Kalau Anies jantan, ia akan konsisten dengan janjinya: Menolak keras reklamasi Teluk Jakarta karena merusak lingkungan. Artinya, selain menghentikan reklamasi, Anies juga harus mencabut izin reklamasi pulau. Ia juga harus menyegel bangunan di atas pulau reklamasi yang dibangun tanpa IMB. Sesudahnya, Anies harus melakukan 2 langkah ekstrim dan spektakuler yang akan diingat dalam sejarah.

Pertama, dia harus membongkar 932 bangunan di Pulau D dengan mengabaikan sertifikat HGB yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Agraria.




Ke dua, seluruh pulau yang sudah jadi yakni Pulau C, D, N dan G dibongkar dan digali kembali menjadi laut. Nah, ini baru namanya pejantan, hebat, ngotot dan keras kepala ‘kopig’, setara dengan Duterte di Philipina.

Dengan alasan reklamasi telah merusak lingkungan seperti yang dikampanyekan saat Pilkada 2016, maka dengan menempati janji manisnya, Anies bisa menjadi pahlawan kesiangan. Caranya dengan menghancur-leburkan pulau reklamasi, menenggelamkannya, menghilangkannya dalam peta dan menguburnya untuk selama-lamanya. Dengan demikian lingkungan sudah tidak terganggu.

Lalu apa yang dilakukan Anies setelah menjadi gubernur? Ternyata ia tidak menghancurkan bangunan dan membongkar tanah reklamasi. Ia ternyata tidak jantan. Anies terlihat zig-zag, badut-badutan, plin-plan, mencle-mencle dan licik. Mengapa demikian? Perhatikanlah tindak-tanduk Anies soal reklamasi itu.

Anies hanya mampu meminjam nama nelayan Teluk Jakarta untuk menggugat penerbitan sertifikat HGB di PTUN. Anies sendiri tidak menggugat langsung penerbitan sertifikat HGB itu. Ketika nelayan kalah di tingkat pertama PTUN, Anies langsung diam tak berkutik.

Anies juga sudah mengumbar kehebatannya untuk mencabut izin 13 pulau dari 17 pulau reklamasi yang sudah berizin. Pencabutan 13 izin pulau reklamasi itu, ternyata hanya permainan surat-suratan doang. Alasannya ke-13 pulau itu belum direklamasi alias belum jadi. Tentu saja gampang mencabut izinnya dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Apa susahnya membatalkan, mencabut ijin dengan selembar surat plus tanda-tangan-stempel? Sangat gampang.




Anies juga sudah mengumbar kehebatannya, menyegel 932 bangunan di Pulau D, 7 Juni 2018 lalu. Lalu, apa susahnya memasang plakat segel dengan berselfi bahwa bangunan sudah disegel? Anies memang bisa menyegel bangunan apapun kalau belum ada IMB-nya. Banyak bangunan di Jakarta yang disegel karena tidak ada IMB-nya atau menyalahi aturan.

Saya sering melihat petugas Pemrov DKI Jakarta di era Ahok menghancurkan bangunan, rumah dan ruko yang menyalahi aturan dengan bulldozer. Tidak ada ampun. Namun, saya tidak melihat Anies punya nyali menghancurkan bangunan di pulau reklamasi yang berdiri tanpa IMB itu. Konon kabarnya, Anies sudah berencana untuk kembali membuka segel bangunan yang sudah pernah disegelnya itu.

Lalu, apa sebenarnya yang ada di otak Anies soal reklamasi itu? Jauh di hati terdalamnya, Anies sebetulnya setuju dengan reklamasi. Malah ia diam-diam menganggumi ide soal reklamasi itu. Belum lagi Anies tergiur potensi duit Rp. 158 triliun dari kontribusi tambahan dari penjualan property selama 10 tahun ke depan.

Anies jelas kagum, sekagum-kagumnya kepada Ahok yang pintar, cerdas dan jenius mencari duit untuk rakyat Jakarta dan khususnya untuk Pemprov DKI. Jika anggaran Pemrov DKI meningkat, maka anggaran operasional Anies juga meningkat.




Belum lagi orang-orangnya Anies diangkat sebagai pengelola, maka dipastikan seabrek keuntungan dari reklamasi itu. Saya yakin, Anies berencana menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode ke dua 2022 sebagai jalan menuju Pilpres 2024. Duit yang menjadi hak Aniespun dari anggaran akan semakin banyak. Kelak bisa menjadi modal untuk mencalonkan diri menjadi Presiden atau kalau tidak, menjadi pengusaha baru. Mantap.

Lalu, bagaimana cara Anies mengakali komitmen penolakannya soal reklamasi itu?

Pertama, Anies dalam kampanyenya menolak dulu reklamasi untuk kepentingan kampanye. Setelah menang menjadi gubernur, Anies memenuhi janjinya. Ia mencabut izin 13 pulau. Bangunan sebanyak 932 yang ada di Pulau D, disegel sambil berselfi. Dipamerkan kepada masyarakat bahwa izin 13 pulau sudah dicabut dan bangunan disegel. Janji sudah ditepati.

Ke dua, Anies akan diam-diam mencabut segel bangunan dengan alasan macam-macam. Itu adalah bagian taktik rahasia Anies. Pada bulan Oktober 2017 lalu, Anies dikabarkan telah bertemu dengan Prabowo bersama pengembang.

Tujuan pertemuan itu adalah mencari cara terbaik untuk menggarap pulau reklamasi alias menggarap kue lezat reklamasi bersama. Buah dari pertemuan itu adalah keluarnya Pergub Anies terkait pengelolaan pulau reklamasi yang sudah jadi.

Sebagai tindak lanjut dari Pergub Anies terdahulu, beberapa waktu lalu Anies mengeluarkan lagi Pergub baru soal siapa yang mengelola pulau reklamasi itu. Dalam Pergub baru itu, Anies menyerahkan pengelolaan pulau reklamasi yang sudah jadi itu kepada Jakpro, Jakarta Propertindo. Nah, direktur Jakpro ini bisa diangkat atau dipecat oleh Anies.




Agar terkesan ada keberpihakan kepada masyarakat, nama ketiga Pulau C, D dan G diganti. Pada tanggal 26 November 2018 lalu, Anies sudah mengeluarkan keputusan Gubernur untuk mengubah nama ketiga pulau itu.

Pulau C menjadi Pulau Kawasan Pantai ‘Kita’, D Pulau Kawasan Pantai ‘Maju’, dan G menjadi Pulau Kawasan Pantai ‘Bersama’. Jadi, singkatannya, menjadi Pulau Kita, Pulau Maju, dan Pulau Bersama. Mantap ada keberpihakan.

Ke tiga, Anies tidak akan takut digugat atau tidak akan digugat oleh pengembang reklamasi. Padahal sudah banyak biaya yang dikeluarkan oleh pengembang. Pun Anies berani menguasai pulau reklamasi yang legalitasnya belum ada. Raperda dari DPRD belum ada. Pertanyaan besar sampai kini adalah mengapa pengembang tidak menggugat Anies ke PTUN? Faktanya sampai kini pengembang tidak melakukan hal itu.

Besar kemungkinan ada pembicaraan bersama di belakang layar, sebagaimana pertemuan pada bulan Oktober 2017 itu. Jelas ada kong kali kong yang sama-sama enak di antara Anies dengan TGUPP-nya, pengembang, Sandiaga (Direktur Jakpro), DPRD DKI untuk berbagai bersama kue lezat reklamasi.

Dengan adanya permainan Anies di pulau reklamasi itu, maka lupakan penolakan reklamasi saat kampanye, lupakan kata merusak lingkungan. Tataplah kue lezat reklamasi bersama sun rise dan sun set di pantai reklamasi. Tataplah kue lezat pulau reklamasi, panggung menuju Pilpres 2024. Begitulah kura-kura.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.