Manusia yang belum sampai mengunyah tuntas apa yang ditulis oleh Stephen Hawking, atau apa yang sedang direncanakan oleh manusia-manusia seperti Ray Kurzweil, memang tidak akan beranjak ke mana-mana selain mempertentangkan Tuhan yang sudah dicap usang dalam kaca mata Ilmu Pengetahuan. Karena pada dasarnya mereka sudah sampai pada pemahaman tingkat lanjut; bahwa manusia bisa diangkat derajatnya menjadi apapun yang pernah dia bayangkan.

Mimpi atau lebih cocok kita sebut imaginasi ala Albert Einstein telah sukses mendorong peradaban manusia sampai bisa menembus bulan dan Mars.




Sementara manusia-manusia primitif masih konsisten memutari kebodohannya sejak ribuan tahun. Jika ditegur, maka yang terjadi adalah kekacauaan. Dari pada menghabiskan energi untuk menegur mereka, para ilmuan terus move on menabrak semua batas-batas dogma yang pernah diciptakan oleh manusia.

Mesin-mesin pencari terbaru sedang didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental soal elemen yang invisible dan berada di luar sense manusia.

Kalau saya pribadi berusaha menikmati pembusukan yang sedang terjadi dari dalam tubuh dogma itu sendiri, ingat! kita tidak bisa menghindar dari perubahan yang selalu hadir dengan kecepatan di atas kapasitas otak manusia rata-rata. Perhatikan saja bagaimana HP anda jauh lebih pintar dari anda dalam banyak hal. Misalkan mengitung 7 x 300 berapa? Kalkulator jauh lebih akurat dan cepat dibandingkan otak stagnan dalam iman.

Lalu, pelajaran yang bisa kita petik dari pertentangan serius ini, pertama, kamu berada di posisi mana? Di posisi yang siap terbang bersama Space X atau yang tetap bertahan di atas pohon sambil makan pisang tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya?

#Itusaja!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.