Kolom Asaaro Lahagu: ANALISA JANGGAL ‘NGAKU RELAWAN’ PEMASANG POSTER JOKOWI RAJA

2
385

Sepintas lalu teka-teki pemasang poster Jokowi Raja di Jawa Tengah terbongkar. Publik pun manggut-manggut. Ternyata pemasang poster Jokowi raja itu adalah relawan Jokowi-Ma’ruf. Mereka adalah Kaukus Anak Muda Indonesia (KAMI). Sampai di sini kasus dianggap selesai. Kubu Prabowo yang merasa dituduh sebagai biangnya menuntut PDIP meminta maaf. Benarkah demikian?

Sama sekali tidak. Terbongkarnya pemasang poster Jokowi Raja justru memulai babak baru.




Ini adalah operasi penjatuhan paling sempurna yang dilancarkan oleh lawan Jokowi. Pengakuan KAMI sebagai pihak yang bertanggungjawab memiliki beberapa kejanggalan.

Pertama, semua relawan Jokowi sudah dibriefing dan harus paham bahwa mereka tidak boleh menggunakan simbol salah satu partai pendukung. Namun, pada poster Jokowi Raja, KAMI yang mengaku sebagai relawan mengeluarkan simbol partai.

“Pada poster itu ada tanda gambar Banteng Moncong putih (lambang PDIP). Kalau relawan biasanya tidak menggunakan lambang partai. Mereka pendukung Jokowi tapi nonpartisan,” ujar Andreas Hugo Pareira sebagaimana dilansir oleh Merdeka.com [Minggu 18/11].

Andreas menegaskan PDI Perjuangan tidak terlibat sama sekali dalam pemasangan poster itu. Dia justru berkeyakinan poster itu akan merusak citra Jokowi sebagai pemimpin negara ataupun untuk memenangkan Pilpres 2019.

Ke dua, berdasarkan pengakuan Andreas Hugo Pareira, PDIP tidak memilliki kader dari partainya yang terafiliasi dengan KAMI. Nama KAMI sendiri baru terdengar setelah viral poster Jokowi Raja itu. Sejak KAMI mendeklarasikan sebagai pendukung Jokowi 16 Agustus lalu di Jakarta, nama relawan itu tidak pernah lagi terdengar.

KAMI itu siapa? Kenapa memuat tanda gambar PDI Perjuangan? Tidak ada organ partai yang berinisial KAMI. Kenapa menggunakan tanda gambar PDI Perjuangan? Pengakuan ini malah jalan masuk yang bagus untuk ditelusuri siapa mereka,” ucap Andreas.

Ke tiga, Ketua Tim Pemenangan Jokowi (Erick Thoir) menegaskan bahwa koordinasi antar pusat dengan daerah sangat solid. Segala instruksi dari pusat sudah dipikirkan matang-matang. Erick menjamin bahwa dalam segala kampanye Jokowi, tidak ada himbauan untuk mencitrakannya sebagai raja. Bahkan Erick bersedia mundur, jika benar Jokowi mau menjadi presiden seumur hidup.




Mungkin kalau dia (Joko Widodo) jadi presiden seumur hidup atau jadi raja, ya mungkin saya orang pertama yang mundur dari tim kampanye karena saya percaya demokrasi,” kata Erick Thohir di Kawasan Menteng (Jakarta Pusat) [Sabtu 17/11].

Lalu, siapa sebenarnya KAMI itu? Disebutkan bahwa Koordinator KAMI (Ade Irmanus Sholeh) (28), warga Desa Dukuhturi, Bumiayu (Brebes, Jawa Tengah) adalah orang yang bertanggungjawab memasang poster raja Jokowi di wilayah Banyumas. Saat dimintai keterangan oleh Pengurus PDIP dan relawan Projo, dia mengaku sebagai pendukung Jokowi.

Peran Ade sebagai koordinator pemasangan baliho dan poster raja Jokowi diungkap oleh Pengurus PDIP Kecamatan Bumiayu dan relawan Projo setempat. Ade mengaku dirinya memasang poster itu karena mendukung Jokowi dua periode. Kepada pengurus PDIP, Ade menceritakan semua yang terkait dengan peredaran poster tersebut.

Cerita Ade pun sangat kronologis. Namun yang janggal, Ade tidak mengetahui dengan jelas siapa penyandang dana poster itu. Ia hanya menyebut dari pusat. Masalahnya, Ketua Tim TKN Jokowi dari pusat membantah keras dan sama sekali tidak mengetahui perihal poster tersebut.

Lalu, siapa yang bermain dalam poster Jokowi Raja? Kuat dugaan ada penyusup yang mengatasnamakan relawan Jokowi KAMI. Ade Irmanus Sholeh hanya dimafaatkan oleh penyusup. Dengan iming-iming honor lebih Rp. 22 juta, jelas Ade tergiur.

Sampai sekarang sudah lebih 500 kelompok yang mengatasnamankan relawan Jokowi. Banyak diantaranya tak berkoordinasi dengan pusat. Situasi ini menjadi sasaran empuk skenario operasi kubu lawan untuk menyerang citra Jokowi dari dalam.




Jika Jokowi tak dapat ditakhlukan melalui face to face, maka strategi lain dikembangkan demi kemenangan. Salah satunya adalah black propaganda alias kampanye hitam yang sangat halus namun mematikan. Tujuan kampanye ini adalah demonization yang berarti pengiblisan lawan, mendegradasi lawan dengan membuat karakter lawan tampak buruk di mata pemilih.

Jika pada Pilpres 2014, Jokowi dikampanyekan sebagai seorang anti Islam dan keturunan PKI melalui Tabloid Obor, sekarang instrument itu diganti dalam bentuk baru. Skenarionya adalah mencari cara kampanye hitam, namun bisa lolos dari jerat hukum. Pesan dari kampanye hitam itu jelas yakni membuat masyarakat tanpa sadar menerimanya.

Beredarnya poster Jokowi Raja di Jawa Tengah merupakan wujud black campaign yang amat halus. Dalam poster itu, Jokowi digambarkan mengenakan mahkota dan baju kebesaran seorang raja. Poster dibuat seolah-olah dikeluarkan oleh PDIP. Padahal faktanya baik DPD PDIP Jateng, DPP PDIP, pun Tim Kampanye Nasional tidak pernah memproduksi, meminta diproduksi poster Jokowi Raja itu.

Sebuah desa di Jawa Tengah

Tulisan dalam poster memang sengaja dibuat sehalus mungkin. Tak ada kalimat yang menyerang. Hanya gambar Jokowi yang berpakaian raja. Namun, siapa pun yang memandang poster itu akan muncul dalam hati kecilnya citra buruk tentang Jokowi. Dalam alam demokrasi, sosok raja adalah negatif sebab kekuasaannya tidak diperoleh melalui Pemilu. Kekuasaan raja bersifat abadi dan baru diganti setelah meninggal.

Jadi poster Jokowi Raja adalah black campaign bentuk baru yang sangat halus. Dalam poster itu ada 2 tujuan yang dicapai. Pertama, Jokowi diserang sebagai Presiden dan PDIP sebagai partai pesaing dalam Pemilu. Ke dua memecah persatuan Kubu Jokowi yang terlihat sangat solid dengan cara memisahkan Jokowi dengan Ma’aruf Amin.




Poster Jokowi sebagai Raja jelas lanjutan dari kampanye citra negatif yang telah dibangun oleh lawan. Selama 2 tahun terakhir ini, kubu lawan Jokowi terus-menerus mencitrakan Jokowi sebagai anti demokrasi. Puncaknya ketika ia mengeluarkan Perpu pembubaran Ormas, adanya aksi pembubaran tagar ganti presiden dan menerapkan politik babat alas.

Publik berpandangan bahwa mendukung Jokowi adalah menyelamatkan demokrasi, mempertahankan Pancasila, pluralitas dan Kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara. Mendukung Jokowi adalah mencegah kembalinya kekuasaan otoriter Orde Baru.

Nah, citra ini hendak dirusak dengan menanamkan dalam benak masyarakat bahwa Jokowi adalah raja. Citra ketegasan itu diubah gambarnya oleh lawan Jokowi menjadi Jokowi otoriter dan anti demokrasi.

Kubu lawan Jokowi yang dihuni oleh banyak jenderal jelas semakin cerdas membuat skenario black propaganda dalam bentuk baru. Bentuk poster Raja Jokowi adalah salah satunya.

Untungnya PDIP cepat sadar dan tidak termakan poster halus itu bulat-bulat. Dengan tegas PDIP memerintahkan pencabutan semua poster di seluruh Jawa Tengah. Lalu membiarkan Fadli Zon berpuisi termehek-mehek seraya berlagak playing victim.

Kita tunggu penyelidikan siapa penyusup di belakang Ade Irmanus Sholeh itu. Begitulah kura-kura.








2 COMMENTS

  1. “Kita tunggu penyelidikan siapa penyusup di belakang Ade Irmanus Sholeh itu. ”

    Dari sejumlah informasi dan pengetahuan yang semakin luas dari internet, abad keterbukaan dan aliran berita cepaat, INFORMASI DAN PENGETAHUAN DARI SEMUA DAN UNTUK SEMUA, sudah bisa diterka dengan tepat siapa dibelakang Ade Sholeh.

    “Unsurprisingly, pro-New World Order globalists’ true but largely hidden ideology has always leaned far closer to their supposed Communist totalitarian enemy than any real democracy. They’ve always been about killing off all competition for the sake of maintaining monopolized control of an anything but free market. They’ve used their secret fraternity to retain their global power into the fewest hands. And their lust for Third World exploitation, theft and violence is so insatiable that any foreign national leader who actually attempts to practice democratic principles directly benefiting and uplifting their native population is simply not tolerated and through the globalists’ secret private army the CIA that answers to no one in government, that leader is quickly assassinated and/or overthrown. Iran’s Prime Minister Mohammed Mossadegh in 1953 and Chile’s President Salvador Allende in 1973 are but two among many examples of international leaders who were violently cut short from continuing their noble work improving the economic lives of their people. Because they were loyal to their own citizens and nations and United States business interests were not given high enough priority, the CIA made sure they were eliminated from power.
    Again straight out of organized crime’s playbook, the message to all nations on earth is either you play ball allowing the mighty US bully to come rape and pillage your country or your leader will suddenly be gone in a heartbeat. With near total impunity for more than 60 years the CIA’s been covertly deployed around the world engaging in state sponsored terrorism as the globalists’ mercenary death squad constantly violating every international law, UN Charter and Geneva Convention rule in order to subversively wreak havoc around the globe, again protected with complete impunity by US’ deep state exceptionalism.
    Indeed there are very few regions on earth where US Empire has not actively supported or organized coup d’états or otherwise overthrown and/or assassinated foreign leaders and governments. One readily can see that the alphabetical shortlist that follows is actually very long:
    Afghanistan, Albania, Angola, Argentina, Bolivia, Bosnia, Brazil, Cambodia, Chile, China, Colombia, Colorado, Congo, Cuba, Dominican Republic, Egypt, El Salvador, Germany, Greece, Grenada, Guam, Guatemala, Haiti, Hawaii, Honduras, Indonesia, Iran, Iraq, Korea, Kuwait, Laos, Lebanon, Liberia, Libya, Macedonia, Mexico, Nicaragua, Oman, Pakistan, Panama, Philippines, Puerto Rico, Russia, Samoa, Saudi Arabia, Somalia, South Dakota, Sudan, Syria, Turkey, Uruguay, USSR, Ukraine, Venezuela, Vietnam, Virgin Islands, Yemen, Yugoslavia and Zaire
    And the list above doesn’t even include assassinations committed by government insiders inside the US of such prominent American leaders as JFK, Malcolm X, Martin Luther King and RFK. With thousands of murderous hitmen posing as federal agents undoubtedly never serving even one day in prison for committing so much murder, mayhem and chaos over so many years on such a colossal global scale, it’s mind boggling to even fathom how their sins go unpunished.
    Speaking of getting away with murder, despite the CIA getting caught red-handed committing unlawful acts of torture (euphemistically called enhanced interrogation techniques) on a regular basis during the Bush-Cheney years, Obama refused to prosecute because he more than likely allowed it to continue on his watch. So says the imprisoned CIA officer turned whistleblower John Kiriakou who ended up doing serious time because he did the right thing courageously exposing the widespread inhumane practice while the perpetrators got away with their crimes. But then consistent with history, good deeds go punished and evil ones don’t.”

    bisa googling disini: Divide and Conquer: The Globalist Pathway to New World Order Tyranny A Geopolitics Perspective

    • Kacamata Kontradiksi Utama

      Tiap konflik atau kontradiksi besar yang terjadi didunia pastilah tidak bisa dipisahkan dengan KONTRADIKSI UTAMA dunia sekarang ini, yaitu Perjuangan antara KEPENTINGAN NASIONAL bangsa-bangsa dunia KONTRA kepentingan global neolib NWO.
      Cobalah cari salah satu konflik besar yang tidak ada sangkut pautnya dengan Kontradiksi Utama itu seperti kudeta Soekarno 1965, teror Thamrin atau teror panci, teror Surabaya, apalagi ISIS atau perang Syria, Irak, perang ‘civil’ Yemen dll. Juga termasuk soal narkoba dan korupsi besar pejabat suatu negara. Semua ini tidak bisa dipisahkan dari KONTRADIKSI UTAMA itu. Soal mengadu domba dan memecah belah dikalangan rakyat seperti foto raja Jokowi itu, bisa dikaitkan atau memang erat kaitannya dengan kutipan ini: (sumber sama)

      “They’ve always been about killing off all competition for the sake of maintaining monopolized control of an anything but free market. They’ve used their secret fraternity to retain their global power into the fewest hands. And their lust for Third World exploitation, theft and violence is so insatiable that any foreign national leader who actually attempts to practice democratic principles directly benefiting and uplifting their native population is simply not tolerated and through the globalists’ secret private army the CIA that answers to no one in government, that leader is quickly assassinated and/or overthrown.”

      Walaupun cara ini umumnya pada abad lalu. Sekarang, seperti di artikel ini pakai “black campaign bentuk baru yang sangat halus”. Tetapi tetap berkaitan dengan KONTRADIKSI UTAMA itu, kepentingan nasional yang bertentangan atau tidak bisa ditoleransi oleh NWO. “They’ve always been about killing off all competition for the sake of maintaining monopolized control of an anything but free market.”

      Kaca mata KONTRADIKSI UTAMA pasti membantu mencerahkan tiap konflik atau perpecahan karena bisa langsung memahami HAKEKAT persoalannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.