Guru saya, Kyai Enha, pengasuh pondok pesantren motivasi, pernah bercerita. Ia diundang berceramah mengisi tabligh di Jakarta Timur. Waktu itu musim kampanye Pilkada Jakarta. Temanya mengenai tahun baru Islam. Beberapa hari sebelum acara, ada panitia menghubunginya. Meminta kyai Enha bicara anti Ahok. Menjelaskan pada jamaah jangan memilih Ahok dalam Pilkada.

Jadi acara tabligh Akbar itu ingin diarahkan untuk mengalahkan kandidat tertentu.




Tentu ia menolak. Baginya ceramah agama adalah ceramah agama. Ia ingin menyebarkan kebaikan. Menasehati umat tentang akhlak. Bukan kampanye politik. Walhasil, namanya dicoret oleh panitia. Undangan batal. Padahal waktu itu poster dan namanya telah disebar ke jamaah.

Saya juga punya teman seorang da’i. Dalam obrolan pribadi ia sangat tidak setuju dengan Rizieq. Cara Rizieq berceramah yang penuh caci maki, menurutnya, jauh dari akhlak Nabi. Tapi ia tidak berani mengungkapkan pandangannya ke publik.

“Ane mesti hati-hati. Jika mereka tahu, nama ane bisa diblacklist,” ujarnya. Maksudnya gak akan diundang lagi mengisi acara pengajian.

Wajar dia khawatir. Profesinya adalah da’i. Ia mengandalkan keterampilan dan pengetahuan agamanya untuk menghidupi keluarganya. Sesungguhnya dalam dunia ceramah berlaku juga logika bisnis.

Ada penceramah, ada pengundang (pengurus masjid atau panitia acara) ada jamaah. Penceramah itu penyedia jasa, pengundang atau pengurus masjid adalah distributor dan jamaah adalah konsumen.

Antara penyedia jasa dan keinginan konsumen harus klop. Yang merumuskan keinginan konsumen adalah para distributor ini yang dianggap lebih memahami selera pasar. Sebagai penyedia jasa, ada da’i yang konsisten dengan gaya dan konten ceramahnya.




Tapi tidak sedikit yang terpaksa menyesuaikan diri dengan keinginan jamaah. Repotnya keinginan jamaah ini sering diwakili oleh distributor, yaitu pengurus masjid dan panitia acara. Pada akhirnya da’i harus tunduk pada pesanan panitia. Jika gak nurut, kemungkinan besar salah satu sumber nafkahnya bermasalah.

Repotnya, kalau pengurus masjid atau panitia punya kepentingan politik. Mereka menggunakan forum-forum keagamaan untuk melancarkan tujuannya. Penceramah hadir sebagai tukang stempel apa yang diinginkan panitia.

Itu yang dirasakan guru saya Kyai Enha kemarin.

Jadi wajar. kan, kalau strategi PKS dan HTI salah satunya menguasai masjid? Sebab pengurus masjidlah yang memegang urat nadi rezeki para da’i.

Atau ada penceramah yang berusaha ikut keinginan jamaah. Istilah kerennya market driven, produk mengikuti keinginan pasar Kira-kira mau mendengar omongan agama yang seperti apa?

Inilah yang repot.

Maka lahirlah da’i seperti Bahar bin Smith, yang ceramahnya mengulas soal vagina secara vulgar. Atau orang sejenis Sugi, yang di forum keagamaan teriak-teriak ‘Jancuk!’ atau ,’Ngen… (sensor)’.




Kenapa mereka berani ngomong sengaco itu di forum agama? Pertama, kemampuan mereka memang cuma itu. Isi kepalanya cuma vagina dan jancuk saja. Gak ada yang lain. Boro-boro ilmu agama.

Ke dua, itu menggambarkan jemaah yang datang ke acaranya memang hanya mau mendengar kisah soal macam-macam vagina dan berjancuk ria. Bukan mau mendengarkan nasihat mengenai akhlak dan perilaku indah Nabi.

Kalau kemudian mereka makin ngetop, karena memang ada pasar yang diisinya. Artinya ada kebutuhan sebagian jemaah ingin mendengar ulasan soal bentuk vagina yang diceritakan secara vulgar dalam forum keagamaan. Mereka ingin mendengar kisah erotis setingkat bokep hardcore dari mimbar agama, lalu berharap dapat pahala dari sana.

Jika para penceramah agama mulutnya makin kasar dan brutal, itu semata-mata merefleksikan makin tidak terbiasanya jemaah mereka bicara berlemah lembut. Sebab mereka harus memenuhi dahaga jemaah yang brutal dan kasar dengan omongan berderajat sama. Semua atas nama agama.

Jadi gak usah kaget jika ada akun fotonya berbendera hitam bertuliskan kalimat tauhid suka memfollow akun bokep. Komentarnya kasar. Dari akunnya seperti keluar ratusan kecoa comberan. Itu adalah hasil kajian agama dari dai-dai bermulut kotor dan tajam.

Beruntunglah jemaah yang masih menyukai ceramah dari ustad-ustad yang membawa rasa adem. Beruntunglah kita yang mengikuti para kyai yang tidak didikte pasar. Ia hadir untuk memberikan petunjuk dan arah. Ia adalah pewaris para Nabi, yang hadir untuk memperbaiki akhlak umat. Ia menyampaikan kebaikan dengan cara-cara yang baik.




Ia bicara dengan pengarahannya. Bahkan perilaku hidupnya bisa dijadikan tauladan.

Beruntunglah kita. Hingga kini masih bisa menikmati nasihat Gus Mus, meneladani perilaku Buya Syafii, atau mereguk kedalaman ilmu Prof. Quraish Shihab.

Sayangnya, kyai dan ustad yang adem seperti ini gak terlalu laku di kalangan perkotaan. Di masjid yang dikuasai PKS, HTI atau FPI mutiara seperti mereka malah sering dimusuhi.

“Mas, mau nanya, dong. Kalau ada perempuan mandi menggunakan sabun Biore Man, hukumnya gimana? Kan mereka bukan muhrim?” tanya Abu Kumkum.

Saya gak tahu, Abu Kumkum ini termasuk jemaah golongan yang mana, ya?







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.