Kolom Andi Safiah: SAPIENS DAN POSISINYA YANG TIDAK PENTING DALAM PERSPEKTIF COSMIC (Sirulo TV)

0
113

 

Andi SafiahKita boleh saja berbangga hati bahwa, diantara 6 homo lain yang tertinggal, homo sapiens dan homo yang lain akhirnya berhadapan dengan yang namanya kepunahan akitab. Tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan yang datang dari alam maupun yang datang dari pesaing terdekatnya sapiens. Diantara binatang lain yang pernah menghuni planet ini, homo sapiens bisa dicap sebagai satu-satunya species yang sukses menguasai puncak rantai makanan dalam waktu singkat.

Tidak lebih dari 200 ribu tahun saja sapiens sudah bisa melakukan rekayasa untuk kepentingan mereka sendiri.

Dari proses rekayasa tersebut, ada banyak yang dikorbankan. Termasuk membantai saudara dekatnya sendiri macam Homo Neanderthal atau bahkan Homo Erectus yang menurut rekor beredar hampir 2 juta tahun di planet bumi.

Jika menggunakan pendekatan kalender cosmic, dimana usia planet bumi yang sudah mencapai 4.5 Milyar tahun, maka homo sapiens terbilang masih sangat belia usianya di planet ini. Apa yang sudah dicapai oleh sapiens di luar dugaan. Dari jumlahnya yang puluhan dalam waktu tidak lebih dari satu juta tahun saja, sudah mencapai milyaran.

Bisa kita bayangkan jika perkembangan homo sapiens tidak dikendalikan, maka dalam waktu 100 tahun yang akan datang bisa jadi lebih dari 9 Milyar homo sapiens akan hidup di planet yang sumber daya alamnya akan habis disapu oleh sapiens.

Dalam berbagai diskusi soal sapiens, saya menemukan begitu banyak asumsi bahwa keberadaan Homo Sapiens di atas planet ini karena sapiens adalah utusan Tuhan. Entah datang dari planet mana, dongeng ini lumayan dipercaya dan bisa bertahan ribuan tahun lamanya dalam kesadaran sapiens.

Padahal, faktanya sama sekali keliru besar. Sapiens tidak diutus oleh siapa-siapa, apalagi oleh Tuhan yang jelas adalah semacam mahluk imaginer. Bahkan seorang Richard Dawkins menyebut Tuhan adalah delusi terbesar sapiens sejak ditemukannya seperangkat sistem macam agama.

Dari sinilah sapiens selalu merasa paling “penting” diantara binatang lain yang usianya bisa jadi lebih tua dari sapiens. Arogansi sektoral ini mulai muncul sejak sapiens mengenal agama sebagai sistem moral dan sistem kekuasaan. Hegemoni dan penaklukan akhirnya lebih ekspansif dan menyeramkan, karena urusan agama atau soal siapa teman imaginer terbaik, sapiens tidak segan-segan membantai sapiens lainnya dengan gaya brutal..

Tidak penting lagi urusan moral yang juga secara beriringan dikonstruksi oleh kesadaran sapiens lewat agama. Terpenting, ketika ada satu sekte yang berani melawan sakte yang lebih besar, maka hukumannya adalah penghapusan sekte itu dari permukaan bumi.

Kejadian itu dipertontonkan secara epik oleh sapiens bernama Hitler. Beliau dengan gagah dan santai ingin menghapus sekte yahudi di atas permukaan bumi karena alasan kebencian yang besar akibat provokasi agama, Hitler percaya bahwa ras Arya jauh lebih kuat dari ras-ras lain di atas planet ini. Untuk itu, bagi siapapun yang melawan keyakinan Hitler, harus dihabisi tidak pake ampun.

Dengan umur yang begitu singkat saja homo sapiens bisa melahirkan begitu banyak peperangan atas nama “Arogansi DNA” atau dalam bahasa Dawkins “Selfish Gene”. Ini tidak bisa dilawan kecuali kita memahami dan bisa melakukan rekayasa genertika secara akurat, dimana Gene Arogan Selfish bisa dielimanasi dan diganti dengan Gene yang menghargai eksistensi dan keberadaan manusia secara sadar. Kalau perlu, ditempatkan dalam altar tertinggi dari spirit homo sapiens.

Tapi ada problem di sana.

Pertentangan moral primitif akan menjadi tantangan tersendiri. Alasan homo satu ini adalah homo yang mulia dan maha penting. Berbagai jargon-jargon arogan diciptakan untuk membuktikan bahwa sapiens memang diutus untuk memperbaiki moral sapiens lainnya yang doyan bermain dosa. Padahal, kita tahu konsep dosa lahir untuk mengerem sifat barbar manusia yang dicap tidak bisa dikendalikan. Nafsu ingin menguasai sapiens lain telah menjadi mesin pendorong yang mematikan.

Problem klasik macam rebutan tahta dan kekuasaan ini yang sedang menjadi perdebatan serius di kalangan ilmuwan yang bermimpi akan melahirkan sebuah versi baru sapiens yang lebih sapiens. Maksudnya, lebih cerdas dan tidak tolol lagi macam milyaran sapiens yang memuja-muja egonya sendiri.

Jika rekayasa genetika itu sukses, mungkin bagian terparah dari sapiens bisa dibuang dan digantikan dengan bagian baru yang jauh lebih sapiens dari pada sapiens primitif yang doyan puja-puji. Kalau tidak dipuji, bisa membunuh sapiens lain dengan dalil-dalil yang dibuatnya sendiri.

Bagi saya, yang juga bagian dari homo sapiens tentu saja tetap berharap bahwa sapiens otak primitif bisa segera digantikan dengan sapiens otak cosmic. Sapiens jenis ini sadar betul posisinya dalam kalender cosmic. Mereka sadar bahwa mereka hanya hidup dalam sudut galaksi tidak penting macam milky way yang diprediksi sebentar lagi akan berkoalisi dengan galaksi Andromeda tetangga dekatnya dan terciptalah satu jenis galaksi baru yang bisa jadi jauh lebih eksotik dan menggairahkan dari pada versi sebelumnya.

Versi baru dari homo sapiens ini digambarkan oleh penulis populer Yoval Noah Hariri sebagai Homo Deus yang digambarkan sebagai “Tuhan” yang pernah dibayangkan oleh sapiens primitif lagi tolol.

Sebagai sapiens jenis Deus kita ingin menciptakan sebuah dunia baru dimana nilai-nilai penghormatan menjadi spirit utama. Nilai-nilai kebebasan menjadi landasan etik sehingga dari sana para homo Deus menyadari tidak ada yang lebih tinggi selain “Kolaborasi Otak” antara satu homo dengan homo lainnya. Itulah landasan etik tertinggi dari Homo Deus.

Jika itu bisa dicapai, maka agenda menjelajah alam semesta bukan lagi cerita dongeng macam Avenger yang bisa berselancar ke semua galaksi dengan hanya memencet satu tombol dan mereka bisa berlari melampaui kecepatan cahaya. Berita macam ini yang sangat sulit dipahami oleh homo sapiens primitif yang otaknya sudah dirusak oleh puja-puji alam ghaib yang tidak pernah bisa diterima oleh akal Homo Deus yang sudah upgrade 10 kali di atas homo sapiens.

Kesimpulan akhir, menjadi Homo Deus bukanlah hal yang mudah. Anda harus berani membuang ketololan dan arogansi anda di masa lalu dengan suka rela dan suka cita. Jika masih berharap hadiah setelah anda menjalani sebuah ritual useless sepanjang hidup anda dengan sebongkah kenikmatan palsu maka ketololan anda memang tidak bisa diselematkan. Anda adalah sapiens primitif yang akan punah dengan tragis macam Homo Neanderthal atau Homo Erectus ribuan tahun lalu.

Pilihan ada di tangan anda, Up Grade atau Mampus.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.