Kolom Joni H. Tarigan: 2019 KAMI SEMAKIN BAHAGIA

1
195

Tidak ada data sejarah yang memaparkan perbandingan tingkat kebahagiaan manusia sejak zaman purba sampai zaman modern saat ini. Pernyataan ini dituliskan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul HOMO SAPIENS. Dalam buku tersebut dituliskan juga, ada satu lubang yang belum mampu diisi oleh sejarah. Itulah tentang perubahan kebahagian umat manusia dari zaman ke zaman.

Berkaitan dengan kebahagiaan, Kompas.com mempublikasikan hasi penelitian dari Gallup.  Dalam 10 tahun terahir level kebahagiaan manusia telah menurun.




Mengetahui fakta yang diungkap oleh Gallup ini, kembali saya mengulang apa yang dituliskan dalam buku Homo Sapiens.  Yuval menuliskan: “Jika kita manusia tidak semakin bahagia, untuk apa semua kemajuan ini?”

Mungkin kebanyakan kita belum pernah terpikir bagaimana hubungan kebahagiaan dengan segala kemajuan yang ada. Apakah semakin maju zaman, manusia semakin bahagia? Apakah semakin banyak harta benda yang kita miliki, kita semakin bahagia? Data Gallup dengan jelas mengatakan manusia dalam 10 tahun terahir semakin stress. Ini artinya kemajuan zaman tidak membawa kebahagiaan.

Bagaimana dengan kekayaan dan kemiskinan? Teman saya pernah bercerita bahwa bapak pengemudi becak di Yogyakarta duduk dengan santai menghirup nafas teratur, dan senyum bahagia, sambil menunggu penumpang. Teman saya ini berkesempatan bertanya: “Pak, bapak kok kelihatan menikmati  sekali kehidupan ini?”


Sang pengemudi becak berkata, kebahagiaan dalam hidupnya adalah dapat menghidupi keluarganya dan berkumpul bersama mereka. Ia tidak membayangkan memiliki harta yang melimpah. Kemiskinan dan kekayaan ternyata tidak berhubungan dengan kebahagiaan.

Saya sendiri berkesimpulan, kebahagiaan bukanlah apa yang kita miliki, atau apa yang kita lihat. Kebahagiaan adalah keputusan pikiran kita untuk bahagia dalam kondisi apapun yang kita miliki. Dengan kata lain, sumbernya adalah bagaimana pola pikir kita menanggapi semua keadaan di sekeliling kita. Mahatma Gandhi juga berkesimpulan bahwa penyakit terbesar kita adalah sakit di pikiran. Dokter sekalipun tidak punya resep untuk pengobatan yang sakit sejak dalam proses berpikir.




Mungkin saja Mahatma Gandhi, yang merupakan lulusan hukum di University College London, benar bahwa sulit mengobati seseorang yang mungkin sudah sakit cara berpikirnya. Akan tetapi, saya punya keyakinan bahwa  kita masih punya cahaya terang untuk mengindari penyakit akut ini. Kita punya kesempatan untuk tidak memberi kesempatan penyakit itu tumbuh dan berkembang. Kesempatan itu adalah pendidikan usia dini.

Saya meyakini setiap anak terlahir bahagia. Ia tidak mengenal kata sedih dan menyerah. Lihatlah proses perkembangan seorang anak sejak dalam kandungan hingga ia lahir, merangkak, berdiri dan berlari. Apakah anda pernah melihat berapa kali anak anda harus terjerembab saat mencoba merangkak? Apakah anda pernah melihat anak anda tertatih-tatih mencoba berdiri kemudian jatuh, jatuh, jatuh, dan jatuh lagi?

Berkali-kali anak itu jatuh, apakah ia berhenti mencoba lagi? Pengamatan saya terhadap anak saya, ia tetap mecobanya. Ketika ia belajar berlari, ia juga beberapakali berlumur darah, tetapi tetap saja ia mencobanya sampai ia berlari kencang. Sebagai seorang ayah atau ibu, apakah anda melihat proses itu semua? Atau malah anda sibuk berteriak 2019  ganti presiden atau tidak?

Apakah kita menyadari bahwa kebahagiaanlah yang membuat kita  melakukan lagi hal-hal yang sulit sekalipun? Atau jangan-jangan kita suah lupa bahagia karena terlalu sibuk memperjuankan 2019 ganti presiden atau tidak?




Semua anak terlahir bahagia dan penuh semangat menjalani serta memahami kehidupan ini. Usia anak kami sudah memasuki tahun ke enam, dan sudah tahun ke tiga mengikuti pendidikan di usianya yang dini. Semakin hari saya melihat ia bertumbuh dengan kebahagiaan yang terus bertambah.

Kami sebagai orangtuanya juga semakin bahagia, karena alih-alih ingin mendidik anak kami ternyata dalam waktu bersamaan membuat kami mengenal diri kami sendiri. Pengenalan siapa diri kami sebenarnya, serta mengenal siapa anak kami sesungguhnya, merupakan gerbang kebahagiaan kami sebagai keluarga dan bagian dari umat manusia. Mustahil mencintai orang lain ketika kita tidak mengenal siapa diri kita yang sebenarnya.

Kenalilah diri anda, kenalilah orang-orang terdekat anda. Anda akan menemukan kebahagiaan itu.  Hati-hati, terlalu sibuk dengan PILPRES 2019, anda malah lupa mengenal diri sendiri, anak, istri, suami, dan kerabat-kerabat anda. Saya sendiri melihat bahwa 2019 KAMI PASTI SEMAKIN BAHAGIA. Siapapun presidennya.




1 COMMENT

  1. “Atau jangan-jangan kita sudah lupa bahagia karena terlalu sibuk memperjuangkan 2019 ganti presiden atau tidak?”
    Lupa bahagia karena sibuk politik ha ha . . .

    Saya jadi teringat juga bagaimana kesibukan politik di AS mau mengganti presiden Trump. Publik AS mungkin juga ‘lupa bahagia’, tetapi yang lebih celaka lagi ialah kalau mereka lupa atau tidak mengerti sama sekali bahwa Fed sudah menipu pemerintah AS sejak 1913, hampir 100 tahun! Kennedy terbunuh karena mau menghapus Fed. Dan Fed masih terus mencetak uang sampai sekarang menipu pemerintahan AS. Trump berusaha bikin politik zigzag menantang Fed, tetapi tentu tidak mau bernasib seperti Kennedy atau Lincoln.
    Rakyat atau publik AS bagaimana?

    “The ignorance in America is overwhelming.”

    “It is well the people of the nation do not understand our banking and monetary system, for if they did, I believe there would be a revolution before tomorrow morning.” – Henry Ford

    Betul Henry Ford memang, tetap mengapa sudah hampir 100 tahun belum juga mengerti?

    Saya yakin kalau publik Indonesia tidak mungkin dibohongi begitu lama, misalnya kalau Bank BI jadi swasta, cetak duit dan membungakannya kepada pemerintah RI . . . rakyat tidak akan mengizinkan sikap demikian. Di AS masih bisa meninabobokkan rakyat sampai sekarang! Publik Indonesia sangat cepat bisa mengerti dan membelejeti. Saracen misalnya, atau 411, 212, HTI, FPI HRS, terakhir hoaks RS dsb.

    Soal Fed bisa digoogle disini:

    “Case Closed: JFK Killed After Shutting Down Rothschild’s Federal Reserve Conspiracy, JFK, Recent Articles, Rothschild”

    Published on 2017 m06 10
    https://www.linkedin.com/pulse/case-closed-jfk-killed-after-shutting-down-federal-reserve-lakhi

    Juga disini:

    “Manufactured Prosperity | Jeremiah Project”

    https://www.jeremiahproject.com/new-world-order/manufactured-prosperity/

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.