Kolom Seriulina Karosekali: REMBANG TENGAH

0
114
Penulis (duduk di depan nomor 2 dari kiri) bersama teman-teman sejawat.

Seriulina Karosekali 2Malam ini, ketika mata sulit dipejamkan, saya merenung dalam hati: “Apakah toleransi dan saling menghargai begitu susahnya dilakukan di negeriku yang tercinta ini?” Saya tidak tahu apa masalah sebenarnya dengan berita yang saya dengar, ketika jemaat salah satu gereja GBI Filadelfia di daerah Martubung (Medan) digeruduk sekelompok orang.

Apapun masalahnya, tidak bisakah dibicarakan dengan musyawarah setelah para jemaat ini selesai beribadah? Apakah toleransi itu hanya berlaku buat yang minoritas terhadap yang mayoritas? 

Jikalau ada yang merasa terganggu dengan keberadaan gereja di sekitarnya, tidakkah anda “rembang tengah rukur“? (berada di tengah dalam berpikir). Bahwa ada yang beribadah 5 kali sehari dengan memakai pengeras suara yang dalam radius kiloan meter masih bisa kita dengar, apakah semua orang bisa menerimanya?

Tapi bisakah anda menyadari tindakan apa yang orang-orang lakukan selain berusaha mengerti dan menghargai pemeluk agama tersebut? Jikalau ada masalah dengan perijinan, atau masalah lainnya, bukankah sebaiknya anda melaporkan kepada pihak yang berwenang yang dapat melakukan tindakan?

toleransi 1
Penulis (kanan) bersama seorang teman sejawat.

Saya sungguh teramat sedih mendengar keberutalan manusia-manusia yang menggeruduk manusia lain yang sedang mendekatkan diri dengan Sang Pencipta yang mereka yakini. Mengapa manusia macam ini tidak merasa Indonesia ini adalah rumah kita bersama? Kita hidup di dalam satu rumah yang hanya berbeda kamar saja. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang pejabat.

Hari minggu kemarin, kebetulan saya menghadiri acara Keberkahan Tahun yang rutin dilakukan oleh Yayasan Budha Tzu Chi. Sungguh saya merasa saya ini bukan siapa-siapa namun sangat beruntung. Dari yayasan ini saya melihat begitu banyak orang yang tidak seberuntung saya, tapi mereka dibantu, dikasihi tanpa melihat suku maupun agama mereka.

Sungguh tidak ada perbedaan itu. Bahkan yang mereka bantu melalui bea siswa anak asuh maupun pengobatan dan lainnya banyak dari agama dan suku di luar Budha. Indah bukan? Seindah ketika di sebuah gereja yang saya tahu penjaganya adalah seorang keluarga muslim.

Tapi mengapa ada manusia yang tega dan dengan angkuhnya menggeruduk manusia lainnya seperti dia yang sedang beribadah? Kira-kira apa yang ada dalam pikirannya? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Salam semangat “ajar bancina”, mejuah juah!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.