Kolom Asaaro Lahagu: MA’RUF KELUAR MENYERANG (Jokowi: Diajak Berantem, Berani)

0
704

Ma’ruf Amin keluar untuk menyerang. Ia mengatakan, Jokowi tidak pernah menculik dan membunuh. Menurutnya Jokowi tidak pernah melakukan penculikan apalagi menganiaya dan membunuh orang.

“Menurut saya, positif semua. Mana ada beliau (Jokowi) menculik orang, menganiaya orang, nggak pernah, membunuh orang, nggak pernah. Dia (Jokowi) hanya melaksanakan tugas-tugas pemerintahan,” ucap Ma’ruf Amin di Pondok Pesantren Malnu, Pandeglang, Banten [Sabtu 29/12].

Ucapan Ma’ruf ini berefek dua.

Di satu sisi, ia membela dan mengakui Jokowi sebagai orang saleh. Di sisi lain, Ma’ruf sedang menyerang dan membuka borok pihak lain yang telah melakukan penculikan dan pembunuhan. Jejak kotor Capres ini harus diangkat untuk mengingatkan publik agat tidak salah pilih.

Peran Ma’ruf yang mulai menyerang, cocok diperankannya. Itulah peran yang sebetulnya diharapkan dalam sosok Ma’ruf. Ia harus berperan sebagai benteng pertahanan sekaligus sesekali menyerang.

Dengan peran sebagai benteng pertahanan, keputusan Jokowi untuk memilih Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya sudah benar. Tanpa sosok Ma’ruf Amin di kubu Jokowi, maka perusakan bendera Tauhid yang digoreng alumni 212 tertuju langsung kepada Jokowi.

Sebelumnya banyak pihak yang mengharapkan sosok Ma’ruf mampu mengerek elektabilitas Jokowi. Ini sebetulnya keliru. Keputusan Jokowi memilih Ma’ruf menjadi Cawapresnya bukan untuk mengerek elektabilitasnya, tetapi untuk memperkokoh pertahanannya.

Terbukti dengan adanya Ma’ruf, membuat isu agama tak bisa dipakai leluasa oleh PKS-PAN. Bahkan Kubu Prabowo terlihat fokus menggunakan isu ekonomi. Isu ini dengan tangkas dan mudah bisa dicounter oleh Kubu Jokowi.

Peran Ma’ruf yang diplot Jokowi sebagai benteng pertahanan, sudah sangat membantu Jokowi. Ma’ruf berdiri kokoh membela setiap serangan personal terhadap Jokowi. Sementara Jokowi fokus mensosialisasikan apa yang dia capai dan apa yang hendak dilakukan pada periode ke duanya.

Ke depan, peran Ma’ruf sebagai benteng pertahanan akan semakin kokoh jika ia lebih sering menyerang. Ia seumpama bek kokoh di pertahanan Jokowi namun gesit menyerang ke depan. Dalam ilmu sepak bola pertahanan terbaik adalah menyerang. Pun dalam ilmu perang klasik, pertahanan terbaik adalah siap menyerang kapan saja.

Saya sendiri sudah muak melihat politik identitas berseliweran di dunia nyata dan dunia maya. Namun, apa boleh dikata. Inilah Indonesia. Negeri yang sarat dengan politisasi SARA demi meraih kekuasaan.

Sejak Pilkada Jakarta yang berakhir dengan kekalahan Ahok, politisasi agama semakin merajalela. Saya masih ingat kampanye pendukung Anies Baswedan yang terus menyerang Ahok lewat identitas agama. Ada mayat yang tidak disholatkan jika mendukung Ahok. Ribuan pernyataan bahwa haram memilih orang kafir menjadi pemimpin.

Politisasi SARA terutama agama kini ketagihan dibawa ke Pilpres. Serangan kepada Jokowi anti Islam, anti ulama terus digaungkan. Saya yakin bahwa kubu lawan Jokowilah yang memulai isu politik identitas ini sebagai bentuk kampanye jitu untuk meraih kekuasaan.

Maka, sangat relevan ucapan Jokowi: “Diajak berantem, juga berani.” Artinya, bentuk kampanye yang sudah menjadikan agama sebagai senjata; isu agama sudah dicampur-baurkan ke dalam politik; dan itulah yang diinginkan oleh lawan untuk diadu, maka Kubu Jokowi juga harus berani meladeninya.

Saya kira publik sudah muak dan lelah untuk meluruskan tingkah laku lawan yang seharusnya tidak membawa-bawa agama. Publik sudah lelah memperbaiki logika kubu lawan agar adu prestasi, adu gagasan, adu program.

Namun, kubu lawan tidak mau diperbaiki, tidak mau berdemokratis dengan jujur, tidak mau menghindari politisasi agama. Maka kini ucapan Jokowi kalau diajak berantem, juga berani meladeni kubu lawan dalam soal agama. Artinya, mulai berani adu-aduan soal agama.

Adu-beradu soal agama mulai dari Capres. Undangan para Dai Aceh untuk tes baca Alquran, harus diladeni. Artinya Jokowi harus menunjukkan kepada rakyat bahwa dia bisa membaca Alquran. Demikian juga Prabowo harus menunjukkan kepada rakyat bahwa dia bisa membaca Alquran.

Prabowo sebagai Capres hasil Ijtima ulama, tentu sangat mahir membaca Alquran. Kalau tidak bisa, berarti sangat memalukan. Bagaimana mungkin sebagian umat Islam memilih pemimpin yang tidak bisa membaca Alquran, lewat Ijtima ulama pula?

Tentu, setelah test baca Alquran, ada juga test memimpin sholat. Kedua Capres akan diadu siapa yang mahir memimpin sholat. Tentu jika ada Capres yang tidak bisa memimpin sholat, maka keislamannya, kepemimpinannya, diragukan oleh umat Islam. Dan itu haram untuk dipilih.

Setelah Capres diadu dalam soal agama, maka giliran Cawapres diadu. Antara Ma’ruf Amin dengan Sandiaga Uno yang keduanya santri dan ulama, maka akan diadu ilmunya soal Alquran. Mulai dari ilmu lughat (filologi), ilmu nahwu (tata bahasa), ilmu sharaf (perubahan bentuk kata).

Lalu akan diadu lagi ilmu Alquran seperti Ilmu Isytiqaq (akar kata), Ilmu Ma’ani (susunan kalimat), Ilmu Bayaan (makna kata), Ilmu Badi’ (keindahan bahasa), Ilmu Qira’at (perbedaan bacaan), Ilmu Aqa’id (dasar-dasar keimanan), Ushu l Fiqih (dalil dan hukum), Ilmu Asbabun-Nuzul (sebab-sebab turunnya Alquran), Ilmu Nasikh Mansukh (hukum uang), Ilmu Fiqih (hukum-hukum rinci), Ilmu Hadist (tafsiran Alquran) dan ilmu Wahbi (ilmu khusus).

Bagi Cawapres yang bisa menguasai ilmu-ilmu di atas berarti bisa dipercaya umat Islam. Namun, Cawapres yang dadakan santri dan ulama berarti tidak bisa dipercaya oleh umat Islam dan haram untuk dipilih.

Adu gagasan, adu program, adu jejak bersih dari korupsi, adu prestasi nyatanya tidak diladeni oleh kubu lawan. Justru adu nyinyir, adu fitnah, adu hoax, adu bohonglah yang dipancing. Tentu adu bohong dan seterusnya tidak perlu diladeni oleh Kubu Jokowi. Namun adu-beradu dalam soal agama Islam, harus dan mutlak diladeni oleh kubu Jokowi.

Apa boleh buat, agama masih nomor satu di republik ini. Oleh karena agama yang dipancing duluan oleh kubu lawan, maka tidak ada salahnya diladeni dengan berani oleh Kubu Jokowi.

Apa yang dimulai oleh kubu lawan soal agama, Kubu Jokowi harus meladeninya sekarang dan terus-menerus. Kalaupun kubu lawan mulai ngeyel, menghindari, ngeles, maka perlu dihantam terus sampai tidak berkutik pada hari pencoblosan. Inilah yang dimaksud oleh Jokowi diajak berantem juga berani. Begitulah kura-kura.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.