Pembantaian keji para pekerja jembatan di Papua menikam Jokowi dari belakang. Papua yang selama ini menjadi ikon pembangunan infrastruktur Jokowi, dirusak oleh kelompok bersenjata. Tak masuk akal, kelompok pekerja yang bersusah payah membangun negeri Papua, justru dibantai oleh para putera Papua sendiri.

Pembantaian pekerja di Papua kiranya bisa diambil benang merahnya dengan apa yang terjadi di Surabaya.

Pagi hari [Sabtu 1/12], mahasiswa Papua di Surabaya berdemonstrasi menuntut Papua Merdeka. Mereka menuntut agar rakyat Papua diberi kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri. Para mahasiswa itu juga membawa atribut Bintang Kejora saat melakukan aksi.




Beberapa jam setelah mahasiswa mulai berunjuk rasa, massa Kontra Aliansi Mahasiswa Papua mulai berdatangan untuk menggelar unjuk rasa tandingan. Orasi kemudian terdengar sahut-sahutan dan kedua kubu saling kecam.

Massa tandingan itu berjumlah 200 orang antara lain datang dari Forum Komunikasi Putra-Putri TNI/ Polri, Himpunan Putra-Putri Angkatan Darat, Pemuda Pancasila dan Komunitas Pencak Silat.

Bentrokan pun sempat terjadi. Dalam laporan Tempo.co [Sabtu 1/12], ada 16 orang yang cedera saat berunjuk rasa. Mereka menjadi korban pemukulan dan pelemparan batu dari anggota Ormas yang menentang mereka

Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebanyak 233 mahasiswa dan warga Papua ditangkap dan dibawa ke Mapolrestabes Surabaya. Di sana mereka diperiksa lebih lanjut terkait menuntut ‘Papua Merdeka’. Menurut polisi, pemindahan mahasiswa Papua ini bertujuan mengamankan karena ada laporan bahwa beberapa di antaranya mengganggu ketertiban umum.




Saat mahasiswa ditangkap, sekelompok massa mengepung asrama Papua, berteriak dan menginginkan mahasiswa Papua keluar dari asrama. “Ayo keluar, ayo keluar. NKRI harga mati, jangan injak-injak kami,” begitu teriakan massa.

Di saat bersamaan [Minggu 2/12], diberitakan oleh Tribunnews.com, 31 orang pekerja pembangunan jalan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, dibantai oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Mereka yang tewas adalah pekerja PT Istaka Karya, sebuah perusahaan BUMN.

Belakangan, jumlah yang tewas menurut kesaksian korban yang selamat berjumlah 19 orang ditambah 1 orang anggota TNI. Berdasarkan kesaksian korban yang selamat, Jimmy Aritonang, kejadian terjadi pada Sabtu [1/12] atau bersamaan ketika adanya bentrokan mahasiswa Papua dengan Ormas pembela NKRI di Surabaya.

Menurut Jimmy, mereka dijemput dari kamp, tangan diikat dan dibawa ke tempat pembantaian tidak jauh dari lokasi kerja. Di sana mereka disandera 1 malam lalu dieksekusi dengan tembakan pada keesokan paginya [Minggu 2/12].

Pembantaian 31 atau data sementara 19 orang pekerja oleh KKB itu membuat publik terkejut. Mengapa tiba-tiba KKB beringas dan membantai para pekerja yang membangun daerahnya sendiri? Ada beberapa kemungkinan alasannya.




Pertama, menurut informasi yang beredar, pembantaian itu dikarenakan oleh salah seorang pekerja Istaka Karya memotret aksi KKB yang sedang membakar batu. Versi lain mengatakan, salah seorang pekerja memotret aksi KKB yang sedang melakukan upacara bendera.

Jika alasan ini hanya soal potret-memotret, sangat tidak masuk akal. Kalau memang karena dipotret, kaum KKB itu bisa menyita langsung kamera atau HP yang digunakan para pekerja untuk memotret. Lalu mereka memberikan peringatan keras agar para pekerja tidak macam-macam.

Ke dua, karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Papua yang diklaim 1 Desember, kelompok KKB ingin menunjukkan perlawanan. Mereka ingin menunjukkan kepada publik dan dunia, bahwa mereka masih eksis dan terus menunjukkan perlawanan keras kepada Indonesia. Apalagi dari pengalaman mereka, saat ada aksi 1 Desember, banyak teman-teman seperjuangan mereka ditangkap.

BBC News [Sabtu 1/12] melaporkan sebanyak 595 telah ditangkap di berbagai tempat di Indonesia seiring dengan berlangsungnya peringatan 1 Desember. Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP mengklaim hampir 600 orang peserta aksi 1 Desember ditangkap di Jayapura, Kupang, Ternate, Ambon, Manado dan Makassar.

Ke tiga, sangat mungkin penyebabnya berkaitan dengan dengan aksi unjuk rasa mahasiswa Papua yang bentrok dengan Ormas di Surabaya pada hari Sabtu, 1 Desember. Para personel KKB kemungkinan telah mendapat informasi bahwa teman mereka mengalami luka-luka di Surabaya. Dan mereka ingin membalas dendam. Sasarannya kemudian para pekerja yang tidak mendapat perlindungan dari aparat.

Ke empat, ada kelompok yang sengaja memprovokasi perayaan Hari Kemerdekaan Papua 1 Desember versi KKB. Ada kelompok-kelompok tertentu di Tanah Air, pun dari luar negeri yang ingin merusak reputasi Jokowi di Papua. Papua yang menjadi ikon prestasi kerja Jokowi dicoba dirusak dan dihancurkan.




Jelas bahwa pembantaian 31 pekerja, data yang sudah diverifikasi 20 orang, bukan jumlah yang sedikit. Aksi pembantaian dengan jumlah korban sebanyak itu, baru kali ini terjadi menimpa masyarakat sipil yang berasal dari luar Papua.

Tentu saja kejadian itu dimanfaatkan oleh lawan-lawan Jokowi untuk kepentingan Pilpres. Mereka ikut mengail di air keruh dan ikut-ikutan menikam Jokowi dengan 2 kesimpulan.

Pertama, bahwa pembangunan innfrastruktur yang selama ini digembar-gemborkan Jokowi telah berhasil membujuk kaum separatis turun gunung dan mendukung Jokowi, ternyata tidak benar.

Ke dua, sistem keamanan di era Jokowi gagal memberikan perlindungan kepada para pekerja. Jokowi tidak mampu dan lemah memberantas kaum separatis. Pembantaian 31 orang di Papua itu adalah bukti lemahnya sistem perlindungan Jokowi kepada warganya.

Mengomentari pembantaian di Papua, Fadli Zon misalnya bukannya mengutuk tindakan keji itu, tetapi ia justru menyalahkan Jokowi. Menurut Fadli Zon terjadinya pembantaian itu karena pemerintah Jokowi telah gagal menjaga keamanan Papua dari gerakan separatis.

Fadli pun bersukacita dan bersukaria atas pembantaian itu. Ke depan ia mungkin berkampanye hanya Prabowo yang bisa mengatasi kaum separatis Papua.




Pernyataan Prabowo bahwa ia maklum jika Australia memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem membuat saya curiga. Apakah pernyataan itu sebagai kode khusus Prabowo kepada Australia untuk bermain di Papua?

Selama ini kita tahu bahwa Australia termasuk negara yang ikut secara sembunyi-sembunyi mendukung kemerdekaan Papua.

Adakah skenario dari sosok genderuwo di Tanah Air bekerja sama dengan negara lain untuk menikam Jokowi dan menggagalkan impiannya soal jalan trans Papua? Waktu dan kesigapan aparat akan menjawabnya.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.