampai sila ke lima, ia tak hafal dengan baik. Ia lupa dan gagap. Mengharukan.

Lalu bagaimana dengan SBY?

Dalam 2 bulan terakhir, SBY terlihat hilang ditelan bumi. Pada 2 kasus Prabowo, yakni kasus Ratna Sarumpaet, kasus tampang Boyolali, SBY tak mengeluarkan cuitan secuilpun. SBY sembunyi, diam, merenung dan bermeditasi soal nasib puteranya Agus yang dibuang oleh Prabowo.




SBY sudah berhitung, jika ia turun mengkampanyekan Prabowo sebagai Capres, maka hasilnya untuk Prabowo. Gerinda memanen hasilnya sementara Demokrat megap-megap. SBY pun memilih taktik 2 kaki. Ia mengijinkan kader-kadernya mendukung Jokowi sesuai dengan pilihan mereka.

Hal itu berarti, SBY sedang menganut politik 2 kaki. Satu kaki untuk Jokowi dan satu kaki untuk Prabowo. Nama atau kulit untuk Prabowo, sementara isi untuk Jokowi. SBY paham bahwa jalan terbaik untuk mempertahankan Demokrat agar tidak menjadi dinosaurus adalah kampanye senyap. Ia mengunjungi kader-kader dan pendukung setianya dengan diam-diam dalam kesenyapan.

Tak usah heran, selama 2 bulan terakhir ini, SBY seolah hilang ditelan bumi. Ia terlihat sudah tak berguna, tak bermanfaat mengkampanyekan Prabowo yang sering bermimpi dan berbual-bual hoax.

Jadi, peta politik terkini: Jokowi menerapkan strategi babat alas untuk melawan Prabowo, lalu Prabowo menjadi genderuwo, sementara SBY menghilangkan diri bak ditelan bumi. Begitulah kura-kura. #JokowiLagi.




1 COMMENT

  1. “SBY sembunyi, diam, merenung dan bermeditasi soal nasib puteranya Agus yang dibuang oleh Prabowo.”
    Putranya juga apa ikut bermeditasi ya? Ayo, Bangkit sendiri Mas, didepan Bapak, jangan dibelakangnya. Generasi muda bangsa menantikan dan mengharapkan semangat muda anak bangsa generasi milenium.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.