Puisi: MENANTI TJAHAYA PURNAMA

0
196

Oleh: Maria Fatima Anmuni (Kupang, NTT)

Kota tua itu makin sepi beberapa waktu yang lalu 
Malam hari gelap gulita Tjahaja Benderang tak ada 
Di jalan sepi rumah-rumahpun senyap 
Siang hari suara mesin seolah tak terdengar lagi 
Tak ada sapa diantara pejalan kaki 

Anak jalanan tak tahu harus ke mana kakinya

Nanar berjalan tanpa arah menyusuri lorong-lorong di kota itu
Kaum papa tak tahu harus ke mana lagi mengadu suara-suara hanyalah seperti angin berlalu 
Mereka enggan untuk ke sana

Rumah itu sudah dipagari padahal dulunya terbuka bagi mereka 
Kota tua itu dulu asri nan nyaman setelah ditinggal pergi berubah menjadi muram dan makin muram.

Hijau kini menjadi coklat
Wajah kota tua itu berubah entah siang ataupun malam
Hilir mudik yang membuat silau pandangan

Di sana di jalanan ada banyak pertujukan kisah hidup yang sama-sama diperankan oleh manusia entah siapakah yang masih mengiba pada yang lemah

Besok Tjahaja itu ada lagi menyinari kegelapan

Besok roda penggerak itu ada lagi menghidupkan mesin yang diam beberapa waktu lalu

Besok akan hadir lagi sosok Pembela Rakyat Kecil di kota tua itu 
Besok, Tjahaja itu ada lagi menyinari gelapnya hati para korup

Semoga kota tua itu berseri Lagi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.