Perda atas nama agama yang aneh bin ajaib? Perempuan tidak boleh ngangkang saat berkendara memakai sepeda motor. Karena bertujuan untuk menghindari syahwat dari para laki-laki (jarene)? Lalu, mungkin saja setelah itu para perempuan diwajibkan memakai cadar. Setelah memakai cadar, maka para perempuan diwajibkan untuk melayani suaminya saja di rumah.

Tidak boleh ke mana-mana, tanpa adanya suami yang mendampingi. Mungkin saja peraturan tersebut akan demikian adanya?

Siapa yang dirugikan dalam hal ini, kalau bukan kaum perempuan? Lalu buat apa ada istilah emansipasi wanita? Dan buat apa ada pahlawan-pahlawan perempuan segala?




Padahal, bukanlah hal yang seperti ini yang diminta oleh Ibu Kita Kartini? Bukanlah hal seperti ini yang diminta oleh sang singa Cut Nyak Dien. Mereka ingin, kaumnya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum laki-laki di Indonesia.

Peraturan yang sangat mengada-ngada dan mundur ke jaman peradaban kuno berada.    Apakah dengan tidak ngangkangnya para kaum perempuan, terus perzinahan akan berhenti? Apakah dengan memakai cadar para perempuan akan terbebas dari pemerkosaan?

Jawabnya, belum tentu. Karena, syahwat itu bisa bermacam-macam kedoknya. Bisa lewat kawin dan kawin lagi. Atau malah bisa memakai sistem kawin kontrak yang menurut mereka “halalan toyyiban”.

Hmmm, kentir? Baik diperkosa maupun dipoligami tanpa adanya persetujuan sang istri, maka yang menjadi korban eksploitasi tetaplah kaum perempuan itu sendiri. Seharusnya, yang dijaga dan dididik itu bukan kaum perempuanya saja. Lebih utama adalah merubah mindset kaum laki-laki agar tidak selalu berfikiran “pornoaksi”.

Manusia bisa kuat, karena adanya godaan dari para iblis. Lha, kalau digoda iblis saja tidak kuat, buat apa menjadi manusia?

Hak perempuan dibredel dan dibungkam.

Itu syariat apa syakarepmu dewe?

Salam Jemblem..







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.