Kolom Asaaro Lahagu: JOKOWI TAK MEMPAN DIHINA (Kunjungi Ustad Arifin, Djoko Ngantor di ‘Rumah’ Jokowi)

0
582

 

Asaaro LahaguLawan Jokowi kecanduan hoax. Hoax dijadikan senjata utama. Hampir semua elit di Kubu Prabowo pernah menyebar hoax. Mulai dari Prabowo, Sandiaga, Fadli Zon, Fahri Hamzah sampai kepada seorang Andi Arief, pernah secara terang-terangan menyebar hoax. Anehnya, orang-orang itu tak pernah belajar dari sejarah. Pada Pilpres 2014 lalu, hoax yang diproduksi oleh Kubu Prabowo luar biasa dahsyat, termasuk hoax yang disebarkan oleh Obor Rakyat.

Tetapi apa hasilnya? Prabowo kalah, Jokowi menang.

Jika Jokowi saja yang saat itu tak punya kekuasaan di tingkat nasional tetap menang, apalagi saat ini. Jika ia sekarang ini terus diserang hoax, sudah pasti tak mempan. Bahkan hampir semua hoax yang dilancarkan justru berbalik menyerang Kubu Prabowo.

Saya ambil contoh hoax yang dilancarkan Alfian Tanjung. Orang ini adalah pendukung Prabowo. Hoax dan fitnah PKI yang dilancarkannya kepada Jokowi dan PDIP terbukti fitnah di pengadilan dan justru membawanya masuk ke dalam penjara.

Lihatlah Ratna Sarumpaet, pendukung utama Prabowo dan masuk sebagai anggota tim sukses. Konferensi pers yang dilakukan Prabowo untuk menyebarkanluaskan hoax Ratna justru berbalik menghantam Prabowo sendiri. Sementara Ratna langsung meringkuk di penjara.

Ada lagi hoax dari Habib Bahar Bin Smith. Dia melancarkan hoax bercampur hinaan bahwa Jokowi pengkhianat bangsa dan mengatakan bahwa Jokowi banci. Namun, dengan cepat hinaan itu berbalik kepada Bahar. Selain ia dicemooh publik, kelakuan jahatnya cepat terkuak. Ternyata orang ini seorang penyiksa. Jadilah Bahar masuk dan membusuk di penjara.

Lalu, ada hoax Andi Arief. Dia melempar pertanyaan hoax bahwa ada 7 kontainer suara telah dicoblos di Tanjung Priok. Tak membutuhkan waktu lama. Orang-orang penyebar hoax tertangkap termasuk perekam dan penyebar suara hoax. Sementara Andi Arief dan Tengku Zulkarnain yang ikut menyebar hoax, nama mereka langsung busuk tanpa perlu ditangkap aparat.

Dari bukti-bukti di atas, ternyata hoax dan hinaan yang digunakan untuk menyerang elektabilitas Jokowi tak mempan. Elektabilitas Jokowi di berbagai survei tetap tinggi di atas 50%. Itu artinya, jika Pilpres dilakukan hari ini, maka Jokowi pasti menang.

Itulah sebabnya saat mendengar hoax dan hinaan terhadap dirinya, respon Jokowi adem-ayem saja. Ia tetap sabar, rendah hati, senyum tulus dan terus giat bekerja. Padahal, jika dibandingkan dengan pemimpin di negara lain, sebetulnya beban Jokowi 3 kali lipat lebih berat.

Di samping Jokowi harus bekerja keras memberantas kemiskinan dan kebodohan warga negaranya, Jokowi juga harus menghadapi para mafia rakus, jenderal pengecut yang ingin mendongkelnya sekaligus menghadapi rakyatnya yang gemar menghina, memfitnah dan doyan kerusuhan.

Melihat Jokowi tetap kuat memimpin bangsanya, tak heran mengalir pujian dari seorang Mahatir Muhammad, PM Malaysia saat ini. Mahathir menyebut secara khusus standar Jokowi sebagai “reaching the unprecendeted level” dalam sejarah Indonesia. Pemimpin bisnis China terdepan, Jack Ma, juga memberikan pujian kepada Jokowi tentang resiliencenya dalam menghadapi fitnah.

Para pemimpin dunia kagum kepada Jokowi. Diremehkan rakyatnya, ia tetap tenang. Dicacimaki juga tidak gusar. Difitnah sana sini, tetap juga sabar. Inilah kualitas pemimpin dunia yang unggul dan mumpuni. Pantas menjadi pemimpin bangsa besar, sebesar Indonesia dengan semua kompleksitasnya.

Keunggulan pribadi Jokowi dibarengi dengan kelurusan hatinya. Karakternya tidak bisa dibeli dengan kekuasaan dan uang. Ia tetap tegar serta memberi panutan dan teladan dalam hiruk-pikuk hoax dan hinaan di negaranya. Itu terlihat saat ia mengunjungi Ustad Ilham Arifin.

Kunjungan itu telah memberi contoh bagaimana karakter sesungguhnya Jokowi. Walaupun Ilham Arifin adalah pendukung Prabowo, Jokowi tetap mengunjungi ustad ini saat sakit. Jokowi tidak melihat pilihan politiknya, tetapi Jokowi melihat bahwa sosok Ilham Arifin adalah rakyatnya yang patut mendapat perhatiannya. Jokowi melihat rakyatnya dari sisi kemanusiaannya yang dalam.

Kunjungan Jokowi itu membuktikan bagaimana kuatnya karakter Jokowi yang sebenarnya. Walaupun ia adalah figur berprestasi, dikagumi para pemimpin dunia dengan berbagai pengakuan, ia tetap rendah hati, tidak serakah, tidak dendam dengan tetap mengunjungi lawannya yang sekarat di rumah sakit.

Jelas karakter kuat Jokowi ini semakin membutakan lawan politiknya. Jenderal Djoko Santoso, mantan Panglima TNI era SBY, kini berkat ulahnya, terbongkar strateginya sendiri. Djokolah yang menelurkan strategi untuk menghantam jantung pertahanan Jokowi di kampung halamannya. Djokolah yang mempunyai ide untuk mendirikan langsung Posko Pemenangan Prabowo di kampung halaman Jokowi sendiri.

Dalam strategi Djoko Santoso, dengan menghantam Jokowi di kampung halamannya, maka Kubu Jokowi beserta pendukungnya gentar dan merasa terintimidasi. Apalagi Jenderal Djoko sudah berencana akan tinggal di Posko pemenangan Kubu Prabowo dekat rumah Jokowi. Ia dikabarkan akan ngantor di situ. Lengkaplah sudah. Kubu Jokowi dikira sangat gentar.

Strategi ini sebetulnya sangat lucu, selucu-lucunya. Jantung pertahanan Jokowi itu bukanlah Solo dan bukan hanya di Jawa Tengah. Jantung pertahanan Jokowi itu tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada di hati rakyat Papua, Kalimatan, Sulawesi, Sumatera serta di seluruh pelosok Jawa dan bukan hanya di Solo.

Saya yakin Jokowi senyum-senyum, mendengar Ketua BPN Prabowo itu akan ngantor di dekat rumahnya. Seandainya Kubu Prabowo meminta, maka mungkin Jokowi sendiri akan bersedia mengijinkan rumahnya menjadi Posko Pemenangan Prabowo. Mengapa tidak?

Silahkan pakai rumah saya sebagai posko pemenangan. Jangan hanya di dekat rumah saya dan di kampung saya tetapi juga di rumah saya sendiri. Dan kita lihat siapa yang menang. Yang menang adalah yang optimis, sementara yang kalah adalah si pesimis. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.