Kolom Asaaro Lahagu: TAK BISA BACA AL-QUR’AN (Prabowo dan Timnya Tutupi dengan 7 Isu Ini) (Sirulo TV)

0
565

Jika Prabowo bisa membaca Al-Qur’an, maka dengan cepat dia dan timnya meladeni tantangan para Dai Aceh itu. Apa sih susahnya baca Al-Qur’an? Bukankah Prabowo telah menjadi Islam lebih 35 tahun? Hitung-hitung sejak menikahi Titiek tahun 1983, maka sejak itu Prabowo telah menjadi Islam.

Apalagi sempat melarikan diri dan tinggal 2 tahun di Yordania. Seharusnya keislamannya lebih dalam.

Padahal, Prabowo sejatinya paham benar tentang Islam. Apalagi agama menjadi andalan Prabowo bersama PKS-PAN untuk melengserkan Ahok di Jakarta. Kini, Prabowo adalah sosok the best pilihan Ijtima ulama untuk menjadi pemimpin Indonesia berikutnya. Bukankah Prabowo mengalahkan 9 Capres dan Cawapres PKS yang sebagian besar ulama?

Ternyata penunjukkan Prabowo sebagai hasil Ijtima ulama itu hanyalah kedok belaka. Prabowo terpaksa dipilih. Tak peduli mau atau tidak mau. Tidak ada pilihan bagi PKS-PAN, FPI, dan HTI selain Prabowo karena terbentur persyaratan Capres. Bahkan, seandainya Prabowo kafir sekalipun, dia tetap diplot sebagai hasil Ijtima ulama.

Tantangan para Dai Aceh untuk menguji baca Al-Qur’an bagi Capres dan Cawapres tidak bisa diladeni oleh Prabowo dan timnya. Alasannya jelas. Prabowo tidak bisa membaca Al-Qur’an. Pun seandainya ada kursus kilat hingga 15 Januari 2019, Prabowo yang sudah berumur 67 tahun, tidak akan sanggup belajar membaca Al-Qur’an. Umur tidak bisa dibohongi.

Oleh karena Prabowo tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka dibuat alasan-alasan untuk membenarkan penolakan tantangan para Dai Aceh itu. Mulai dengan mengatakan Prabowo sungkan jika berhadapan dengan para Dai.

Prabowo tidak perlu test baca Al-Qur’an tetapi cukup memahami isinya. Prabowo tidak perlu meladeni tantangan test baca Al-Qur’an itu karena itu bersifat SARA. Prabowo tidak perlu test baca Al-Qur’an karena bagi Amin Rais hal itu lucu. Prabowo tidak perlu membaca Al-Qur’an karena menurut Fahri Hamzah, itu adalah kompetisi rendahan.

Prabowo tidak perlu test baca Al-Qur’an karena, menurut ketua PA 212, kualitas Capres rendah dalam memahami Islam. Prabowo tidak perlu test baca Al-Qur’an karena tidak ada aturan dalam KPU yang mewajibkan test baca Al-Qur’an. Prabowo tidak perlu test baca Al-Qur’an karena yang dibutuhkan adalah pemimpin majemuk, pemimpin pluralitas.

Pokoknya alasan Prabowo dan timnya beraneka ragam, mulai dari ngeles, lucu sampai alasan aneh-aneh.

Namun, alasan-alasan yang disodorkan itu, serangan dari berbagai arah tidak berhenti menghantam Prabowo. Senjata agama Prabowo, yang telah menguntungkan dirinya itu, tiba-tiba berbalik memakan tuannya. Di sosial media dan media mainstream terus viral bahwa Prabowo menghindari test baca Al-Qur’an karena tidak bisa.

Jika hal itu terus-menerus bergaung, maka akan merugikan pihak Prabowo di mata umat Islam. Maka isu Prabowo tidak bisa membaca Al-Qur’an, harus dihentikan. Caranya tim Prabowo terus menghimbau tim Jokowi agar berhenti mempolitisasi SARA dan fokus ekonomi.

Tim Jokowi diminta berhenti menyerang personal Prabowo dan memainkan politik identitas. Padahal sebelumnya tim Prabowolah yang pertama-tama, paling getol, paling ngotot memakai isu SARA, politik identitas dan penyerangan personal.

Kendatipun sudah berusaha menghentikan dengan himbauan, tetap saja tagar Prabowo tidak bisa membaca Al-Qur’an bagai tsunami berseliweran di media. Tim Jokowi juga meminta Prabowo agar tidak mengecewakan permintaan para Dai Aceh itu.

Gagal menghentikannya dengan berbagai alasan dan himbauan, kini Prabowo, Sandi dan tim pemenangannya mencoba menutupi hal itu dengan membuat 7 isu baru berikut ini.

Pertama, Prabowo mengatakan bahwa selang di RSCM dipakai secara bergantian oleh 40 orang. Pernyataan itu ditenggarai sebagai fitnah dan pencemaran nama baik RSCM. Pihak RSCM sendiri telah membantah pernyataan Prabowo itu.

Ke dua, Sandiaga Uno mengatakan ia membangun tol Cikopo-Palimanan 116 km tanpa utang. Setelah ditelusuri, ternyata penyelesaian tol itu di era SBY meleset dari target. Dan, baru selesai di era Jokowi. Pun dana pembangunannya sebagian merupakan pinjaman dari Bank Mandiri dan Bank BCA.

Ke tiga, tim Prabowo mulai meluncurkan tagar baru #17AprilPrabowoPresiden, untuk mengganti tagar lama #2019GantiPresiden. Tagar ini sebagai pengalihan agar kelemahan Prabowo yang tidak bisa membaca Al-Qur’an tertutupi. Nantinya tim lawan akan sibuk mengomentari tagar baru itu.

Ke empat, Dahnil melempar pernyataan bahwa SBY sudah meramalkan atmosfir kemenangan berada di pihak Prabowo-Sandi. Dukungan kepada Prabowo Sandi bagaikan Tsunami. Menurut Dahnil, elektabilitas Prabowo sudah di atas 40%. Ini sebagai penghiburan diri sendiri yang elektabitas Capresnya stagnan.

Ke lima, Sandiaga melempar sebuah pernyataan terkait dengan bencana di Indonesia. Menurut Sandiaga dan timnya, jika ia dan Prabowo menang, akan dibuat Kementerian Bencana. Hal itu karena selama ini penanganan bencana tidak maksimal. Isu baru itu dijawab oleh Jokowi dengan mengganti kepala BNPB yang baru.

Ke enam, Sandiaga terpaksa membuka borok sendiri agar menjadi sasaran empuk tim Jokowi. Sandiaga mengatakan, hingga akhir Desember, dana kampanye Presiden belum disetor oleh PKS, PAN dan Demokrat. Dengan menyerang diri sendiri, maka tim lawan lupa mengorek-ngorek kelemahan Prabowo yang tidak bisa membaca Al-Qur’an.

Ke tujuh, tim pemenangan Prabowo terus membuka Posko pemenangan di Jawa Tengah. Lalu melempar pernyataan bahwa stigmatisasi Jawa Tengah sebagai basis PDIP akan diubah. Jelas hal ini merupakan pengalihan agar tim Jokowi sibuk meladeni pengalihan isu Prabowo yang tidak bisa membaca Al-Qur’an itu.

Isu tantangan dari para Dai Aceh untuk melakukan test baca Al-Qur’an telah membungkam Prabowo-Sandi dan para pendukungnya. Mereka yang sebelumnya memakai isu agama, kini berbalik arah menghantam mereka. Ternyata Capres hasil Ijtima ulama tidak bisa membaca Al-Qur’an. Sungguh memalukan. #17AprilJokowiPresiden.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.