“Di sela sela penandatanganan, Kemenko Maritim (Luhut Binsar Panjaitan) menyuruh Bupati Karo ke Andhra Pradesh (India) untuk meninjau Zero Budget Natural Farming (ZBNF) dan pemanfaatan bio mass pertanian untuk energi. Kabupaten Karo diharapkan bisa menjadi pilot project di Indonesia.” (Lihat beritanya di SINI. Dengan menerapkan ZBNF, tanah-tanah pertanian di Kabupaten Karo pastilah bisa menjadi subur kembali seperti tanah-tanah alamiah semula sebelum adanya pengaruh buruk bahan-bahan kimia dari luar.

Menko Luhut mengenal dan mengerti kABUPATEN Karo sebagai daerah penting pertanian nasional negeri ini.

Penting terutama dalam meningkatkan perubahan dan perkembangan daerah Sumut. Karena itu, sunguh tepat sekali anjurannya atau instruksinya supaya Kabupaten Karo konkritnya Bupatinya supaya secepatnya bisa belajar ZBNF (Zero Budget Natural Farming) di Andhra Pradesh India itu. Bupati Karo (Terkelin Brahmana) tentu bisa segera mempersiapkan tim pertaniannya dalam rangka pembelajaran ZBNF secara serius.

Semua ini tentu dengan harapan, nantinya  bisa langsung mempraktekkan dan memanfaatkan pengetahuan itu di lapangan di Dataran Tinggi Karo. Ini memang penting dan serius mengingat situasi tanah pertanian di Dataran Tinggi Karo yang sudah dalam perjalanan menuju puncak kegersangan dan perusakannya yang sangat mengerikan, akibat penanganan yang bertentangan dengan kondisi natural tanah pertanian yang tadinya sangat subur alamiah. Atau dengan ucapan Bupati Terkelin sendiri: “Hampir merata tanah Kabupaten Karo sudah rusak.” 

Mari Pak Bupati, segera laksanakan instruksi Pak Menko Luhut itu. Dengan begitu betul-betul memang “Kabupaten Karo diharapkan bisa menjadi pilot project di Indonesia.” Wow, jika ini bisa segera terwujud, Tanah Karo akan jadi tumpuan pembelajaran pembaruan dalam mengolah dan mengelola tanah-tanah pertanian seluruh Indonesia yang memang adalah negeri agraria. Pembelajaran ini akan bermanfaat bagi perubahan dan perkembangan struktur pertanian seluruh Indonesia!

Kedatangan Menko Maritim Luhut ke Laguboti (Tobasa) dalam rangka Rakor Lingkungan Sekitar Danau Toba kali ini sangat penting dan tepat waktunya karena sudah semakin kotor dan jorok saja lingkungannya di daerah danau itu. Ini ada permulaan dari atas, seterusnya harus  ada gerakan dari bawah. Rakyat ikut aktif membersihkan, jangan hanya mengotori.

Danau Toba yang indah dan luas, daerah udara sejuk dan pemandangan indah Tanah Karo dan gunung-gunungnya, sumber-sumber mata air panasnya, serta hasil pertaniannya yang sudah sangat terkenal seperti jeruknya (dikenal sebagai jeruk Medan di Jawa), bunga-bungaan yang begitu indah dan beragam di daerah Berastagi, penduduknya yang ramah dan santun menghadapi semua turis pendatang dalam negeri maupun mancanegara. Semua ini adalah modal utama bagi peningkatan perkembangan industri turisme di Sumut, dan khususnya daerah Danau Toba dan Tanah Karo.

Itulah yang diharapkan oleh Menko Luhut bikin Rakor. Supaya semua kepala daerah sekitar danau indah itu segera ambil tanggung jawab menggerakkan penduduk sekitar danau ikut merawat dan membersihkan lingkungan yang sudah semakin jorok itu. 

Saya pernah melihat suasana danau sekitar Tongging. Airnya jadi kotor dan bau busuk karena jaring-jaring ikan. Terkadang saya terpikir juga, apakah ada orang (turis) datang ke Singapura yang terkenal bersih itu, sekiranya kota itu kotor seperti tumpukan sampah di Berastagi, jaringan ikan keramba Danau Toba, tumpukan sampah-sampah sekitar pantai Danau Toba? Tentu turis ke kota Singa itu drastis akan menyusut dan akhirnya hilang sama sekali. Atau turisnya hanya yang ingin melihat dan mencium bau sampah, uh! 

Ayo semua kepala daerah sekitar danau indah, bersihkan dirimu dengan membersihkan semua sampah dan kotoran sekitar Danau Toba. 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.