Kolom Asaaro Lahagu: JOKOWI – MA’ARUF DIADU DOMBA (Kubu Lawan ‘Buta-Tuli’, SBY Jadi Jagoan)

0
595

Tuduhan keji kepada Jokowi tengah bergulir keras. Ia dituduh akan memperalat Ma’ruf Amin setelah menang Pilpres 2019 mendatang. Skenarionya adalah Ma’ruf akan digantikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Tuduhan keji ini didasarkan logika usia Ma’aruf Amin yang sudah cukup tua. Nantinya setelah menang Pilpres, Jokowi akan mencari-cari alasan untuk menyingkirkan Ma’aruf Amin.

Misalnya tidak sehat, kurang gesit dan seterusnya. Lalu, Ahok pun akan diangkat sebagai gantinya.

Secara logika tuduhan ini kurang masuk akal. Usia Ma’aruf memang sudah cukup tua namun lebih muda dari Mahatir Muhammad. Dalam 5 tahun ke depan Ma’ruf Amin akan tetap sehat, kuat dan mampu melakukan tugas-tugasnya.




Jika pun kelak Ma’ruf Amin benar-benar mengundurkan diri karena alasan kesehatan, tentu tidak gampang bagi Jokowi begitu saja menaikkan Ahok. Alasannya jelas, situasi akan gaduh. Kaum intoleran dan kaum penebengnya akan demo berjilid-jilid.

Ma’ruf sendiri tidak yakin Jokowi berbuat sekejam itu. Jokowi adalah orang yang jujur dan tidak suka menusuk dari belakang. Saat Ahok menyerang Ma’ruf di pengadilan tahun 2017 lalu, justru Jokowi membela Ma’ruf. Jokowi sangat menghormati Ma’ruf dan mengandalkannya.

Ma’ruf mengatakan, dirinya yakin tidak mungkin diperalat calon presiden Joko Widodo (Jokowi) karena pemilihan dirinya sudah melalui pertimbangan matang. Isu itu, tegasnya, dilontarkan pihak yang tidak bertanggungjawab tanpa bukti serta fakta.

Itu pernyataan salah dan menyesatkan umat, belakangan ini memang sering bergulir isu demikian, ini harus diluruskan,” kata Ma`ruf Amin di Tangerang, Banten [Senin 19/11], pada peringatan Maulid Nabi di Ponpes Alfalah, Desa Kresek, Kabupaten Tangerang.

Menurut Ma’ruf, sebagaimanan dikutip oleh Antara, sebagai Rois Am PB NU dan Ketua Umum MUI, maka dirinya tidak pantas dijadikan alat untuk perjuangan merebut suara umat. Ma’aruf menambahkan, dalam berpolitik harus santun dengan cara meniru Nabi Muhammad yang sopan serta tidak galak.




Jelas tuduhan keji kepada Jokowi untuk memperalat Ma’aruf adalah adu domba. Ketika lawan tak bisa menurunkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf, maka dicari cara baru untuk menghantamnya. Adu domba langsung, adalah salah satunya.

Adu domba Jokowi-Ma’ruf memang sedang digulirkan dan terus digulirkan. Alasannya selalu saja ada masyarakat yang menelan mentah-mentah isu itu. Ini jelas PR baru bagi tim sukses Jokowi-Ma’ruf untuk menangkalnya.

 

Kubu Prabowo ‘buta-tuli’

Selama dua bulan kampanye, usaha Prabowo-Sandi menggoreng pedas sisi kelemahan Jokowi di bidang ekonomi, tak berhasil. Publik tidak percaya janji-janji kosong Prabowo-Sandi. Terlihat Prabowo-Sandi hanya menyerang membabi-buta kelemahan Jokowi namun tidak memberikan solusi nyata.

Prabowo-Sandi hanya mampu berbusa-busa mulut untuk menggoreng kekurangan Jokowi. Pasangan ini blusukan aneh di pasar dan ketagihan mengatakan harga-harga mahal, ekonomi kacau dan orang miskin semakin banyak.

Orang tak waras ‘buta dan tuli’ memang hanya bisa menyerang tanpa data. Ngarang, ngigau dan linglung. Sontoloyo. Tak melihat bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 5% itu sudah hebat ketimbang negara lain. Pun tidak bersyukur prestasi hebat pemerintah membangun infrastruktur masif yang kelak memicu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.

Orang ‘buta’ tidak melihat kehebatan pemerintah saat ini yang mampu mengambil saham sejumlah perusahaan asing yang puluhan tahun mengisap sumber daya alam Indonesia. Orang ‘buta’ juga tidak melihat harga-harga stabil di pasar dan tingkat inflasi yang rendah.




Orang ‘buta’ tidak melihat bagaimana ketegasan pemerintah memberantas hoax, menanggulangi teroris, narkoba dan radikalisme. Orang ‘buta’ tidak melihat kinerja pemerintah mengurangi pengangguran dan berusaha keras membayar cicilan utang warisan pemerintahan sebelumnya.

Lalu, orang ‘tuli’ tidak mendengar apapun yang telah dicapai pemerintah. Misalnya prestasi di Asian Games, penanganan cepat bencana alam dan seterusnya. Orang ‘tuli’ hanya mampu misunderstanding oleh pendengarannya. Karenanya, tak heran muncul pernyataan 99% orang Indonesia hidup pas-pasan dan akan program menghidupkan kembali gaya pemerintahan Soeharto.

Publik sepakat soal kritikan. Sebagai penantang, Prabowo-Sandiaga wajib menguliti kelemahan pemerintahan saat ini. Namun demikian, yang terjadi dalam 2 bulan ini hanyalah kenyinyiran disertai janji-janji bersifat bualan.

Pihak Prabowo-Sandi tak punya solusi konkret melalui pemaparan rinci. Jika memang tempe saat ini setipis ATM, karena produsen mengurangi bobot demi mempertahankan harga jual, munculkan solusi jitunya. Katakan jelas, ini solusinya yang masuk akal, bisa dilakukan dan brilian.

Pernyataan janji Prabowo-Sandi: “Jika nanti saya terpilih, lalu saya akan menurunkan harga kebutuhan pokok, mengurangi pengangguran, menaikkan gaji guru, wartawan, TNI-Polri dan sterusnya…..” sangat lebai karena berada di awang-awang.

Bagaimana cara anda mengurangi pengangguran? Tentu dengan memacu pertumbuhan ekonomi. Setiap 1% pertumbuhan ekonomi, maka bisa menyerap tenaga kerja baru sebanyak 300 ribu orang. Nah, bagaimana cara memacu pertumbuhan ekonomi agar misalnya bisa 10%?




Bisa melalui ekonomi kreatif, menggenjot pariwisata, mengekspor beras, menambah nilai barang pada produk dan seterusnya. Lalu, bagaimana cara mengekspor beras? Caranya membangun waduk untuk irigasi di mana-mana.

Lalu, dari mana duit membangun waduk? Kita minjam duit dulu dari rakyat lewat Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau pinjaman dari luar negeri dengan bunga rendah. Nanti dengan etos kerja keras, tidak korupsi, presidennya blusukan terus-menerus untuk mengawasi, kita akan mampu membayarnya. Itulah contoh konkritnya dan bukan menjadi sontoloyo dan genderuwo.

 

SBY jadi Jagoan

Kubu Prabowo memang sedang dilanda linglung. Perbedaan platform dan isi kardus telah membuat SBY sendiri menarik diri pelan-pelan dari Kubu Prabowo. Ada keyakinan publik bahwa sejak Prabowo meninggalkan AHY, sejak itu pula SBY lebih menginginkan Prabowo-Sandi kalah pada Pilpres 2019. Mengapa?

Jika Prabowo-Sandi menang, maka kalkulasinya AHY harus menunggu 20 tahun untuk bisa menjadi Presiden. Waktu yang cukup lama dan melelahkan. Namun, Jika Jokowi-Ma’ruf menang, peluang AHY menjadi Capres dan bertarung dengan Sandiaga pada Pilpres 2024 terbuka.

Untuk memuluskan peluang AHY yang karir militernya sudah dikorbankan oleh SBY, maka usai Pilpres 2024, SBY kemungkinan bergabung dengan Jokowi. Alasannya tidak ada gunanya lagi bersama Prabowo. Kursi menteri untuk AHY sebagai wadah untuk mempopulerkannya bisa diberikan oleh Jokowi.

Maka, tidak heran jika ada keanehan di Kubu Prabowo. Mereka mengatakan bahwa pada bulan Maret 2019, SBY akan mengkampanyekan Prabowo-Sandi. Alasannyanya jagoan memang belakangan turun. Lalu apa artinya? Yang dijagokan menjadi Capres adalah SBY? Lalu, Prabowo-Sandi ternyata bukan jagoan. Mereka hanya uji coba. Begitulah kura-kura.








Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.