Membaca kesaksian seorang pekerja yang selamat dari eksekusi massal yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) membuat saya heran, sedih sekaligus geram. 31 pekerja proyek jalan trans-Papua dikumpulkan, disekap selama satu hati, lalu dikumpulkan di sebuah bukit. Disanalah mereka dieksekusi mati berjamaah.Pola eksekusi mati seperti ini mirip dengan yang biasa dilakukan jihadis ISIS di Irak dan Suriah.

Mereka ingin menyampaikan pesan “kesadisan, kebrutalan dan kengerian” kepada publik, meski belum ada video atau foto yang beredar.

Eksekusi ini pasti telah direncanakan secara matang. Kalau kejadian ini spontan dilakukan, untuk apa harus ada penyekapan, dan pemilihan tempat tertentu untuk eksekusi.




Memang, ada saja kabar penyerangan dari kelompok bersenjata di Papua. Yang sekarang terjadi adalah yang paling besar, paling terorganisir, dan memiliki pesan “teror” yang kuat.

Saya tidak tahu kepada siapa pesan ini ditujukan. Yang jelas, ada anomali disini. Di saat pemerintah sedang membangun Papua, memberikan keadilan di Papua, tiba-tiba ada pihak-pihak yang tidak suka dengan dibangunnya Papua.

Sebelum era Presiden Jokowi, Papua dipandang sebelah mata. Kekayaan alam Papua dikuras tanpa ada kompensasi yang sebanding untuk warga Papua.

Tak ada yang murah di Papua, kecuali “sirih-pinang”. Jangan tanya berapa harga BBM disana. Jangan tanya juga harga semen. Seorang teman yang bertugas disana mengatakan, lebih baik bangun rumah pakai kayu.

Papua dilirik hanya ketika menjelang Pilpres. Selebihnya, Papua tak lebih dari “lonte”, terus ingin menikmatinya, tapi tak mau dinikahin. Nasib, Papua terus merana.

Sampailah saat keberpihakan datang melalui Presiden Jokowi. Sudah tak terhitung ia mengunjungi Papua. Membuka akses jalan yang biasanya hanya dapat ditempuh lewat udara. Memastikan harga BBM sama dengan di Jawa. Dan, merebut kembali Freeport. Kekayaan Papua yang tidak bisa dinikmati oleh rakyat Papua.

Memang tak banyak yang telah Presiden Jokowi lakukan untuk Papua. Wajar jika banyak pihak menantang Presiden, “Apa yang sudah Jokowi lakukan untuk Papua? Bangun jalan? Beli Freeport? Apa rakyat Papua sudah sejahtera? Apa keadilan sudah benar-benar ditegakkan? Apa kualitas kesehatan sudah membaik?”

Apa yang dilakukan Presiden Jokowi untuk Papua memang masih sedikit. Tapi jika dibandingkan dengan Presiden lain yang telah menjabat selama 10 tahun, atau yang 30 tahun lebih, tak sepadan dengan apa yang telah Presiden Jokowi lakukan selama 4 tahun.

Jokowi tetap manusia biasa seperti kita. Ia tidak memiliki armada jin yang mampu membangun Prambanan dalam waktu sehari.

Ia juga butuh waktu untuk membangun negeri ini. Ada 17ribu pulau. 34 provinsi, 416 kabupaten, belum lagi tak terhitung desa-desanya.

Dan sekali lagi. Memang tak banyak yang ia bangun. Tapi semuanya telah melampaui pendahulu-pendahulunya.

Makanya, saya katakan kasus eksekusi brutal ini merupakan anomali atas keberpihakan pemerintah dimana sebelumnya tidak ada keberpihakan serupa sebelumnya.

Ada apa ini?

Penyerangan memang kerap terjadi. Tapi penyerangan dengan pesan yang kuat seperti ini baru terjadi sekarang.




Apa ada pihak-pihak yang tak senang Papua dibangun? Apa ada pihak-pihak yang tidak senang kepemilikan asing semakin dibatasi di Papua? Atau, ada pihak-pihak yang tak senang dengan Presiden kita?

Dan mereka-mereka yang tidak senang bersatu untuk melawan? Anomali ini semakin menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

“Biarkan saja Papua merdeka”, kata seorang aktivis. Menurut saya masalahnya tak sesederhana ini.

Kiayi saya pernah melakukannya lawatan ke Papua Nugini. Bandara internasionalnya masih lebih baik di Jayapura (yang dulu, sekarang jauh lebih baik). Saat tiba di bandara, beberapa murid beliau langsung mengawal.

Kriminalitas sangat tinggi disana. Apalagi terhadap orang luar.

Beliau mengadakan safari da’wah ke sebuah pedalaman yang banyak umat Islamnya. Beberapa muslim lokal mengawal beliau dengan menggunakan mobil melewati hutan belantara dengan kondisi jalan rusak parah.

Lalu, bagaimana setelah Timor Leste merdeka? Tidak banyak yang berubah disana. Padahal, tetangga warga pulau Timor sudah membangun beberapa bendungan besar yang menjawab semua masalah ekonomi disana.




Tak terbayang jika Papua juga lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Keterlibatan asing dengan mereka baru sebatas “ngontrak” saja tidak ada perubahan yang signifikan untuk Papua.

Sepertinya, ada pihak-pihak yang memancing di air dalam. Umpannya sungguh menawan. Banyak ikan tergoda untuk mengunyahnya.

Lihatlah Afganistan, Irak, juga Libya. Dan Suriah masih terus bertahan.

Bisa jadi Indonesia adalah yang selanjutnya. Tak bisa dipancing dengan demo berjilid dan reuni hampa liputan. Tak menutup kemungkinan, mereka pakai jalur “gerakan separatisme di Papua”.

Papua adalah saudara kita. Ia berhak mendapatkan keadilan yang sama dengan kita yang di Jawa.

Semua butuh waktu. Yang penting, kita telah melangkah ke arah sana.

Kita perlu bersabar. Sebab, “fasobrun jamiil”, sabar itu indah. Jangan sampai, layaknya Musa yang tak sabar dengan Khidir, sehingga Musa terus berprasangka buruk, kita pun terperosok dalam jurang yang sama.







1 COMMENT

  1. “Apa ada pihak-pihak yang tak senang Papua dibangun? Apa ada pihak-pihak yang tidak senang kepemilikan asing semakin dibatasi di Papua? Atau, ada pihak-pihak yang tak senang dengan Presiden kita?”

    Wow, ini dia sejumlah pertanyaan kunci!

    Siapakah pihak-pihak yang tidak senang itu?

    Jawabannya bukan lagi rahasia atau masih gelap. Tetapi masih banyak yang belum tahu atau belum mengerti, masih butuh banyak penjelasan dan PENCERAHAN keseluruh negara dunia yang masih terkena pengaruh brain washing dan mind control yang sudah ratusan tahun itu.

    Jawabannya ada dalam KONTRADIKSI UTAMA DUNIA sekarang ini. Kelompok NWO yang mau menguasai dan menyerakahi negara-negara lain terutama yang kaya SDA. ” They’ve used their secret fraternity to retain their global power into the fewest hands. And their lust for Third World exploitation, theft and violence is so insatiable that any foreign national leader who actually attempts to practice democratic principles directly benefiting and uplifting their native population is simply not tolerated and through the globalists’ secret private army the CIA that answers to no one in government, that leader is quickly assassinated and/or overthrown.”
    lihat “Divide and Conquer: The Globalist Pathway to New World Order …”

    Persoalan rakyat-rakyat dunia sekarang ialah soal PENCERAHAN tentang Kontradiksi Utama ini, supaya secepat mungkin rakyat-rakyat dunia memahami betul kontradiksi penyebab semua huru-hara maupun perang di dunia. Kalau mayoritas penduduk dunia sudah memahami soal ini, dunia akan berubah jadi baru sama sekali. Artinya kemenangan dipihak rakyat agaknya memang tidak terelakkan, karena pembelajaran dan pencerahan soal ini sudah tidak bisa ditutupi lagi dengan adanya internet dimana aliran informasi dan pengetahuan dari semua dan untuk semua (termasuk ahli-ahli dunia) tidak bisa lagi ditutupi.

    Selama ratusan tahun informasi dan pengetahuan ini tidak ada yang tahu, itulah juga akibat mind control dan brain washing menina bobokkan publik dunia. Dan media ‘pencerahan’ yang ada selama ini hanyalah MSM milik neolib/NWO itu sendiri, atau didominasi oleh mereka, sehingga bisa memutar balik persoalan, mengaburkan, menutupi yang penting dsb sehingga sampai abad 21 baru sedikit yang memahami persoalan utama itu.

    Banyak juga sekarang ini yang belum yakin sepenuhnya bahwa kemenangan akan berada dipihak rakyat atau nation-nation dunia, dan membayangkan total kemenangan bagi NWO, karena melihat kekuatan dan pengaruh NWO ini memang masih sangat kuat terutama kekuatan finans dan ekonominya (ingat Fed bank). Contoh kekuatan dan pengaruhnya masih banyak, di Papua barusan saja (1/12-2018) dimana 31 pekerja pembangunan jembatan diciduk oleh KKB dan dibunuh. Bersamaan dengan itu juga gerakan serentak mahasiswa Papua seluruh negeri. Ingat di Papua berkuasa Freeport milik neolib/NWO. Dan secara hukum menurut prof Mahfud (keterangannya di ILC) Freeport tidak bisa kembali ke tangan RI akibat penandatanganan dokumen perjanjian oleh biang skandal Ginanjar Kartasasmita menteri Soeharto ketika itu. Selain itu juga banyak gerakan dan langkah-langkah lainnya dari NWO ini, seperti gerakan HTI, 411, 212, ratusan ribu akun Saracen, MCA, ISIS, Libya Kadaffi, perang Yeman dll.

    Kalau NWO menang dalam pertarungan terakhir ini, menang dalam pertarungannya dengan semua nation-nation dunia, memang nasib kemanusiaan sudah selesai. Perbudakan dan penindasan kejam untuk selama-lamanya, TYRANI NWO menguasai kemanusiaan. Tidak ada jalan kembali bagi kemanusiaan.

    Dan kembali diingatkan bahwa kemenangan NWO ini dari dulu sampai sekarang jelas bukan hanya karena duit dan sejatanya sangat kuat, tetapi yang utama ialah IGNORANCE dari rakyat dan nation-nation dunia. Ketidakpengetahuan ini . . . disitulah kunci kemenangan NWO dan kuncI kekalahan nation-nation dunia selama ini. Dan ignorance atau ketidak-pengetahuan ini bukan karena publik malas belajar, tetapi karena di nina bobokkan atau di bodohi atau di brain washing dan di mind control pakai media dominant MSM milik NWO itu sendiri, dengan entertainment industry, Hollywood, 24/7 sports dsb. Cobalah lihat dokumen-dokumen soal NWO yang sekarang bisa dibaca tetapi tidak ada sama sekali terlihat di era sebelum internet bahkan akhir abad lalu dan pada permulaan abad 21 masih banyak belum terlihat. Sekarang agaknya tidak bisa dibendung lagi, buku-buku dan dokumen-dokumen penelanjangan dan pencerahan soal kegelapan NWO oleh semua ahli dunia dari berbagai lapangan ilmu, hampir semua sudah bisa dibaca di internet. Tinggal baca!
    Dan kunci kemenangan rakyt itu disitu. Menghilangkan Ketidakpengetahuan itu! Menghilangkan IGNORANCE!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.