Kolom Asaaro Lahagu: JENDERAL ANDIKA, KEPINGAN AKHIR KONSOLIDASI STRATEGIS JOKOWI

0
501

Saat Jokowi mengangkat Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI pada tanggal 8 Desember lalu, saya setuju sekaligus ragu. Saya setuju karena dari sisi kesetiaan, Hadi yang berasal dari Solo, pasti membela habis Jokowi jika digebukin. Dari segi kontroversi, Hadi tidak macam-macam. Ia kalem, tenang namun tegas.

Terbukti sampai sekarang, sepak terjang Hadi cukup mentereng.

Ia bisa membuat Jokowi aman tenteram. Sangat berbeda di era Gatot. Saat Gatot memimpin TNI, Jokowi merasa was-was. Manufer-manufer Gatot terlihat kerap menusuk dari belakang.




Sebagai contoh, Gatot membiarkan tumbuhnya rivalitas sengit antara TNI-Polri. Bahkan Gatot sendiri mengeluarkan pernyataan menusuk bahwa ia tak segan-segan menyerbu Polri jika terbukti memiliki senjata non-militer.

Di era Hadi, TNI sudah kembali ke jalan yang benar dan tidak ikut-ikutan berpolitik. Rivalitas TNI-Polri sudah hilang. Sekarang, hubungan TNI-Polri begitu mesra dan bahu-membahu menjalankan tugas pertahanan dan pengamanan negara. Panglima TNI dan Kapolri (Hadi Tjahjanto dan Tito Karnavian) kerap duduk bareng menunjukkan kekompakan.

Hal yang membuat saya ragu kepada Hadi Tjahjanto adalah kemampuannya mengendalikan Angkatan Darat jika terjadi sesuatu. Kita tahu sebelumnya pengaruh Gatot di Angkatan Darat sangat kental. Angkatan Darat tidak begitu dekat dengan Hadi karena dia berasal dari Angkatan Udara.

Menjelang Pilpres 2019, lawan tentu mati-matian melengserkan Jokowi. Segala cara akan dihalalkan demi merebut kekuasaan. Apalagi di kubu lawan bergabung semua kaum radikalis, HTI, para mafia, para pentolan Orde Baru, para preman dan kaum konglamerat hitam.

Bahayanya adalah jika ada gejolak di sisa kampanye Pilpres. Misalnya Jokowi salah ucap, keseleo lidah atau salah langkah, maka kubu lawan mencoba membakar isu itu sebesar mungkin. Istilahnya, cari gara-gara, cari alasan untuk berdemo habis-habisan.




Tujuannya tentu untuk membuat kerusuhan dan akhirnya demo berjilid-jilid. Bahayanya adalah ketika Angkatan Darat terperosok oleh kepentingan politik. Angkatan Darat bisa digiring dengan cepat berbalik menusuk pemerintah dari belakang.

Hal inilah yang pernah terjadi di era Gatot Nurmantyo. Saat ada demo berjilid-jilid terhadap Ahok, Gatot kerap bermain di dua kaki. Satu kaki Gatot mendukung pemerintah namun satu kaki lainnya mendukung para pendemo. Waktu itu Tito Karnavian setengah mati untuk mengendalikan situasi.

Jika hal ini kembali terjadi menjelang Pilpres, maka skalanya tentu jauh lebih besar dan amat berbahaya. Sasaran bukan lagi kepada Ahok tetapi kepada Jokowi langsung. Apalagi kalau TNI Angkatan Darat ikut bermain politik dan menebeng aksi demo, maka skala bahayanya semakin tinggi.

Nah, di sini Jokowi membutuhkan sosok pemimpin di Angkatan Darat yang lihai bermanufer namun tetap loyal kepada pemerintah yang sah. Jokowi membutuhkan orang yang dipercaya total di Angkatan Darat. Artinya, harus ada komandan yang mampu mengendalikan Angkatan Darat. Komandan itu setia dan tidak bermain dua kaki serta 100% netral.

Nah, sosok hebat itu adalah Jenderal Andika Perkasa. Hari ini [Kamis 22/11], Letjen Andika Perkasa dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pangkat Andikapun dinaikkan satu tingkat menjadi Jenderal penuh alias 4 bintang.

Kenaikan pangkat Andika itu begitu cepat. Pada bulan Juli 2018 lalu, pangkat juga dinaikkan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal. Kenaikan pangkat ini tentu ada tujuannya. Saya yakin, Andika sedang dipersiapkan menjadi calon Panglima TNI menggantikan Hadi Tjanjanto pasca Pilpres.




Nama Andika sebelumnya memang sudah santer disebut-sebut bakal menggantikan Jenderal Mulyono sebagai KSAD. Andika sebelum ini menjabat Pangkostrad. Andika juga pernah menjabat Dankodiklatad, Panglima Kodam XII/Tanjungpura, dan menjadi Komandan Paspampres pada Oktober 2014, sesaat setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden RI.

Pengangkatan Jenderal Andika Perkasa menjadi KSAD menjadi akhir konsolidasi strategis Jokowi menuju Pilpres 2019. Andika adalah sosok keping terakhir Jokowi dalam membentengi dirinya dari segala ancaman. Tak berlebihan pasca pelantikan, Jokowi terlihat sangat senang dan memuji Andika sebagai sosok yang komplet.

Sosok Jenderal Andika memang orang yang tepat memimpin Angkatan Darat dalam tahun politik. Selain prestasi mentereng, Andika juga sangat dekat dengan Megawati dan Hendropriyono. Hendropriyono adalah mertuanya Andika. Dan, kita tahu bahwa Megawati dan Hendropriyono adalah pendukung utama Jokowi.

Kemampuan Andika juga sudah terbukti hebat. Ia mampu menjadi komandan Paspampres dan memberi perlindungan maksimal kepada Jokowi yang gemar blusukan. Andika adalah sosok setia yang mampu mendesain ulang pengawalan Presiden Jokowi yang terkenal dekat dengan rakyat.

Dengan pengangkatan Jenderal Andika Perkasa sebagai KSAD, maka keraguan saya kepada Jenderal Hadi Tjahjanto hilang. Hadi akan menjadi Panglima TNI dan mengurusi manajemen dan reformasi institusi. Sementara Andika akan membersihkan oknum-oknum dalam tubuh Angkatan Darat yang cenderung bermain dua kaki.

Masuknya Jenderal Andika menjadi pimpinan nomor satu Angkatan Darat, maka lengkaplah sudah poros kekuatan Jokowi. Ada Moeldoko yang siap sedia membela Jokowi. Ada Luhut Panjaitan yang lihai bermanufer jika ada bahaya. Ada Hadi Tjahjanto yang tak lagi diragukan kesetiaannya. Ada Jenderal Tito Karnavian yang sangat paham soal radikalisme, terorisme dan premanisme.




Kini, tak diragukan lagi bahwa TNI Angkatan Darat sangat solid di belakang Jokowi di tangan Andika. Maka tak berlebihan jika saya simpulkan bahwa Jenderal Andika adalah kepingan terakhir konsolidasi strategis akhir Jokowi.

Jokowi sudah tidak perlu ragu-ragu lagi untuk melangkah. Ia bisa mengeluarkan perintah tegas menggebuk lawan yang macam-macam, menghabisi para penyebar hoax, kaum pemfitnah, penghasut dan perongrong NKRI.

Jenderal Andika, kepingan akhir konsolidasi strategis Jokowi. Begitulah kura-kura.









Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.