Apa yang terjadi pada Pilpres tahun 2014 lalu? Prabowo kalah, Jokowi menang. Salah satu alasan kekalahan Prabowo adalah karena dia kalah debat. Mengapa dia kalah debat? Karena dia hanya beretorika. Ia terlalu boros melempar data hoax.

Melihat kampanye dan serangan-serangan Prabowo selama ini, maka alogaritma computer bisa mendeteksi seberapa valid dan reliable fakta kampanye dan serangan-serangan Prabowo itu ke kubu petahana.

Saya yakin, keakuratan data kampanye Prabowo jauh di bawah 50%. Ini jelas menjadi blunder. Data hoax itu berbalik menyerang dirinya sendiri menjadi karma. Mari kita kembali ke belakang sejenak.

Pada Pilpres 2014 lalu, ada 5 faktor yang menyebabkan Jokowi menang. Pertama, konser Salam Dua Jari di Gelora Bung Karno. Konser yang dihadiri puluhan ribu simpatisan itu menggaung secara nasional dan sekaligus menarik kalangan muda untuk memilih pasangan Jokowi-JK.

Ke dua, sosialisasi 9 program utama Jokowi-JK yang dikenal dengan poin-poin Revolusi Mental melalui iklan di media massa.

Ke tiga, debat. Nah ini faktor ini yang saya soroti sebagai faktor penting kekalahan Prabowo. Dalam debat terakhir, calon presiden dan wakil presiden 2014, Jokowi-JK tampil prima dan dianggap mengungguli Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Selain penampilan Jokowi-JK yang prima, dalam debat awal, Prabowo melakukan kesalahan besar, yakni ia mendukung pernyataan lawan. Saat itu Prabowo mendukung gagasan Jokowi soal ekonomi kreatif. Dengan pengakuan itu, sebenarnya Prabowo mengakui lawannya lebih bagus jawabannya. Dengan kata lain hal itu dipandang sebagai cara untuk mengatasi bahwa ‘gua enggak bisa jawab’.

Jika Jokowi tidak memuji pasangan Prabowo-Sandiaga dalam debat perdana, itu karena Jokowi paham bahwa ini adalah debat dan bukan panggung sandiwara.

Saat debat terakhir tahun 2014, banyak pengamat memberikan skor 4-2 untuk Jokowi dalam debat. Jokowi dianggap menguasai detail persoalan. Sementara Prabowo dinilainya kalah telak di tataran detail, terutama soal ketidaktahuan singkatan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah). Saat itu Prabowo tidak tahu singkatan TPID yang ditanya Jokowi.

Kemenangan Jokowi dalam beberapa kali debat 2014 itu, juga dipengaruhi 2 gol bunuh diri dari Kubu Prabowo.

Pertama, komentar Fahri Hamzah yang menyebutkan Jokowi ‘sinting’ karena menetapkan hari santri. Pernyataan itu menyebabkan sebagian kalangan santri di Jawa Timur marah dan ramai-ramai mendukung Jokowi.

Ke dua, kesalahan Hatta dalam memahami Kalpataru saat debat calon presiden dan wakil presiden. Dalam debat tersebut, Hatta Rajasa salah menyebut Kalpataru untuk penghargaan Adipura. Kesalahan Hatta itu dijadikan bahan olok-olokan di seluruh Indonesia.

Hal yang sama di tahun 2014 terulang lagi pada debat Pilpres 2019. Saya lihat, tidak ada perubahan signifikan dalam diri Prabowo. Malah pada debat kali ini ia melakukan blunder dengan mendengarkan petuah SBY.

Saat SBY disebut sebagai mentor Prabowo, saya sebenarnya cukup khawatir. Mengapa? Bayangkan kalau Prabowo diajar habis-habisan bagaimana caranya berdebat seperti SBY dulunya. Bisa-bisa yang keluar nantinya di depan adalah pribadi ganda Prabowo hasil polesan SBY.

Dan, benar saja. Dalam debat perdana Pilpres, cita rasa SBY dalam diri Prabowo berkadar 75%. Saat tampil, Prabowo terlihat sangat santun, bahasanya runtut, menahan emosi, wajah sedikit serius, gerak bibir diatur, tatapan ke depan lurus, mata dibuat seolah-olah berpikir keras sampai jas, baju kebesaran dipakai.

Awalnya Prabowo dapat memperagakan hasil polesan SBY tersebut. Saya pun terkejut. Ternyata Prabowo bisa juga meniru habis SBY. Prabowo yang biasanya emosional, menggebu-gebu, tiba-tiba sangat santun. Nada suara Prabowo pun dibuat rendah dan tidak melengking-lengking.

Namun, diri SBY yang ditiru Prabowo itu tidak bertahan lama. Ketika sentilan ala SBY dilakukan Prabowo dengan menuduh aparat berpihak kepada Jokowi sambil melodrama, justru dibalas sangat tajam oleh Jokowi dengan senjata hoax Ratna Sarumpaet. Fokus Prabowo pudar dan membuat blunder Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia. Padahal, Malaysia beberapa kali lipat lebih besar dari Jateng.

Sehabis dirudal oleh Jokowi, Prabowo gugup dan hilang akal. Lalu orang di belakang Prabowo bersuara. “Ayo bangkit dan serang lagi,” terdengar bisikan dari arah belakang Prabowo.

Prabowo pun berubah dan mulai menggunakan ciri khas Amin Rais dengan mengadopsi jurus Bambang Widjojanto soal korupsi. Prabowo dengan retorika gagah akan membuat negeri ini bebas korupsi dan menghajar habis para koruptor dengan cara memimpinnya langsung.

Namun, ketika ia dihajar kembali oleh Jokowi soal 6 orang kader Gerindra yang merupakan narapida koruptor, Prabowo pun kembali KO. Boleh dikatakan, dalam debat perdana itu Jokowi menang 2-0 atas Prabowo dengan 2 faktor.

Pertama, hoax selama ini berbalik kepada Prabowo yang saya sebut sebagai karma. Prabowo terlalu biasa asbun (asal bunyi) dengan retorika-retorika pidatonya. Padahal sebenarnya dia tidak menguasai persoalan. Ketika ia diserang balik, Prabowo langsung nyungsep.

Ke dua, Prabowo keluar dari dirinya. Ia meniru SBY yang santun namun hal itu sangat tidak cocok bagi Prabowo. Prabowo tidak menjadi dirinya sendiri. Tiruan gaya SBY justru menjadi blunder bagi Prabowo karena santunnya terlihat dibuat-buat.

SBY sendiri tidak hadir pada debat perdana itu. Padahal SBY katanya sebagai mentor Prabowo. Mengapa SBY tidak hadir? Mungkin hal itu sebagai pembalasan dendam karena dicuekin oleh Prabowo gara-gara bule. Karma. Begitulah kura-kura. #17AprilJokowiTetapPresiden.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.