Kolom Eko Kuntadhi: SOEHARTO MEMUSUHI UMAT ISLAM

0
315

1983, seorang siswi SMA 68 Jakarta terancam dikeluarkan dari sekolah. Kesalahannya hanya satu, karena dia memakai jilbab. Pada tahun yang sama beberapa siswi di SMA Jember juga dikeluarkan dari sekolah. Kenapa? Karena dia menggenakan jilbab.

Siswi di Jember itu juga sempat dipanggil ke Markas Kodim dan diinterogasi di sana. Jilbab telah menjadikannya seperti musuh negara.

Penguasa Orde Baru waktu itu, Soeharto, memang sangat membenci hadirnya simbol Islam di ruang publik. Ada peraturan SK 052/C/Kep/D.82 yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar yang mengharamkan pemakaian jilbab di sekolah. Jika ada siswi melanggar, hukumannya dikeluarkan dari sekolah bahkan bisa ditangani aparat keamanan.




Bagi Soeharto di zaman itu, menggenakan jilbab adalah semacam menentangan pada kekuasaannya.

Para aktivis muslim terus melancarkan protes. Mereka menggelar demonstrasi di berbagai kota untuk membela pakaian yang dianggap mewakili sikap keagamaan. Budayawan Emha Ainun Nadjib, misalnya, menggelar sebuah acara teater bertajuk ‘Lautan Jilbab’.

Bukan hanya jilbab. Soeharto pada jaman itu mencurigai apa saja yang berbau Islam. Baginya ada dua musuh dan hantu yang harus disingkirkan, ekstrem kiri (komunis) dan ekstrem kanan (Islam). Padahal pada awal kekuasaannya, Soeharto lewat tangan aparat mendorong kekuatan-kekuatan Islam untuk menghancurkan semua kekuatan PKI.

Saat 1965, Soeharto mengorganisir elemen umat Islam untuk melakukan pembersihan pada warga yang dianggap PKI. Di depan mata aparat, warga didorong untuk membantai tetangganya sendiri. Tragedi tersebut memakan korban hampir 1 juta orang Indonesia. Dengan kata lain, Soeharto memaksa sebagian umat Islam yang memang pernah bergesekan dengan PKI untuk melakukan kebiadaban.

Tapi, ketika dia naik ke tahta kekuasaan, justru memusuhi kekuatan Islam.

Kita ingat banyak kasus persoalan bernada agama yang dijawab dengan peluru. Ada kasus Haur Koneng di Jawa Barat, ada kasus Talangsari di Lampung. Ada juga kasus Tanjung Priok, di Jakarta. Pada semua kasus itu, puluhan nyawa melayang. Darah tercecer karena kebencian rezim pada kekuatan politik Islam.




Banyak kisah mengenai ulama dan penceramah agama yang ditangkapi, disiksa dengan disetrum kemaluannya. Itu adalah cerita biasa. Masa itu adalah masa ketika beragama dianggap sebagai penjahat.

Baru pada tahun 1990-an ada angin yang berubah. Di dunia internasional makin terdengar kritik keras terhadap kekejaman rezim Soeharto. Bukan hanya kekejamannya, juga keserakahan anak-anak dan kroninya. Di bidang ekonomi, anak-anak dan kroninya mengangkangi ekonomi Indonesia. Bisnis mereka didasarkan pada rente.

Sadar AS dan Eropa mulai gerah pada ulah kekejaman dan keserakahannya, Soeharto mencoba mengambil hati umat Islam di Indonesia. Tujuannya untuk mendapat dukungan politik. Islam yang tadinya dianggap sebagai musuh, mulai didekati Soeharto. Itu terjadi menjelang akhir masa kekuasaannya.

Tapi, catatan bahwa rezim Soeharto anti Islam tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena anaknya seperti Titiek dan Tutut sekarang ke mana-mana memakai kerudung. Hanya karena ada masjid di Taman Mini bernama At-Tin. Sebagai informasi, Bu Tien adalah istri Soeharto, yang menurut kabar cukup berperan mempengaruhi kebijakan-kebijakan Presiden.

Ada kisah pilu, hanya untuk mewujudkan cita-cita Bu Tien membangun TMII, terjadi perampasan tanah rakyat di Pondok Gede. Lagu Iwan Fals, ‘Ujung Aspal Pondok Gede’ adalah gambaran suasana perampasan tanah rakyat itu. Yang dilakukan aparat untuk menyenangkan hati istri Presiden Soeharto.

Ok, kembali pada hubungan Soeharto dengan kekuatan Islam, adalah hubungan pemanfaatan. Ketika dibutuhkan umat Islam dimobikisir menjadi beringas untuk menumpas PKI. Saat kekuasaan Soeharto adem umat Islam dimusuhi, bahkan banyak yang terbunuh. Saat Soeharto mulai kehilangan pegangan dukungan internasional, umat Islam Indonesia kembali dirangkul.




Dengan kata lain, bagi rezim Soeharto, umat Islam hanya keset untuk membersihkan sepatunya yang kotor oleh lumpur sejarah.

Lalu, kini Titiek Soeharto kampanye, dia mendukung Prabowo agar kekuasaan Soeharto bisa diteruskan. Dan mereka yang paling keras bertepuk tangan dengan statemen Titiek adalah orang-orang yang mengatasnamakan Islam. Kan, bangke!

Percayalah, deh, kini jaman jauh lebih baik bagi umat Islam ketimbang jaman Soeharto. Kita bebas memakai jilbab, bahkan cadar. Kita bebas berekspresi keagamaan di muka umum. Tanpa takut diinterogasi Kodim.

Tapi, mbok ya, jangan kebablasan. Kebebasan memakai jilbab silakan. Tapi juga jangan mau mewajibkan siapa saja berjilbab. Bahkan di sekolah-sekolah negeri ada aturan wajib jilbab. Itu sama saja. Bagi saya melarang jilbab di sekolah negeri, sama memuakkannya dengan mewajibkan jilbab di sekolah negeri.

Mau dakwah, silakan. Mau ceramah dan bicara agama, silakan. Tapi juga jangan kebablasan malah mau merampas hak agama lain. Ini Indonesia. Negara yang isinya plural.




Dulu umat Islam merasakan betapa susahnya hanya sekadar memakai jilbab. Sekarang jangan justru menjadi algojo yang membuat umat agama lain susah beribadah, dengan memberangus gereja dan sebagainya. Hidup tertindas itu gak enak. Jadi, jangan juga jadi umat penindas.

Repotnya bangsa ini punya kebiasaan beralih dari satu bandul ekstrem ke bandul ekstrem lainnya. Dulu Islam dimusuhi Soeharto. Kini setelah bebas dan punya kuasa, maunya memusuhi umat lain. Maunya jadi umat mentang-mentang.

Kalau sekarang orang atas nama Islam bertepuk tangan dengan omongan Titiek yang merindukan kembali masa pemerintahan Soeharto. Mungkin Titiek merasa. Dulu hidup memang gampang. Mau tanah tinggal rampas. Mau bisnis tinggal minta hak monopoli. Mau kaya tinggal tadangin proyek APBN. Mau dapat dukungan suara Islam, semoga Titiek gak berpikir: tinggal bayar. Beres!

“Mas, dulu jaman Seoharto saya enak. Sekolah gak mikirin bayaran. Sakit gak mikirin biaya berobat,” ujar Abu Kumkum.

“Kum. Kamu emang gak mikirin bayaran. Yang mikirin bayar ya bapakmu. Wong kamu masih bocah!,” timpal Bambang Kusnadi, nyolot.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.