Kolom Bastanta P. Sembiring: PENIPU VIA HP KEMBALI BERAKSI

1
163

Pagi tadi saya ditelepon oleh seseorang yang ngakunya dari Telkomsel Pusat Jakarta. Katanya, nomor saya terpilih memenangkan uang Rp 10 juta, plus pulsa sebesar Rp. 1 juta yang akan dikirim ke nomor ponsel setelah melakukan aktifasi. Dia menyuruh saya ke mesin ATM terdekat untuk mengikuti arahan darinya.

Untuk periode 2017 – 2018 sebenarnya hal demikian sudah jarang terjadi. Kalau sebelumnya ya cukup sering, baik yang menelepon langsung atau via sms. Yang katanya dari pihak operatorlah, situs belanja online, jual beli tanah atau mobil, atau ada juga yang katanya dari bank.




Untuk via sms, biasa mereka sering kasi kode pin. Katanya itu kode hadiah kita. Mungkin maksudnya agar meyakinkan. Kemudian, dia pun menyuruh untuk login ke situsnya yang kesemuanya itu merupakan website dengan domain dan hosting gratis.

Penipu seperti ini sebenarnya bisa dibilang penipu murahan dan masih kalah jauh dengan penipu yang pernah marak untuk menipu nasabah salah satu bank swasta di Indonesia. Mereka mengirim link hampir persis dengan alamat website aslinya. Bahkan isi halaman per halaman websitenya pesis seperti website asli bank tersebut dimana para nasabah biasa login ke akun internet bankingnya. Tentu ini sangat membutuhkan ketelitian.

Menghadapi hal-hal seperti ini sesungguhnya yang dibutuhkan adalah ketenangan, logika, dan jangan tamak.

Misal seperti via sms itu. Tentu, bagi yang biasa bermain intrnet dapat dengan mudah mendeteksinya dari nama domainnya. Masakan perusahaan raksasa telekomunikasi sekelas Telkomsel pake domain dan hosting gratis? Walau demikian, anehnya, ternyata banyak juga yang terkecoh dan berhasil tertipu.

Atau misalkan ditelepon langsung. Dikatakan ada anggota keluarga kita sedang bermasalah. Baiknya dicek kebenaranya dengan mengkonfirmasi kepada si bersangkutan, atau dari temannya, atau anggota keluarga lainnya. Atau bisa juga dari rumah sakit dan kantor kepolisian dimana TKP seperti diinfokan oleh penelepon.




Pernah sekali kejadian, seorang ibu panik dan minta pulsa Rp 500 ribu. Katanya anaknya di kantor polisi dan yang menelepon dapat membantu, tetapi butuh uang jaminan, dan di awal bisa berupa pulsa sebagai komitmen.

Lama kami meyakinkan ibu tersebut kalau itu terindikasi penipuan. Namun dia bersikeras, bahkan memarahi kami. Dan, keesokan harinya tersebarlah berita kalau si ibu itu tertipu, karena anaknya yang kata penelepon sedang ditahan di Jakarta ternyata tidur di rumah.

Itulah perlunya ketenangan. Masakan anak yang tinggal bersama dia tidak tahu pergerakannya? Lucunya lagi, saat makan malam pukul 19.15 wib masih bersama di rumahnya di wilayah Provinsi Jambi, tetapi dia bisa dikecohkan dengan perkataan kalau anaknya sedang di kantor polisi di wilayah Jakarta [sekitar pukul 22.00 wib] malam itu juga.

Logikanya, waktu tempuh dari Kota Jambi ke Jakarta sekitar 1 hari 1 malam via bus. Via pesawat terbang sekitar 1 – 2 jam. Dan, waktu dari rumah korban ke bandara 3 jam. Artinya, dibutuhkan setidaknya 4 jam supaya si anak ini bisa tiba di Jakarta.

Atau misalkan iming-iming hadiah. Ya, kembali tenangkan diri dan berfikir. Apakah saya pernah mengikuti undian? Apakah saya punya akun bank tersebut? Apakah saya ini dan itu… ?

Pernah saya ditelepon yang ngakunya dari BRI. Katanya istri saya dapat undian, namun karena dihubungi tidak pernah diangkat, makanya menghubungi ke nomor saya. Demikian akunya.




Kalau saya tidak tenang, misalnya hanya tergiur dengan jumlah uang yang dikatakan saat itu (Rp 350 juta) tanpa berfikir waras, maka saya akan mudah terpukau. Namun, tentu kalau saya sadar benar dan tidak tamak, maka akan mengingat jelas kalau saya masih jomblo dan belum pernah menikah (memiliki istri).

Sering saya bertemu korban penipuan via HP ini, baik di konter pulsa, bank atau di kantor pos. Kebanyakan korban yang kebetulan saya temukan itu gadis remaja dan ibu-ibu.

Juga sudah sangat sering menghadapi yang demikian. Kadang kalau lagi sibuk, saya matikan langsung. Tetapi kalau lagi sedang tidak ada kerjaan, tak jarang saya ladeni dan ajak mutar-mutar hingga akhirnya dia bosan dan menutup telepon sendiri. Seringnya sih si penipu itu marah dan melontarkan bahasa kotor karena merasa tersinggung atau merasa dipermainkan.

Dan mengapa saya mengangkat topik ini?

Karena modus penipuan seperti ini kembali marak setelah beberapa saat kemarin sepi. Artinya, para penipu membaca kalau modus seperti ini masih mempan untuk menipu. Maka itu, kita harus tenang, pakai logika, dan jangan tamak dalam menyikapi hal seperti ini, sehingga modus-modus penipuan seperti ini tidak mengganggu lagi, karena penipu pun akan bosan dan kapok, sebab jurus-jurus meraka tidak mempan dan tidak laku lagi.

Kembali, intinya, tetap kita harus tenang, pakai logika, dan jangan tamak. Maka peluang kita untuk tertipu akan semakin kecil.

Mejuah-juah Indonesia.




1 COMMENT

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.