Menebak langkah Jokowi dalam percaturan politik seperti menangkap angin. Orang kebanyakan akan terbengong-bengong bingung dan bahkan murung. Kenapa ?

Jokowi bukan type manusia yang mabuk oleh sanjungan.

Empat tahun menjadi presiden, menjadi orang nomor 1 di republik ini. Dia telah membuktikan kebijakan-kebijakan yang awalnya dihujat. Bahkan pada awal-awal beliau memerintah, banyak orang memprediksi beliau akan terjungkal tidak lebih 2 tahun.

Seperti halnya ketika Jokowi mencabut subsidi listrik saat awal beliau menjabat, semua mengkritisi. Semua dibuat naik darah. Itu adalah kebijakan yang salah besar.

Namun, Jokowi bukan manusia kerupuk oleh keadaan apapun juga. Beliau yakin dengan keputusannya. Yakin bahwa mencabut subsidi listrik dan beberapa subsidi lainnya dialihkan ke sesuatu yang lebih urgen adalah lebih penting.  Dan, itu terbukti. Jokowi membuat gebrakan mulai BBM satu harga hingga pembangunan listrik untuk di seluruh pelosok Tanah Air.

Lalu, kenapa ABB yang pentolan teroris , yang sudah memakan korban, harus dibebaskan? Apa untungnya? Toh dengan membebaskan ABB justru merugikan elektabilitas Jokowi?

Begini. Seringkali sebuah keputusan, di samping diputuskan dengan logika, insting dan intuisi juga dibutuhkan. Jokowi sepertinya menggunakan semua pertimbangan itu untuk membebaskan seorang ABB.

Proses panjang dalam mempertimbangkan pembebasan ABB sudah 1 tahun. Semua aspek secara detail tentu dijadikan pertimbangan. Pembebasan itu konon hanya disebut karena faktor kemanusiaan. Karena ABB sudah uzur. Apakah demikian?

Bagi orang yang melihat politik Jokowi dari kulitnya tentu akan kecewa. Marah serta gregetan . Namun, jika mau berpikir panjang, membebaskan ABB adalah sebuah keputusan yang luar biasa berani dan hebat.

Kita semua tahu, politik adalah perebutan kekuasaan. Untuk berkuasa seringkali banyak orang menghalalkan segala cara. Termasuk cara-cara keji yang kita lihat dan kita rasakan dari Paslon sebelah. Capres sebelah dalam Pilpres 2019 adalah pertarungan hidup mati. Die Hard. Mereka tidak main-main. Bahkan menggunakan konsultan politik dari Amerika.

Untuk menjaga kondusifitas negara, tentu saja semua komponen diinstitusi terkait tentu harus bekerja ekstra keras dalam hal intelejen. Semua harus diantisipasi . Indonesia harus aman dan terkendali.

Coba bayangkan jika terjadi apa apa pada seorang ABB? Coba bayangkan jika ujug-ujug ABB meninggal dunia? Tentu urusannya bisa runyam. Boleh jadi akan terjadi geger menjelang Pemilu. Akan digoreng habis-habisan. Bahkan boleh jadi Indonesia mengalami keos.

Jokowi tidak butuh sanjungan. Beliau tahu apa yang harus diperbuat untuk Bangsa Indonesia sebagaimana mana beliau mengangkat seorang Ibu Susi Pujiasti. Beliau saat itu juga dikritik habis-habisan karena mengangkat preman wanita untuk menjadi menteri. Ya, to?

Ngluruk tanpo bolo, menang tanpa ngasorake, tidak ada dendam diantara anak bangsa. Menatap ke depan itu lebih baik bagi bangsa ini ketimbang harus meratapi para korban yang sudah tenang di surga. Ini yang sepertinya sedang dilakukan Jokowi. Doa terbaik bagi para korban teroris adalah hal yang terpuji.

Kebesaran jiwa Jokowi yang suka merangkul dan tidak suka memukul, terbukti telah melelehkan kerasnya hati seorang Tuan Guru Bajang, Pak Mahmud MD serta tokoh-tokoh nasional yang mencintai negeri ini.

Dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Dendam justru akan menimbulkan masalah baru. Yakinlah, kputusan Jokowi membebaskan ABB demi sebuah hal yang lebih besar. Demi Bangsa Indonesia.

Sulit memang memahami seorang Jokowi…

2 COMMENTS

  1. “Menebak langkah Jokowi dalam percaturan politik seperti menangkap angin. Orang kebanyakan akan terbengong-bengong bingung dan bahkan murung.”

    Ini pernyataan yang sangat masuk akal dan terjadi sekarang ini di negeri ini. Mempelajari pemikiran dan sikap praktis presiden Jokowi . . . wow sepertinya harus lebih dahulu mendalami dan mempelajari pemikiran sendiri he he . . .

    Jelas memang ada positif dan negatifnya bagi petahana Jokowi soal pembebasan Abu Bakar Ba’asyir (ABB), terutama dalam menghadapi pilpres 2019. Banyak resiko dan bahayanya kalau ABB masih di penjara dengan usianya sudah lanjut. Oposisi politik Jokowi bisa memanfaatkan dan Jokowi bisa kelabakan. Berlainan halnya kalau ABB bebas berada diluar penjara dan mengurus hidupnya sendiri bersama keluarg.

    Dari segi lainnya kalau ditinjau dari perubahan perpolitikan dunia yang begitu cepat itu. Soal terorisme prof. Chossudovsky bilang: ‘terrorism made in USA”. Dan ini sejalan juga dengan pernyataan Trump yang sejak semula sudah bilang kalau Obama dan Clinton adalah ‘founder’ dari teroris ISIS. Jadi pernyataan ‘made in USA’ prof Chossudovsky tidak lepas dari adanya ketika itu di Gedung Putih adalah sosok Obama dan Clinton. Kedua orang ini adalah boneka globalist NWO pemerakarsa tyrani global itu. Trump bukan boneka globalis NWO, Trump adalah seorang nasionalis anti globalis, anti NWO, menurut pengakuannya sendiri.

    Adanya Trump sebagai presiden USA, sepertinya USA tidak bisa lagi dipakai sebagai fabrik terorisme, atau ‘terrorism made ini USA’ seperti dikatakan Chossudovsky itu, karena sudah punya halangan besar dengan adanya Trump di Gedung Putih. Dan tidak heran juga kalau terorisme semakin meredup seluruh dunia!

    Dengan semakin luasnya dan mendalamnya informasi dan pengetahuan soal terorisme, semakin jelas bagi publik dunia dan juga Indonesia kalau orang-orang seperti ABB sangatlah jauh dari centrum (pusat) dan tujuan terorisme dunia itu. Obama dan Clinton sajapun sudah tidak terpakai, apalagi ABB. Jadi pembebasan ABB sangat tepat momentnya dilihat dari segi perubahan dan perkembangan dunia soal terorisme, dan juga dari segi politik praktis pilpres 2019.

    Terorisme sepertinya sudah tidak laku, dan digantikan saat ini dengan ‘perang sivil’ yang lebih efektif dari terorisme, model perang Yemen. Ditinjau dari sudut usaha NWO itu, civil war ini merupakan proxy war, memanfaatkan Saudi dan Iran sebagai basis Sunni dan Shia. Dua jenis Islam ini masih akan dipakai lama sebagai sumber perpecahan, pertikaian dan perang, alat utama divide and conquer dunia.

    MUG

  2. “Sulit memang memahami seorang Jokowi…”
    Inilah dia, kesimpulannya . . . memahami Jokowi kayaknya lebih dulu harus bisa memahami diri sendiri, he he . . . Dan memahami seorang Jokowi . . . lahir ke dunia sebagai pemimpin hanya seibu tahun sekali.

    Saya jadi teringat juga kesulitan dunia memahami seorang Trump, presiden AS itu. ““As so often with Trump, there aren’t historical precedents” kata Tim Weiner seorang penulis sukses soal CIA. Tak ada bandingannya dalam sejarah AS sejak kemerdekaannya. Berapa orang di Indonesia atau di AS yang bisa memahami Trump?

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.