Kolom Eko Kuntadi: PILPRES BUKAN MEMBELI KUDA DALAM KARUNG (Sirulo TV)

0
308

 

Kubu Prabowo dikabarkan menolak debat dalam acara paparan kedua Capres. Padahal, dari Pilpres sebelumnya, debat adalah hal yang biasa. Justru sebagai gambaran bahwa demokrasi kita kini sudah dewasa. Capres memang perlu memaparkan pikiran dan rencananya. Mau dibawa ke mana Indonesia masa depan. Mereka saling berlaga ide dan gagasan. Saling menjelaskan apa yang akan mereka lakukan 5 tahun nanti.

Rakyat menilai sebelum menentukan pilihan.

Tapi, semua paparan itu harus diuji. Apakah cuma buat ngebanyol seperti OK-OCE ketika Pilkada Jakarta yang lalu. Atau benar-benar ide yang genuin. Mengujinya ya dengan dipertanyakan, dikritik, direspon dan dilihat kemungkinan mewujudkanya.

Bisa saja seorang Capres ngomong soal Indonesia Adil dan Makmur. Tapi dia tinggal di istana yang luas dan megah. Tidak pernah berinteraksi dengan rakyat di sekelilingnya. Atau dari perilakunya sama sekali tidak menunjukan sikap adil. Sedangkan makmur hanya untuk dirinya dan golongannya saja.

Jadi adil buat siapa? Makmur untuk siapa?

Bisa juga Cawapres bicara soal memajukan ekonomi rakyat. Tapi ketika dia sebagai pengusaha, banyak kisah gak manis terdengar. Dia menelikung mentor dan ayah angkatnya sendiri. Perusahaan yang ditake-over dibiarkan bangkrut dan karyawannya terlunta-lunta.

Bisa juga Capres bombastis bicara akan stop impor. Tapi ketika nimpuk orang pakai HP, eh HP-nya juga barang impor. Itu kan, gak konsisten.

Atau mereka teriak anti asing, aseng, asu. Tapi di saat lain, mengaku dididik secara Barat. Maksudnya mau menunjukan dia adalah produk Barat yang siap mengabdi pada kepentingan mereka.

Bisa juga Capres dan Cawapres menjual dagangan bahwa mereka hasil pilihan ijtimak ulama. Tapi begitu diajak tes baca Alquran, alasannya segudang.

Nah, debat Pilpres mungkin saja akan menyoroti konsistensi seorang Capres oleh Capres lainnya. Jangan cuma modal bacot doang, ngomong sekebon, tapi gak bersedia diuji omongannya. Gak bersedia mendebatkan isi kepalanya.

Jika KPU meloloskan usul Kubu Prabowo bahwa tidak perlu ada debat Capres, artinya KPU membawa demokrasi Indonesia balik lagi ke jaman dulu, saat semua serba monolog. Serba doktrin. Rakyat dianggap sapi bodoh yang gak tahu apa-apa. Capres bukan murobi. Dan rakyat bukan anak liqo yang gak boleh berfikir sendiri.

Debat Capres adalah refleksi dari persaingan yang sehat dan fair. Kesiapan mental untuk debat dan dialog antar Capres, adalah wujud kesiapan mereka untuk menang. Juga siap untuk kalah.

Menghindari debat bisa dicurigai karena ada yang ketakutan slogan bombastisnya dipereteli satu-satu. Mana yang rasional dan mana yang ngaco. Malunya kayak orang didodori celananya. Eh, ternyata gak ada isinya.

KPU sebagai pelaksana Pemilu punya otoritas. Tanggungjawab mereka bukan hanya memastikan Pemilu berjalan fair. Juga mendorong demokrasi kita makin dewasa. Makin terbuka pada dialog. Pilpres hanyalah pesta 5 tahunan biasa. Sebuah tradisi demokrasi.

Dengan debat Pilpres, pemilih tidak lagi seperti membeli kuda dalam karung. Semuanya terang benderang.

“Namanya Pilpres secara langsung, ya harus debat dong, mas. Kalau gak mau debat, suruh ikut cerdas cermat aja,” seloroh Abu Kumkum.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.