Berdebat di depan publik, ada dua musuh yang harus dikalahkan. Pertama lawan debat. Ke dua adalah mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan lawan debat gampang dipelajari. Tinggal cari materi-materi yang bisa menikamnya. Atau patahkan argumennya secara meyakinkan. Atau giring pembicaraan sesuai dengan bidang keahlian kita.

Yang paling rumit justru mengalahkan diri sendiri.

Inilah yang semalam gagal dilalui Prabowo Subianto. Ia gagal mengalahkan dirinya sendiri. Repotnya, Jokowi tahu kelemahan lawannya. Maka disulutlah api agar Prabowo bertarung dengan dirinya sendiri.

Mulanya adalah ketika Prabowo mengajukan pertanyaan –sebetulnya protes– ada seorang kepala desa pendukungnya yang ditangkap. Dia menyerang Jokowi, kenapa ada kepala desa ditangkap polisi. Apa karena mendukungnya?

Tentu saja itu pertanyaan sumir. Sebab Prabowo tidak mengkonfirmasi siapa kepala desa tersebut. Di desa mana kejadiannya. Lalu, kenapa Prabowo gak lapor polisi.

Sama seperti kasus seorang juru bicara Tim Prabowo, Ratna Sarumpaet. Ngakunya digebuki. Mukanya babak belur. Prabowo buru-buru menggelar konfrensi pers. Nyatanya habis operasi plastik. “Harusnya Pak Prabowo melapor polisi. Jangan grasa-grusu menggelar konferensi pers,” ujar Jokowi. Kata-kata itu seperti menghujamkan hook ke rahang lawan.

Dari situlah terlihat Prabowo mulai tidak stabil emosinya. Mimik wajahnya berubah tegang. Apalagi ketika moderator debat Ira Kusno, melarang ia bicara karena memang belum waktunya.

Jika diibaratkan petinju, kilikan kecil Jokowi berhasil menggoyang pertahan emosi lawannya. Jokowi tahu pasti, Prabowo bukan orang yang terbiasa dikritik. Ia tidak tahan emosi jika kena sentil. Kalau sudah begitu, segala teori debat yang diajarkan mentornya langsung ambyar. Dia bakal bertindak seperti hewan terluka, seruduk sana-sini.

Prabowo oleng. Penonton menertawakannya. Panggung langsung dikuasai oleh Jokowi.

Merasa sentilannya ke ujung biji lawannya berhasil membuat kelojotan, Jokowi merangsek lagi. Kali ini dia bertanya yang langsung menohok. Kalau Prabowo mau memperjuangkan perempuan, kenapa di struktur Partai Gerindra tidak banyak elit perempuannya?

“Oh, ada. Ada Bu Rachmawati Sukarno Putri sebagai wakil ketua. Dan beberapa lainnya,” jawab Prabowo sempoyongan. Kata beberapa lainnya menandakan Prabowo hanya mengenal satu orang perempuan di partainya.

“Kami didukung emak-emak,” ujarnya mencoba meyakinkan. Artinya, perempuan bagi Prabowo hanya pelengkap dukungan saja. Bukan menjadi subjek penting. Buktinya nuansa feminim gak terasa di kelompoknya.

Nah, kan. Nafas Prabowo mulai naik-turun. Emosinya diaduk seperti bubur ayam. Tubuhnya gak rileks lagi dan getar suaranya berubah.

Saya membayangkan Jokowi terkekeh di dalam hati. “Baru juga disentil,” bathinnya. “Belum sampai ditabok.”

Tapi ledekan Jokowi gak berhenti. Ketika diberi kesempatan bertanya. Dia men-smash dengan pukulan akurat. “Kalau mau memberantas korupsi, kenapa Partai bapak mencalonkan Caleg mantan koruptor paling banyak. Surat pencalegannya bapak sendiri yang tandatangan, lho?”

Grommpyanggg!

Seperti panci jatuh ke lantai, suasana itulah yang ada dalam hati Prabowo. Dua kali posisinya sebagai ketua partai disentil. Menyentil Prabowo langsung. Menyentilnya sebagai pribadi.

“Kalau memang rakyat mau memilih, silakan. Lagipula korupsi mereka gak seberapa,” ujarnya.

Hahahahahaha… Korupsi gak seberapa? Prabowo terkesan membela koruptor, dengan berkata korupsi gak seberapa. Padahal, yang namanya maling, ya tetap maling. Maling duit rakyat.

Prabowo melanjutkan, maling ayam itu salah. Tapi yang dicuri cuma sedikit, bantahnya penuh emosi. Saya heran, kenapa Prabowo gak pakai analogi maling sapi? Oh, mungkin karena partainya berlogo mirip cap kepala ayam jago.

Tuntaslah sudah. Prabowo menunjukan dirinya pembela koruptor. Dia tunjukan dirinya tidak punya banyak perhatian pada isu perempuan. Dia tunjukan dirinya sebagai orang grasa-grusu yang gak menghormati hukum. Ada orang babak belur malah konferensi pers. Bukannya lapor polisi.

Malam tadi, saya rasa Jokowi bisa tidur dengan nyenyak. Dia berhasil menjatuhkan Prabowo sekali gebrak. Caranya mudah, bangkitkan monster dalam diri lawannya, lantas Prabowo akan kehilangan kontrol dirinya.

Monster mengerikan itu yang selama ini ditutupi. Diselimuti dengan kepalsuan.

Prabowo pasti gak bisa tidur. Sepertinya ia masih harus bertempur dengan dirinya sendiri. Sebab, tampaknya, setelah berulang kali kekalahan yang dialami, lawan sejati Prabowo bukan Jokowi. Tapi lawan paling berbahaya adalah dirinya sendiri.

Emosinya gak stabil. Telinganya tipis. Kemampuannya mengelola diri payah. Jogetnya pun gak enak ditonton.

“Prabowo cuma jago berkoar di belakang. Pas di hadapkan langsung dengan Jokowi, dia menciut. Seperti isi CD yang kedinginan,” Abu Kumkum, menambahkan.

Gubrak!

Catatan redaksi: Video di bawah adalah dukungan ibu-ibu (pernanden) Suku Karo kepada salah satu pasangan Capres-Cawapres.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.