Ada 2 pendakwah yang dianggap punya garis keturunan sampai ke Rasulullah yang mulia. Tapi perbedaan keduanya seperti langit dan empang. Kita mengenal Bahar bin Smith. Saya memang gak pernah menggunakan gelar habib untuknya. Bukan apa-apa. Habib bermakna cinta atau orang yang dicintai. Nah, Bahar bin Smith ini kelakuan sehari-harinya tidak menunjukan rasa cinta itu.

Ceramahnya selalu berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

Kata yang keluar dari mulutnya kotor seperti air got yang mampet. Thema ceramah yang dipilih jauh dari kesopanan. Bayangkan, Bahar bisa bicara dengan enteng soal bentuk-bentuk vagina perempuan.




“Kalau perempuan mulutnya kecil, vaginanya kecil. Kalau mulutnya besar, vaginanya juga besar,” katanya di hadapan jemaah.

Bagi Bahar, ia sedang ceramah agama. Bagi saya ia cuma meracau di mimbar agama.

Ada lagi yang lebih kurang ajar. Ia suka mencaci maki Jokowi dengan kata-kata kotor.

“Jokowi itu banci. Kalau ketemu buka saja celananya, mungkin dia sedang haid,” begitu ujarnya di hadapan pendengarnya.

Entah apa yang akan diajarkan Bahar. Agama seperti apa yang ingin diperkenalkan kepada umat.

Tapi, bagi Sandiaga Uno, Bahar Smith adalah ulama. Mungkin karena Bahar berceramah tentang vagina atau suka mencaci-maki. Bagi Fadli Zon atau orang-orang PKS, kekotoran mulut Bahar di panggung agama harus dimaklumi. Mungkin karena mereka terbiasa bergelimang dengan perkataan kotor. Makanya mereka beranggapan Bahar Smith mewakili akhlak Islami.




Atau Bahar adalah pentolan yang mengajak umat reuni 212. Entahlah. Mungkin di Monas orang seperti Bahar Smith bisa melampiaskan kegemarannya mencaci-maki, berkata kotor, menghina orang lain di atas panggung agama.

Semua orang tahu, reuni 212 hanyalah bentuk kampanye Prabowo Sandi yang dibungkus baju agama. Agama dijadikan tunggangan untuk kepentingan politik.

Untung saja umat Islam juga memiliki guru seperti Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Membina Majlis Al-Muwasholah Bain Al-Muskimin ini dikenal sebagai pembimbing agama yang telaten dan berfikiran jauh ke depan. Dalam ceramahnya, Habib Umar selalu menyampaikan dengan cara yang baik. Tutur katanya lembut. Butiran hikmah keluar dari perkataannya.

Jemaah yang mendengar perkataannya seperti masuk ke ruang AC, rasanya adem. Ia menjaga ajaran Rasulullah ini dengan perilaku. Sebab, jemaah tidak hanya mendengar apa yang dibicarakan, tetapi juga belajar dari sikap dan perilakunya.




Berbeda dengan Bahar yang mengajak jemaah reuni 212 di Monas melampiaskan agresifitasnya, Habib Umar menilai justru reuni itu tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Ia mengirimkan pernyataannya dalam bentuk release ke berbagai media. “Negeri ini saya harap selalu damai. Jaga persaudaraan. Nikmat persatuan ini harus dijaga. Stop dan cukup kedengkian,” ujarnya.

“Hendaknya tidak tergesa-gesa terhadap apa yang tanpak dari kejadian-kejadian yang dhahir saja. Tujuannya agar tidak terjerumus ke dalam kehancuran dan keburukan sebagaimana telah terjadi atas orang dan bangsa lain.”

Gerakan dan pemberontakan yang mengatasnamakan agama, lanjutnya, akan mengakibatkan kehancuran umat dan merusak persatuan umat dan kesatuannya.

Tentu saja umat Islam Indonesia bisa memilih. Mau mengikuti seruan Bahar bergabung dengwn reuni 212 di Monas. Atau mengikuti seruan Habib Umar bin Hafidz.




Apa yang diikuti menunjukan seperti apa sebetulnya diri kita.

“Kum, saya dengar kamu suka dengerin ceramahnya Bahar Smith, ya,” saya iseng menggoda Abu Kumkum.

“Ih, mas ini suka bikin isu, deh. Saya sih, ogah dengar ceramah yang isinya jorok begitu. Smith-smith jabang bayi, mas,” jawabnya.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.