Pagi itu, saya dengan beberapa rekan kerja akan memulai pekerjaan. Sambil menunggu rekan-rekan yang lain berkumpul, saya dan seorang rekan kerja berdiskusi ringan. Saya sebenarnya hanya menanyakan bagaimana perkembangan usaha penjualan bibit kentangnya.  Sambil bercerita, rekan saya ini bertanya, “Pak Jon, kira-kira milih siapa nanti?” Saya jawab saja bahwa saya akan pilih Jokowi .

Rekan saya ini kemudian meneruskan bertanya, “Kenapa Jokowi? Kkenapa bukan Prabowo?”

Saya pun memulai jawaban dengan mengatakan saya banyak membaca buku- buku tentang tokoh-tokoh Indonesia; Habibie, Soekarno, Dowes Dekker. Saya  mengatakan juga suka dengan buku yang menjabarkan biografi Annis Baswedan. Sangat senang melihat bagaimana Annies Baswedan bersekolah di Jogjakarta, kemudian ke Amerika Serikat.

Saya juga mengatakan bahwa Annies Baswedan terkesan dengan konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Kihajar Dewantara. Senang dengan perjalanan hidup Pak Annies yang keturunan Arab, tetapi sebagai Gubernur DKI belum mengetahui gebrakan hebat dari beliau.

Biografi Prabowo juga tidak luput dari bacaan saya. Di rumah, buku Prabowo adalah salah satu yang mengisi rak buku saya. Dari semua yang saya baca, baik dari buku maupun sumber-sumber lain, maka diantara calon yang ada saya akan memilih Jokowi.

Teman saya melanjutkan bahwa sebenarnya Jokowi-nya tidak masalah. Akan tetapi orang yang berada di sekitarnyalah yang banyak masalah. Menanggapi perkataan teman ini saya jawab lagi dengan bertanya, “Lantas, apakah orang-orang di sekitar Prabowo semua bersih?”

Dia menjawab, “Tidak juga”. Saya pun meneruskan penjelasan. Katakanlah kedua calon ini dikelilingi oleh banyak orang yang tidak baik, maka kita harus memilih yang terbaik dari kedua calon yang kita anggap tidak sempurna ini.

Teman-teman kami mulai berdatangan. Diskusi ringan kami pun terputus. Pekerjaan kami sudah mulai berproses. Kami tetap berdiskusi sambil mengikuti proses pekerjaan. Topik kembali tentang usaha bibit kentang. Teman saya mengatakan pembeli terbanyak bibit kentangnya di  Pangalengan adalah dari Medan. Medan yang dimaksud teman saya ini adalah Tanah Karo dan Sidikalang.

Mendengar perkataannya bahwa pembeli terbesarnya dari Medan, maka saya pun menjawabnya, “Jika memang pembeli terbesar bapak dari Medan, maka sebaiknya bapak harus pulih Jokowi”. Saya pun menjelaskan bahwa, setelah Trans-Jawa, maka fokus berikutnya adalah Trans-Sumatera. Jokowi memperkirakan Trans-Sumatera dapat tersambung dan digunakan pada 2024.

Ladang kentang di Dataran Tinggi Karo

“Bayangkan jika ada tol dari Aceh sampai Lampung, maka sebagai penjual bibit kentang bapak akan dengan mudah mengirimkan bibit kentang bapak. Harga jual bibit kentang bapak akan bisa lebih murah di tangan petani di Medan. Waktu pengiriman juga jadi lebih cepat. Yang beli juga jadi lebih banyak. Usaha bibit kentang bapak bisa lebih baik lagi, dan petani juga tidak terbebani dengan harga yang mahal”- kata saya melanjutkan diskusi selingan kami.

“Sama halnya dengan Tol Soreang – Pasir Koja, di Kabupaten Bandung, apakah bapak terbantu?” tanya saya. Saya mengatakan bahwa saya sangat terbantu. Untuk keperluan apotek kami, saya hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di Kota Bandung. Sebelum tol ini ada, paling cepat 1.5 jam waktu tempuh ke Bandung, itupun sudah dengan motor yang mengebut. Mendengar pengalaman saya ini , berkaitan dengan Tol Soreang – Pasir Koja, teman saya mengatakan, “Ya, memang, sekarang lebih cepat ke Kota Bandung”.

“Bayangkan jika  kita bisa memiliki tol seperti Tol Soreang – Pasir Koja ini di sepanjang Sumatera, semua bisa cepat, lancar dan mudah. Bibit kentang bapak, dari Pangalengan Kabupaten Bandung, akan lebih mudah mendistribusikannya ke Sumatera,” kataku.

Secara pribadi, sebagai anak petani, saya memang sangat menantikan Trans-Sumatera segera tersambung.  Hasil tani dari ladang bapak dan ibu saya akan dengan mudah dikirimkan ke Jawa dan wilayah lain. Biaya secara keseluruhan akan turun, sehingga menaikan taraf hidup petani dan masyarakat perkotaan juga membeli dengan harga terjangkau. Sisa uang dari penghasilan dapat diinvestasikan untuk kesehatan, pendidikan, dan hari tua.

Bagi kita semua, mari menyempatkan diri untuk memikirkan apa kebutuhan kita yang sebenar-benarnya, dan menilai dengan jujur siapa kira-kira yang dapat membantu kita untuk mewujudkannya. Pilihan kita akan menentukan masa depan kita dan orang lain, maka siapapun kita yang merasa peduli akan masa depan, mari luangkan waktu untuk merenungkan dan merasakannya.

Selain itu, kita semua agar semoga tetap bahagia.

1 COMMENT

  1. “Bagi kita semua, mari menyempatkan diri untuk memikirkan apa kebutuhan kita yang sebenar-benarnya, dan menilai dengan jujur siapa kira-kira yang dapat membantu kita untuk mewujudkannya.”

    Presiden-presiden sebelumnya tidak pernah fokus ke infrastruktur karena terlalu sibuk mikirkan politik sendiri. Apalagi kelahiran orang seperti Jokowi kan hanya 1000 tahun sekali. Salah pilih kali ini adalah kesalahan 1000 tahun kedepan! Wow . . .
    Ayo Kerja! Pilih yang kerja!

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.