“Ia yang sebelumnya nasionalis tulen kini telah berubah dan menjadi penebeng kaum ekstrimis kanan,” tulis Asaaro Lahagu di kolomnya barusan tentang kemarahan Prabowo kepada Jokowi (Lihat di SINI).

 

Betul adanya pernyataan ini. Dia jadi penebeng kaum radikal dengan harapan bisa dapat dukungan lebih besar dalam pilpres 2019. Dengan cita-cita besar ini tentu apapun bisa dikorbankan, termasuk nasionalismenya. Gerakan 212 adalah gerakan makar pada mulanya, tak lebih dari situ. Tetapi, gerakan itu gagal.

Subuh Dini Hari tanggal itu, pentolan-pentolannya sudah diciduk lebih dahulu oleh Kapolri Tito, termasuk Rachmawati Soekarno putri ikut diciduk.




Kalau sekarang gerakan itu diulang-ulangi lagi, apalagi dengan pemebohongan jumlah pesertanya yang sangat berlebihan, tanpa data akurat, jadinya seperti gerakan lelucon yang tidak lucu. Siapa yang mau meliput? Itu satu seginya.

Segi lain dari segi kebenaran dan keadilan itu. Media utama juga bisa melihat sendiri siapa yang benar dan adil dalam memperjuangkan kepentingan bangsa ini. Siapa yang mau memihak gerombolan yang merugikan dan memecah belah, bikin makar, dsb.

Siapa gerombolan yang memecah belah bangsa ini?

“And their lust for Third World exploitation, theft and violence is so insatiable that any foreign national leader who actually attempts to practice democratic principles directly benefiting and uplifting their native population is simply not tolerated and through the globalists’ secret private army the CIA that answers to no one in government, that leader is quickly assassinated and/or overthrown,” Joachim Hagopian (Lihat di SINI).




Itulah hakekat gerakan 411, 212, dan juga yang terjadi belakangan pembunuhan atas belasan pekerja jembatan di Papua kemarin itu.

Jokowi, karena mau mensejahterakan rakyatnya, is simply NOT tolerated oleh neolib NWO.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.