Kolom Boen Syafi’i: GENDERUWO MILENIAL

Bila si genderuwo itu menunjuk-nunjuk muka sampean, maka cepat-cepat tunjukan jempolmu

0
614

Genderuwo, sosok mistis dan makhluk astral berwajah seram dengan ciri khas bulu panjang yang menyelimuti tubuhnya. Sosok ini biasanya suka bermukim di pohon asem, pohon sawo ataupun pohon sukun sebagai tempat tinggalnya. Lho, kok tau?

Ya tau lah. Lha, wong saya ini mantan genderuwo, kok. Puas, puas, puas. Namun, itu genderuwo jaman dulu, sedangkan genderuwo yang sekarang itu lebih milenial wujudnya.

Dengan tampilan parlente, necis, suka memakai baju safari dan bila bepergian sering menaiki jet pribadi adalah karakternya. Meskipun terkadang keset merah dianggap sebagai karpet merah oleh si genderuwo jomblo ini.

Genderuwo milenial tidak lagi menakut-nakuti manusia dengan bentuk fisiknya? Terkadang fisiknya yang sudah pada kendor itu patut dikasihani juga sih.

Sekarang genderuwo milenial, menakut-nakuti manusia dengan omong besarnya. Ihh, seram sekali bukan, bau mulutnya? Si genderuwo suka menebar ketakutan bahwa Indonesia akan bubar. Si genderuwo suka menakut-takuti dengan mengatakan 90% rakyat di bawah garis kemiskinan.

Dan, si genderuwo juga mengatakan, bila terjadi perang, maka Indonesia ini hanya kuat bertahan 3 hari saja? Eh, mending kuatnya 3 hari, daripada hanya 1 menit langsung letoy?

Tidak hanya itu. Si genderuwo ternyata juga hobi menebar hoax dan melecehkan para manusia. Bagaimana tidak menyebarkan hoax? Lha, wong yang membisikan niat jahat ke telinga si Sarumpaet ternyata si genderuwo ini.

Pidato Tampang Boyoforget yang membuat geram warganya ternyata atas ulahnya juga. Ah, genderuwo, genderuwo, kenapa juga masih menyebar ketakutan kepada manusia? Padahal banyak manusia sekarang ini yang tidak takut lagi kepadamu, lho.

Ahsudalah.

“Pakne, bagaimana cara mengusir si genderuwo itu? Aku takut Pakne?”

“Gampang, Bune. Bila si genderuwo itu menunjuk-nunjuk muka sampean, maka cepat-cepat tunjukan jempolmu.”

“Lho, kok bisa Pakne?”.

“Ya, bisalah, lha wong jari telunjuk kan masih kalah dengan jari jempol toh, Bune?”

“Weladalah, Ediaaaaaan”.

Salam Jemblem..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.