Menonton video penghinaan Bahar kepada Jokowi seabrek pertanyaan muncul di benak saya. Pertama, mengapa orang ini begitu berani menghina seorang presiden di republik ini secara terang-terangan? Ke dua, mengapa polisi tidak menciduk orang ini secara langsung?

Ke tiga, ilmu apa yang sudah dipelajari orang ini sampai begitu sombong, angkuh dan keterlaluan dalam menghina Jokowi? Ke empat, siapa orang yang membela, yang mem-back-up orang ini? Ke lima apakah orang ini benar-benar sudah hilang etika-moralnya?




Menonton video viralnya, saya merasa ngeri. Saya bayangkan jika orang ini dibiarkan, dia bisa merusak NKRI. Dia bisa memprovokasi, mengadudomba, menyebarkan fitnah keji dan akhirnya menimbulkan konflik horizontal di antara sesama bangsa.

Lalu saya menunggu, menunggu dan menunggu berita soal penangkapan Bahar Smith ini. Kapan polisi menangkap orang ini? Apakah polisi takut? Apakah kekuatan polisi 450 ribu orang di republik ini, takut kepada Bahar? Ataukah ada oknum polisi yang setuju dengan dakwah hinanya?

Sampai siang ini [Rabu 28/11], akhirnya saya menemukan berita dari CNN Indonesia bahwa sekelompok orang yang menamakan diri ‘Jokowi Mania’ dan diketuai oleh Rahmat, melaporkan Habib Bahar bin Ali bin Smith ke Polda metro Jaya terkait dugaan penghinaan terhadap simbol negara.

Pelaporan Bahar oleh kelompok Jokowi Mania ini sedikit bisa mewakili kegelisahan saya. Betapa tidak, Bahar Smith itu sudah keterlaluan. Ia menyebut Jokowi banci. Sebuah penghinaan keji untuk ukuran seorang Presiden di Republik ini.

Dalam video yang sedang viral, Bahar melontarkan pernyataan soal Jokowi yang membuat dahi berkerut.




“Kamu kalau ketemu Jokowi, kalau ketemu Jokowi, kamu buka celanaya jangan-jangan haid. Jokowi itu, kayaknya banci itu,” ucap Habib Smith dalam video yang diunggah ke Youtube. Sebelum ucapan itu Bahar juga mencap Jokowi sebagai pengkhianat. Luar biasa berani.

Sebelum video penghinaannya viral, ada juga video lain yang agak lama dimana Bahar dalam dakwahnya menyindir-nyindir Jokowi dan Mahruf Amin. Bahkan dalam video itu bahar menantang aparat untuk menciduknya jika ia salah.

Pelaporan Habib Bahar membuat saya kini agak tenang. Sebelumnya saya begitu gelisah. Tulisan-tulisan teman saya di Seword dengan sangat tajam menyebutnya sebagai sosok yang biadab, setan. Itu adalah ungkapan ketersinggungan dan reaksi atas penghinaan kepada seorang presiden di muka umum.

Saya berbaik sangka saja kepada polisi. Polisi tentu punya SOP untuk menangkap seorang Bahar. Bisa saja banyak pertimbangan sebelum orang ini benar-benar ditangkap. Mungkin Pak polisi sedang menunggu masyarakat melapor. Nah dari laporan itu nantinya, polisi akan memanggil Bahar untuk ditanyai.

Kalau Bahar sudah dipanggil, ia perlu diajukan 30 pertanyaan dan diperiksa 10 jam. Mengapa ia begitu berani menghina Jokowi, mengapa ia melecehkan Jokowi, mengapa ia sangat membenci Jokowi, mengapa dan mengapa. Sesudahnya Bahar ini perlu ditahan saja agar tidak mengulangi perbuatannya.

Saya yakin, semakin lama orang ini dibiarkan, maka ia semakin merajalela melakukan penghinaan. Dan itu bisa menjadi alarm bagi polisi. Polisi akan dicap tidak berani menghentikan perbuatannya. Apalagi kalau seorang Bahar ini diikuti dan dicopy oleh Bahar-bahar lainya, maka ia bisa seperti virus yang menyebar.




Saya pernah mendengar isu bahwa Bahar ini ke mana-mana ia dikawal oleh beberapa orang yang berani mati membelanya. Pengawalnya siap menumpahkan darah. Dari isu itu, muncul dugaan saya. Bisa saja polisi hati-hati menangkap orang ini. Namun saya yakin, polisi tidak takut untuk menciduk orang ini biarpun katanya dikawal oleh sekian orang yang berani mati.

Dari jejak digitalnya, beberapa waktu lalu Bahar pernah diciduk polisi karena pernah mengajak pengikutnya untuk menyerbu sebuah café di Jakarta. Bersama beberapa orang pengikutnya Bahar ditangkap dan dijadikan tersangka. Apakah sesudah itu Bahar dibebaskan? Ia sempat dipenjarakah?

Sesudah penangkapan itu, berita mengenai Bahar tidak terdengar lagi. Malah yang terdengar adalah berita soal penolakan Bahar yang ingin kembali berdakwah di Manado. Sesudah itu ada video lainnya yang juga bersifat menghina Jokowi.

Jelas ketika Bahar tidak diciduk oleh aparat, ia semakin garang memprovokasi masyarakat dengan dakwah-dakwah berbau politik. Ia merasa di atas angin, merasa hebat, berilmu dan benar sendiri. Padahal jauh di dalam hatinya, ia juga manusia busuk yang ucapannya saja penuh dengan kata-kata hinaan.

Saya yakin, Bahar ini mau seperti Rizieq yang sudah tertahan di Arab. Ia mungkin bermimpi menjadi pengganti Rizieq, gurunya. Dulu juga Rizieq kalau berdakwah, sangat keras dan cenderung kasar. Menghina ke sana ke mari. Nah, mungkin hal itu ditiru oleh Bahar agar terkesan seperti Rizieq dan nantinya diangkat juga menjadi imam besar.

Tetapi, tunggu dulu. Bahar perlu mempertanggungjawabkan penghinaannya. Ia perlu dulu diberi pelajaran bagaimana seharusnya bertutur kata. Kita tunggu hasil laporan Rahmat dan kawan-kawan. Kita harap polisi segera menindaklanjutinya.







Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.