Kolom Asaaro Lahagu: ANALISA PRABOWO RAYAKAN NATAL (Dan Tiarapnya Ulama Garis Keras)

0
1091

Video viral Prabowo merayakan Natal membuat geger. Dalam video itu, Prabowo berjoget di tengah keluarga besarnya yang sedang merayakan Natal. Tampaknya Prabowo dalam perayaan itu sangat menikmati perayaan Natal. Penampilannya sangat alami, bersukacita dan bergembira.

Hal berbeda jika Prabowo melakukan sholat.

Wajahnya terlihat kaku, kurang menikmati dan gerak-geriknya terkesan dipaksakan. Tak heran jika dalam mengucapkan salam dalam agama Islam, Prabowo gagap.

Jika ditelusuri ke belakang, memang Prabowo lahir dari keluarga Kristen. Ayahnya, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo menikah dengan Dora Marie Sigar Sumitro Djojohadikusumo, perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 21 September 1921 yang dikenal sebagai penganut Kristen yang taat.

Dora Marie pertama kali bertemu Sumitro Djojohadikusumo tahun 1945 di sebuah acara mahasiswa Kristen Indonesia di Rotterdam, Belanda. Saat itu, ia belajar di sekolah ilmu keperawatan bedah di kota Utrecht, Belanda.

Keduanya menikah pada 7 Januari 1946 di Jerman dengan pemberkatan dari pendeta-pendeta di Gereja Jerman. Selama hidupnya, Dora Marie dan Sumitro menjadi penganut agama Kristen yang taat dan rajin ke gereja.

Dari pernikahannya, Dora dan Sumitro mempunyai 4 anak; 2 perempuan, 2 laki-laki. Dua perempuan yaitu Bianti Djiwandono dan Mariani le Maistre dan Laki-laki; Prabowo Subianto dan Hashim S. Djojohadikusumo. Prabowo sendiri lahir pada tanggal 17 Oktober 1951.

Ada darah Tionghoa yang mengalir ke tubuh Prabowo. Ayahnya bernama asli Soo Ming Tauw (Kanton) atau Soo Minh Doo (Hokian). Semua saudara Prabowo beragama Kristen. Kakak Prabowo sendiri, Bianti Djiwandono, istri mantan Gubernur Bank Indonesia, beragama Kristen Katolik.

Prabowo lahir seerta dewasa dalam lingkungan dan bimbingan keluarga yang beragama Kristen. Prabowo baru memeluk Islam ketika menikah dengan Titiek Soeharto pada Mei 1983. Agar bisa diterima keluarga Soeharto yang beragama Islam, Prabowo terpaksa mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari pernikahannya lahirlah Didiet Prabowo. Agama Didiet pun hingga kini tidak jelas. Didiet menghabiskan sebagian masa sekolahnya di Boston, AS. Perkawinan Prabowo dan Titiek berakhir perceraian. Namun tidak diketahui secara persis kapan pasangan ini berpisah. Kemungkinan Prabowo berpisah dengan Titiek pasca tragedi 1998 atau semenjak Soeharto lengser.

Jejak di atas bukan fitnah tetapi fakta. Jika Prabowo sangat menikmati acara Natal karena memang dia tumbuh besar dalam lingkungan agama Kristen. Jika kemudian dia kadang gagap saat mengucapkan salam dalam agama Islam, harus dimaklumi. Apalagi jika diminta memimpin sholat, jelas dia kaku, atau bahasa kasarnya, tidak bisa.

Prabowo sendiri mengaku bahwa pemahaman agama Islamnya kurang bagus. Saat dia menghadiri Ijtima Ulama Juli lalu, Prabowo merasa grogi bertemu dengan para ulama.

“Saya agak grogi hari ini karena jarang saya bicara dengan ulama, biasanya saya bicara (sebagai) TNI purnawirawan, agak grogi juga. Karena memang saya akui, saya tidak berasal dari pesantren, mungkin agama Islam saya kurang bagus,” ujar Prabowo saat menghadiri ijtima ulama di Hotel Peninsula, Jakarta Barat 27 Juli 2018 (Kumparan.com).

Pertanyaan besarnya adalah, apakah pendukung dirinya dari kalangan Islam fanatik, Islam garis keras, tidak tahu jejak Prabowo yang berdarah Tionghoa dan berlatar belakang Kristen? Saya yakin mereka tahu betul jejak Prabowo.

Lalu mengapa mereka mendukung habis-habisan Prabowo?

Seandainya Prabowopun kafir, ulama-ulama puritan, ulama garis keraspun tetap mendukungnya. Ulama-ulama garis keras ini mendukung Prabowo bukan karena Prabowo ulama, Muslim kaffah, bisa memimpin sholat, bisa membaca Al-quran, melainkan ekspresi “kemarahan” terhadap Jokowi.

Jika pun dikampanyekan bahwa Prabowo tidak bisa memimpin Sholat, ikut-ikutan menghadiri acara Natal keluarga, ulama garis keraspun tetap mendukungnya. Terbukti saat Prabowo salah mengucapkan salam dalam agama Islam, ulama garis geras diam. Tak ada komentar apapun. Pun ketika Prabowo ikut merayakan Natal dan bahkan berjoget ria, ulama garis keraspun diam, tiarap.

Pertanyaan berikutnya, mengapa ulama garis keras sangat menentang Jokowi yang terang-terang pribumi, bukan keturunan Tionghoa, Islam tulen dan bisa memimpin Sholat? Ada 3 jawabannya.

Pertama, mereka sangat membenci Jokowi karena cemburu total. PKS-PAN adalah partai yang tidak pernah besar. Dan kebanyakan ulama garis keras bernaung secara diam-diam ke dalam kedua partai ini. Para elit PKS-PAN memang sangat cemburu kepada Jokowi terutama Amin Rais dan Hidayat Nurwahid.

Gara-gara Jokowi suara PDIP pada Pemilu 2014 lalu menjadi besar (18,95%). Sementara suara PKS-PAN melorot dan tidak pernah memenangi Pemilu. Pada pemilu 2014, suara PKS hanya 6,79% dan PAN 7,59%. Padahal, ketokohan Amin Rais yang mengklaim dirinya Bapak Reformasi, ikut melengserkan Soeharto dan Gusdur serta, bahkan, mengangkat Megawati lewat MPR sudah merupakan jaminan.

Pada pemilu 2014 itu, Jokowi menjadi icon PDIP. Dan pada pemilu 2019 lagi-lagi Jokowi menjadi ikon PDIP. Dari berbagai survei elektabilitas PDIP naik hingga mencapai 30%. Sementara PKS-PAN terancam tak lolos ambang batas di DPR atau bahasa kasarnya terancam menjadi partai dinosaurus.

Nah, pencapaian besar PDIP ini yang berpotensi menang lagi, membuat PKS-PAN sangat cemburu. Untuk mencegah PDIP menang, maka ikonnya harus dihabisi. Karena Jokowi ikon PDIP, maka dia harus dihabisi.

Ke dua, di tingkat Pilpres, PDIP-PKS tidak mungkin berkoalisi karena perbedaan platform. Memang di tingkat Pilkada, kedua partai ini bisa berkoalisi karena hitung-hitungan peluang menang. Namun di tingkat Pilpres, hal itu sulit terjadi.

Ketika PKS berada di pihak berlawanan dengan PDIP, biasanya isu-isu fitnah sangat gencar terjadi. Namun di tingkat daerah seperti Pilkada di Solo sebelumnya, fitnah terhadap Jokowi sangat minim. Kini PKS berlawanan dengan PDIP dimana Jokowi sendiri menjadi ikonnya. Maka fitnah pun bertebaran di sana-sini.

Ulama-ulama garis keras yang terafilisasi dengan PKS semakin membenci Jokowi karena tidak mengakomodir HTI. Sejak berkampanye Pilpres 2014 lalu, Jokowi tidak menggaet dan bersimpati kepada HTI. Malah di eranya Jokowi membubarkan HTI tanpa ampun. Padahal strategi untuk mengkhilafahkan Indonesia sudah dirancang 20 tahun lalu lewat HTI. Namun di era Jokowi HTI tamat.

Pembubaran HTI jelas membuat ulama garis geras marah. Mereka terus menyerang Jokowi yang mengusik mereka. Lebih celakannya lagi, ketika mereka kelewat bersuara keras agar didengar, diperhatikan, justru mereka dicokok oleh aparat karena melanggar undang-undang.

Ke tiga, mereka mendukung Prabowo karena tidak ada pilihan. Seandainya ada Capres lain yang memenuhi syarat ketentuan undang-undang pencapresan KPU, pasti ulama garis keras lebih memilih calon yang benar-benar Islami. Karena tidak ada pilihan maka hanya Prabowo satu-satunya yang menjadi harapan mereka.

Apalagi Prabowo mau mendengar dan membuka diri terhadap maunya ulama-ulama garis keras. Terbukti Prabowo sudah menandatangani kontrak politik dengan GNPF Ulama yang menurut lawan bisa menjadi pintu masuk kelompok puritan ke Istana dan mempengaruhi kebijakan Prabowo andai kelak terrpilih menjadi presiden.

Lalu, mengapa Prabowo mendekati ulama garis keras berada di kubunya? Jika Prabowo hanya mengandalkan suara Islam modernis, Prabowo sulit mengalahkan petahana Joko Widodo-Maruf Amin yang didukung kelompok nasionalis dan Islam tradisonal.

Raihan partai-partai berbasis Islam modernis seperti PAN, PKS dan PBB di Pemilu 2014, dapat menjadi rujukan di mana suara Islam modernis belum terlalu signifikan. Maka Prabowo pun mencari suara dari Islam garis keras. Diharapkan dengan suara Islam modernis plus suara Islam garis keras, bisa menambah suara Prabowo berhadapan dengan Islam tradisional.

Apakah video viral itu sengaja diunggah oleh keluarga Prabowo untuk menutupi label Prabowo yang selama ini sebagai pendukung khilafah? Sangat mungkin. Dalam berbagai kesempatan, Prabowo membantah dia pendukung khilafah. Dia adalah seorang pendukung Pancasila.

Tentu saja Prabowo tidak rela jika suara dari kalangan non-Muslim hilang dan beralih total kepada Jokowi. Jalan satu-satunya adalah Prabowo memberikan bukti secara nyata dan gamblang jika stereotip Prabowo pendukung khilafah hanya black campaign. Buktinya ia menghadiri acara Natal dengan ikut bergoyang.

Ada kemungkinan bahwa unggahan video joget Natal Prabowo disengaja. Artinya ,Prabowo menunjukkan kepada kaum Kristiani bahwa dia masih ikut merayakan Natal dan bukan pendukung khilafah. Kenapa video itu kemudian dihapus? Itu juga disenjaga agar tidak terlalu menyinggung ulama garis keras. Begitulah kura-kura.

 

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.