Kolom Eko Kuntadhi: KONSER GNR (Slash, duff, dan Pawang Hujan)

0
138

Di atas panggung malam itu, saya menyaksikan seorang lelaki tambun berlarian ke sana ke mari. Nafasnya terengah-engah. Suaranya tidak seperti dulu lagi. Dia coba melengking-lengkingkan, tetapi usia gak bisa dibohongi. Axl Rose malam itu berbeda dengan Axl Rose puluhan tahun lalu. Goyang ularnya tidak lagi mirip kobra yang sedang beraksi. Kini lebih mirip goyangan ular Piton atau Anakonda. Berat. Tapi, toh, saya ke sini bukan mau menyaksikan Axl bergoyang.

Kalau cuma mau menikmati sebuah goyangan, dangdut koplo Pantura jauh lebih menarik.

Orang ke GBK tadi malam, dengan tiket seharga sejutaan, mau menikmati sebuah masa ketika mereka ada di puncak peforma usia. Singkatnya, sebagian besar manusia yang menyemut di bawah panggung Guns and Roses semalam hadir untuk bernostalgia.

Sekadar mematut-matutkan diri kembali pada sebuah masa ketika November Rain atau Sweet Child O’ Mine jadi semacam backsound dari aktifitas hormon testosteron yang bekerja maksimal dalam tubuhnya. Sebagian pengunjung malam itu mungkin akan pulang ke rumah dengan encok yang kumat.

Walhasil. Penonton malam ini memang lebih terlihat shaleh, gak banyak jingkrak. Paling hanya goyang-goyang kepala dan mengangkat tangan. Saya rasa penonton Via Vallen atau Nella Kharisma jauh lebih beringas ketimbang penonton GnR. Mungkin karena konser digelar pas malam Jumat. Mungkin juga karena jejingkrakan bagi om dan Tante kini terlalu beresiko. Atau mungkin juga sebetulnya mereka tetap jejingkrakan, tetapi dilakukan di dalam hati saja.

Meski Axl telah jauh menurun peformanya, masih untung ada Slash, gitaris keriwil yang menutupi panggung malam itu. Lengkingan suara gitarnya cukup mengobati gaharnya sebuah band Rock. Atau asyiknya betotan Duff McKagan yang masih menyentak.

Diantara kerumunan orang, sebetulnya perhatian saya selalu ke langit. Sejak sore awan tebal menutupi Jakarta. Bahkan sebelum konser dimulai, rintik hujan mulai terasa. Tidak ada bintang terlihat di atas langit GBK.

Suasana gerah. Angin seperti malas bertiup. Cuaca seperti ini biasanya adalah bagian pembuka dari turunnya hujan. Saya sempat berfikir, jika hujan benar turun, ribuan orang di bawah panggung pasti kuyup semua. Dan, esok hari, obat flu akan meningkat penjualannya.

Mungkin saat itu, saya akan menjadi salah satu orang yang menyesal dapat tiket lebih mahal hingga ditempatkan di dekat panggung. Meskipun itu juga dapat gratisan. Sudah berdiri. Basah kuyup pula. Lebih baik pilih tiket yang murahan. Bisa duduk, gak kehujanan dan sambil ngobrol.

Tapi, sesuatu yang luar biasa terjadi. Meskipun awan di langit GBK sudah hamil tua, rintik hujan seperti tertahan. Gerah, iya masih. Tapi gak hujan. Sementara di langit saya melihat awan menanggung beban yang begitu berat.

Entah, apakah pawang hujan sedang bekerja serius malam itu? Jika benar panitia menyewa jasa pawang, konser semalam adalah sebuah tampilan yang luar biasa dari pawang yang luar biasa.

Dalam biaya produksi, saya gak tahu, biaya pawang hujan dimasukkan dalam budget apa. Apakah biaya tak terduga? Atau biaya lain-lain?

Langit boleh saja sudah berada dalam posisi pembukaan empat. Tapi pawang hujan mampu menahan air ketuban di atas GBK gak tumpah menyirami wajah om dan tante yang sedang menyemangati dirinya sendiri malam itu. Padahal dengkul mereka sudah pada boyok.

Walhasil, di malam itu sehabis pulang nonton konser pujian saya bukan pada Axl Rose, Slash, atau Duff. Saya tak habis-habisnya memuji pawang hujan yang kerjanya luar biasa itu.

“Iya, mas. Kita harus lebih bangga dengan produk lokal. Jangan cuma terpukau dengan musisi asing. Pawang semalam asli dari Indramayu,” ujar Abu Kumkum sok tahu.

Dan, malam itu, saya tidur kecapean. Bermimpi sedang mengetuk pintu surga.

Knock knock knockin on Havens door…
Knock knock knockin on Havens door…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.