Kolom Muhammad Nurdin: MENGEMBALIKAN TIRANI ORDE BARU

1
607

Prabowo-Sandi, katanya, akan bawa Indonesia seperti Zaman Soeharto. Gak masalah sih mau dibawa ke mana pun negeri ini, tapi mari kita lihat lebih dekat seperti apa Orde Baru itu. Saya ingin menceritakan satu kisah memilukan. Gak setiap kita bisa tahan.

Tapi, orang-orang Tapos dipaksa untuk bertahan menghadapi kehendak rezim Orde Baru.

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1970-an. Saat Soeharto menginginkan sebuah tempat untuk istirahat yang tak jauh dari Jakarta. Di cari-cari, dapatlah di daerah Tapos dan Ciomas. Ada lahan seluas 751 hektar.

Apakah itu lahan kosong? Tidak. Lahan itu adalah lahan perkebunan warga. Tanahnya subur. Tumbuh di sana sayur-sayuran, palawija dan buah-buahan. Lahan seluas itu, yang dihuni oleh 5 desa, akan didirikan sebuah peternakan sapi oleh Soeharto. Warga tak bisa berbuat banyak.

Saat peternakan dibangun tanpa persetujuan warga, orang-orang berkuda dan berseragam “titik-titik” berjaga dan menginjak-injak lahan perkebunan mereka. Warga melawan. Tapi tak mengubah apapun.

Sekitar tahun 1980-an, banyak terjadi penembakan misterius. Dalihnya adalah untuk menegakkan marwah pemerintah.

Seorang warga Tapos, Muhammad Hasanuddin, saat itu ia masih kecil. Ia ingat betul kebun ayahnya seluas 2 hektar diambil paksa. Bahkan tanpa penggantian yang sepadan. Tak bisa melakukan apalagi di kampung, ayahnya memilih untuk mengayuh becak di Ibukota. Mimpi untuk pergi haji, menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya, seolah runtuh seketika.

Warga Tapos akhirnya memilih hijrah ke Jakarta. Menjadi preman pasar, tukang ojek, tukang becak, pemulung, bahkan pengangguran, adalah serangkaian pekerjaan yang bisa mereka kerjakan.

Pada tahun 1996, sebuah perusahaan milik Tommy Soeharto merampas 650 hektar tanah warga desa di Bali untuk mendirikan resort. Menurut Sonny Qodri, ketua LBH Bali pada saat itu, mereka yang tidak mau menandatangani perjanjian menjual tanah telah mendapat intimidasi dari militer. Mereka dipukuli atau direndam dalam air setinggi leher.

Kata Hasan Basri Durin, Menteri Agraria pada saat itu, Soeharto hanya membayar 6% tanah-tanah yang dibelinya dari harga pasar. Mereka yang menolak untuk menjual tanahnya akan berubah pikiran saat rumahnya didatangi tentara. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan penggantian sepeserpun.

Ini baru soal tanah, soal konflik agraria yang terjadi di Zaman Orde Baru. Belum lagi soal kebebasan pers, HAM, juga korupsi yang telah menggurita.

Sehingga, amat mengherankan jika orang-orang kini merindukan kejayaan Orde Baru. Apa yang hebat dari Orde Baru? 33 tahun rezim ini berkuasa, apa saja prestasinya?Belum berkuasa saja Prabowo sudah mengancam pers. Padahal, perjuangan untuk kebebasan pers harus dilalui dengan darah dan air mata.

Bagaimana jika orang-orang ini berkuasa, dan akan mengembalikan tirani Orde Baru di atas Bumi Nusantara ini?

Advertisements

1 COMMENT

  1. Dalam soal HAM selain itu paling menyebalkan dan mengerikan ialah bantai 3 juta anak bangsa sendiri (keterangan Sarwo Edie di Wikipedia). Ini bukan soal HAM biasa tentunya. Soal pelanggaran HAM lainnya tidak ada yang sebanding dengan yang satu ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.